Tiga Medali SEA Games, Satu Prinsip: Pendidikan Tak Boleh Berhenti

Tidak semua juara lahir dari sorak sorai. Sebagian justru tumbuh dari kebiasaan sederhana, dari pagi yang sunyi, dan dari kayuhan sepeda yang diulang tanpa banyak penonton. Bagi Ayustina Delia Priatna, dunia balap sepeda hadir perlahan, dikenalkan sejak kecil oleh sosok yang paling dekat dengannya: sang kakek, mantan atlet sekaligus pelatih. Dari seringnya mengikuti sang kakek melatih, mencoba bermain sepeda, hingga akhirnya diyakinkan bahwa ada potensi yang bisa dikembangkan, benih itu tumbuh pelan tapi pasti.

Dorongan untuk menekuni balap sepeda datang di usia 15 tahun. Saat itu, Ayustina mulai serius berlatih dan mengikuti ajang Porda Jawa Barat. Hasilnya emas. Dari titik itulah karier profesionalnya dimulai. Ia masuk tim nasional youth sejak awal karier hingga kini menjadi atlet elite. Jalannya tidak selalu mulus, tetapi konsistensi dan disiplin membuatnya terus bertahan di lintasan kompetisi tertinggi.

Perjalanan panjang itu kembali berbuah manis di SEA Games 2025 Thailand. Ayustina, mahasiswi Universitas Terbuka (UT) Bandung Program Studi Manajemen, tampil impresif dengan meraih tiga medali sekaligus: emas nomor Individual Time Trial, serta dua medali perunggu dari Women Track Scratch dan Individual Road Race. “Alhamdulillah ini emas kedua saya untuk nomor ini di SEA Games, setelah sebelumnya di Vietnam,” ungkapnya.

Meski sama-sama menghasilkan medali emas, pengalaman di Thailand terasa berbeda. Sistem dan program latihan jauh lebih kompleks, tekanan dari luar lebih besar, dan ekspektasi semakin tinggi. Namun semua itu bisa dilalui dengan baik. Tiga nomor yang diikutinya memiliki karakter berbeda—jarak, rute, dan dinamika balapan yang tak sama. Dengan porsi latihan yang tepat, Ayustina mampu menyesuaikan diri. Kendala tetap ada, sesuatu yang wajar bagi atlet, tetapi ia menegaskan telah memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

Di balik padatnya jadwal latihan dan kompetisi internasional, Ayustina tetap memegang satu prinsip penting: pendidikan tidak boleh ditinggalkan. Keinginannya untuk kuliah sempat terhambat karena seringnya mengikuti pertandingan dan training camp ke luar negeri. Hingga akhirnya Universitas Terbuka menjadi solusi. Rekomendasi dari teman serta pengalaman anggota keluarga yang menempuh studi di UT menguatkan pilihannya.

Sebagai mahasiswa UT, Ayustina menjalani ritme yang disiplin. Latihan pagi, kadang berlanjut sore, lalu malam atau hari senggang dimanfaatkan untuk belajar. Sistem pembelajaran daring memungkinkannya tetap mengikuti perkuliahan tanpa harus hadir secara fisik di kampus. Komunikasi dengan dosen pun tetap berjalan. “Kesulitan atlet itu membagi waktu. Semuanya jadi lebih mudah karena online,” ujarnya.

Pengalaman belajar di Universitas Terbuka membuat aktivitas akademik tetap berjalan seiring dengan agenda latihan dan pertandingan. Di mana pun berada, proses belajar tetap bisa diakses. Fleksibilitas inilah yang membuat Ayustina merasa terbantu menjalani dua peran sekaligus: atlet nasional dan mahasiswa.

Bagi Ayustina, makna medali bukan semata soal kemenangan. “Makna semua medali bagi saya adalah segalanya, semangat baru dan langkah yang baik untuk terus maju ke depan,” katanya. Nilai yang ia tanamkan sederhana namun kuat: komitmen pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik, disiplin, serta kemampuan mengatur prioritas.

Kisah Ayustina juga merefleksikan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama Pendidikan Berkualitas (SDG 4), Kesetaraan Gender (SDG 5), serta Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDG 3). Ia menunjukkan bahwa perempuan dapat berprestasi di olahraga berintensitas tinggi tanpa harus meninggalkan pendidikan.

Melalui Ayustina, Universitas Terbuka menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang inklusif dan adaptif. UT bukan hanya ruang belajar, tetapi juga rumah bagi mahasiswa berprestasi yang memberi dampak nyata di tingkat nasional hingga global. Dari lintasan balap sepeda hingga ruang belajar daring, Ayustina terus mengayuh—dengan komitmen, disiplin, dan keyakinan untuk terus maju.