Di sela jeda kerja, seorang barista membuka laptop dan menatap modul kuliah dengan mata yang masih menyimpan lelah. Di sudut lain dunia, seorang pekerja pabrik menyimak diskusi daring setelah shift panjang yang menguras tenaga, sambil menahan rindu pada rumah yang jauh. Ini bukan kisah langka, melainkan realitas baru generasi Indonesia hari ini—mereka yang menolak berhenti bermimpi hanya karena keadaan, dan memilih menapaki dua jalan sekaligus: bekerja dan belajar, bertahan sekaligus bertumbuh dalam diam.

Kegiatan Kemahasiswaan Mahasiswa UT Layanan Luar Negeri di Jepang yang Tergabung dalam Organisasi Mahasiswa, Perma UT Jepang
Fenomena bekerja sambil kuliah kini menjelma menjadi strategi hidup yang kian relevan, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di luar batas Indonesia, terutama bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjalani hari-hari dengan ritme cepat dan tuntutan tinggi. Di tengah semua itu, Universitas Terbuka (UT) hadir bukan sekadar sebagai kampus, melainkan sebagai ruang harapan yang memungkinkan mimpi tetap berjalan—tanpa harus mengorbankan pekerjaan yang menjadi sandaran hidup.
Kenapa Banyak PMI Diam-Diam Pilih Jalan Ini? Jawabannya Ada di Sini

Wisuda Universitas Terbuka di Jepang, Januari 2026
Didirikan pada 4 September 1984 melalui Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1984, Universitas Terbuka merupakan Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia yang mengusung Sistem Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTTJJ). Namun lebih dari sekadar sistem, UT membawa sebuah gagasan besar yang terasa sangat manusiawi: pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang harus bekerja, merantau, atau terhalang jarak dan waktu.
Dengan semangat “Making Higher Education Open to All”, UT menghapus sekat-sekat yang selama ini terasa kaku dalam dunia pendidikan tinggi, mulai dari batas usia, status sosial, hingga tahun kelulusan. Di saat banyak orang harus memilih antara bekerja atau kuliah, UT justru menawarkan jalan tengah yang realistis—keduanya bisa berjalan beriringan, tanpa harus saling mengorbankan.
Fleksibilitas menjadi nafas utama sistem pembelajaran di UT, di mana mahasiswa dapat mengatur sendiri ritme belajarnya melalui pendekatan mandiri yang didukung oleh Tutorial Online (Tuton), sehingga perkuliahan tidak lagi terikat ruang kelas, melainkan bisa hadir di mana saja—di kamar sempit perantauan, di sela perjalanan, atau bahkan di balik meja kerja. Di sisi lain, biaya pendidikan yang terjangkau sebagai perguruan tinggi negeri menjadikan UT semakin inklusif, membuka peluang bagi siapa saja, termasuk PMI, ekspatriat, ibu rumah tangga, hingga pekerja di berbagai sektor, untuk kembali melanjutkan pendidikan.
Pilihan program studinya pun tidak setengah-setengah, dengan empat fakultas utama yang mencakup Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dengan enam program studi seperti Manajemen dan Akuntansi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) dengan delapan program studi seperti Ilmu Komunikasi dan Ilmu Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan 11 program studi untuk mencetak tenaga pendidik, serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dengan tujuh program studi seperti Sistem Informasi dan Agribisnis. Tak hanya itu, UT juga menyediakan program vokasi seperti Perpajakan dan Kearsipan yang siap pakai di dunia kerja, serta Sekolah Pascasarjana dengan sembilan program Magister dan Doktor bagi mereka yang ingin melangkah lebih jauh.
Kuliah Fleksibel Tapi Nggak Main-Main: Ini “Mesin” di Balik Sistem UT

