UT Siapkan Sekolah Vokasi 2027, Tiga Prodi Baru Fokus Cetak Lulusan Siap Kerja

Universitas Terbuka (UT) kembali memperluas perannya dalam menyediakan akses pendidikan tinggi yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Kampus yang dikenal dengan sistem pendidikan jarak jauh ini akan segera menghadirkan Sekolah Vokasi yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Mei 2027. Kehadiran program ini menjadi langkah lanjutan UT dalam memperkuat pendidikan berbasis keterampilan yang dapat diakses secara merata oleh masyarakat di seluruh Indonesia, tanpa terkendala jarak dan lokasi.

Pada tahap awal, UT akan membuka tiga program studi (prodi), yaitu Akuntansi Bisnis Digital, Teknologi Informasi, dan Manajemen Logistik. Ketiga prodi tersebut akan dibuka secara serentak melalui seluruh jaringan kantor layanan UT di Indonesia. Dengan model ini, UT memastikan bahwa akses pendidikan vokasi tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah yang lebih luas, sejalan dengan karakter UT sebagai perguruan tinggi yang terbuka bagi semua kalangan.

Direktur Sekolah Vokasi UT, Mohamad Yunus, menjelaskan bahwa persiapan pembukaan program ini saat ini masih terus dilakukan secara intensif. Target operasional ditetapkan pada Mei 2027 sebagai awal penyelenggaraan perkuliahan. “Insyaallah buka mulai Mei 2027 paling untuk tiga program studi dulu ya. Akuntansi Bisnis Digital, kemudian Teknologi Informasi sama Manajemen Logistik,” ungkap Yunus, Senin (20/4/2026).

Setelah tahap awal berjalan, UT juga telah menyiapkan pengembangan lanjutan dengan rencana penambahan sekitar empat hingga lima program studi baru. Pengembangan ini disusun sebagai respons terhadap kebutuhan industri yang terus berkembang, khususnya di bidang teknologi digital, data, dan sistem logistik global. Dengan demikian, UT tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga memastikan relevansi lulusan terhadap kebutuhan pasar kerja.

Dalam pelaksanaannya, Sekolah Vokasi UT menitikberatkan pada pembelajaran berbasis praktik. Sekitar 60 hingga 70 persen proses pembelajaran akan difokuskan pada praktik langsung, sementara sisanya teori di kelas. “Tetapi karena sekolah vokasi itu wajib praktik 60 sampai 70 persen kan? Makanya saya sih menyarankan mereka harus sadar ini agak berbeda dengan fakultas,” jelas Yunus. Model ini dirancang agar mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja setelah lulus.

Untuk mendukung jangkauan nasional, UT juga mengintegrasikan pembelajaran daring melalui tutorial online serta praktikum digital. Sistem ini memungkinkan mahasiswa dari berbagai daerah tetap dapat mengikuti proses pembelajaran secara fleksibel tanpa mengurangi kualitas pendidikan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat peran UT sebagai penyedia pendidikan tinggi berbasis teknologi yang inklusif.

Dari sisi pembangunan berkelanjutan, langkah UT ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas yang menekankan pemerataan akses pendidikan. Selain itu, program ini juga mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penyiapan lulusan yang siap kerja, serta SDG 10 tentang Pengurangan Kesenjangan dengan membuka akses pendidikan bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Dengan hadirnya Sekolah Vokasi ini, UT menegaskan kembali perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menyediakan pendidikan, tetapi juga membuka peluang. Melalui sistem pembelajaran yang fleksibel, berbasis praktik, dan menjangkau seluruh wilayah, UT terus memperkuat misinya menghadirkan pendidikan berkualitas tanpa batas bagi semua.