Mahasiswa UT Bekerja Sambil Kuliah
Di balik fleksibilitas yang terasa “ringan”, UT tetap membangun sistem yang kuat dan terstruktur agar mahasiswa tidak kehilangan arah dalam perjalanan akademiknya, dimulai dari registrasi daring yang praktis hingga pemberian Buku Materi Pokok (BMP) sebagai fondasi utama belajar mandiri, yang kemudian diperkuat melalui Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ) seperti Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB), pelatihan keterampilan belajar, workshop tugas, hingga klinik ujian.
Mahasiswa memang dituntut mandiri, tetapi tidak pernah benar-benar sendiri, karena UT menyediakan berbagai skema pembelajaran seperti Tutorial Online (Tuton), Tutorial Tatap Muka (TTM), hingga Tutorial Webinar (Tuweb) yang menjaga interaksi akademik tetap hidup meskipun tanpa ruang kelas fisik. Untuk evaluasi, UT menawarkan fleksibilitas melalui ujian berbasis kertas maupun digital, termasuk Ujian Online Remote Proctoring (UORP) hingga Automated Online Proctoring (AOP) berbasis kecerdasan buatan yang memastikan integritas akademik tetap terjaga.
Ekosistem ini semakin lengkap dengan dukungan fasilitas seperti UT-TV, UT Radio, akses Microsoft Office 365, hingga layanan administrasi yang terintegrasi sampai wisuda, sementara kualitas tetap dijaga melalui akreditasi BAN-PT, keanggotaan International Council for Open and Distance Education (ICDE), serta standar mutu ISO 9001:2015. Di saat yang sama, UT juga menjalin kolaborasi strategis dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), serta KBRI, KJRI, KDEI, dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di berbagai negara, guna memastikan bahwa hak belajar para PMI tetap terlindungi, bahkan diperkuat dengan MoU yang memberi legitimasi bagi mereka untuk mendapatkan izin belajar dari perusahaan tempat bekerja.
Lebih dari Sekadar Bekerja: Saat Gelar Membuka Jalan Baru

Direktur UT LLN, Dr. Pardamean Daulay S.Sos., M.Si. bersama Alumni UT Layanan Luar Negeri dari Jepang, Faried Hidayat
Jejak UT kini tidak hanya tersebar di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia, dengan total 757.955 mahasiswa dan 8.455 di antaranya berada di luar negeri, tersebar di 90 kota di 55 negara, di mana Jepang menjadi episentrum dengan 3.283 mahasiswa yang tersebar dari Hokkaido hingga Okinawa, bekerja di sektor manufaktur, kesehatan, hingga jasa, namun tetap setia menjalani peran sebagai mahasiswa dengan standar akademik yang sama seperti di tanah air.
Motivasi mereka sering kali sederhana, tetapi penuh makna: pulang dengan lebih dari sekadar uang, melainkan membawa gelar, kompetensi, dan kepercayaan diri untuk membuka peluang baru—baik sebagai ASN, profesional, maupun wirausahawan. Untuk mendukung itu, UT juga melakukan sosialisasi melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) serta menjajaki kerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Jepang (Japinda) agar alumni memiliki akses karier yang lebih luas dan kesempatan peningkatan level pekerjaan.
Kisah-kisah nyata pun bermunculan dan terasa begitu dekat, seperti Adi Latif Mashudi yang kini menjadi Duta Pertanian Nasional setelah menempuh studi dari Korea Selatan, Yulianti Suryawardhani Yudo yang berhasil meraih beasiswa Erasmus Mundus, hingga Faried Hidayat di Jepang yang sempat diragukan karena kuliah, tetapi akhirnya dipromosikan menjadi akuntan tetap setelah membuktikan kemampuannya. Ada pula Suma yang kini menjadi Kepala Desa di Cirebon, serta Hendri Setyawan yang mengabdi sebagai ASN di Lumajang, yang menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya mengubah status, tetapi juga mengubah arah hidup seseorang secara utuh.
Pada akhirnya, di balik layar-layar kecil yang menyala di malam hari itu, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat, ada lelah yang tidak selalu terucap, dan ada harapan yang terus dijaga agar tidak padam. Universitas Terbuka hadir di ruang-ruang sunyi itu—bukan hanya sebagai penyedia pendidikan, tetapi sebagai teman perjalanan yang memastikan bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, mimpi tidak pernah kehilangan arah untuk pulang.



