Ngopi, Ngobrol, dan Ngerancang Masa Depan ala Mahasiswa UT Surabaya

Aroma kopi memenuhi sebuah kafe di kawasan Wiyung, Surabaya, Minggu (4/1/2026). Tapi sore itu, orang-orang yang duduk di balik meja kayu bukan cuma datang buat nongkrong atau kabur sebentar dari rutinitas. Belasan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) dari berbagai usia berkumpul untuk satu tujuan: ngobrolin mimpi yang sempat tertunda. Pertemuan ini digagas oleh calon pengurus Himpunan Mahasiswa (HIMA) UT Surabaya.

Di tengah obrolan yang santai tapi serius, Mawardi tampak fokus berbagi cerita. Mahasiswa Ilmu Hukum ini kuliah bukan demi titel. Buatnya, setiap modul yang dipelajari adalah bekal untuk menjawab kegelisahannya soal ketimpangan hukum di Indonesia. Ia melihat sendiri bagaimana hukum sering terasa rumit dan jauh dari masyarakat kecil. “Ilmu itu harus punya dampak,” katanya singkat, tapi tegas.

Cerita Mawardi langsung nyambung dengan semangat Satria dan Zaza. Zaza menikmati dunia hukum karena menuntut ketelitian dan keberanian berpikir kritis. Sementara Satria punya alasan yang lebih personal. Ia tumbuh melihat hak-hak buruh kerap diabaikan. Lewat pendidikan di UT, ia ingin ikut berperan agar para pekerja mendapat perlindungan yang layak. Tanpa disadari, obrolan mereka sejalan dengan semangat SDG poin 16: memperkuat keadilan dan institusi yang berpihak pada masyarakat.

Bukan cuma soal hukum, UT juga jadi tempat belajar untuk bangkit secara ekonomi. Alfin, mahasiswa Manajemen, dengan jujur mengaku pernah jatuh bangun di dunia bisnis. Pengalaman gagal membuatnya sadar bahwa niat besar tanpa manajemen yang rapi hanya berujung jalan buntu. Kini, berbekal ilmu dari UT, ia mulai menata ulang bisnis kulinernya dan mencoba peruntungan di bidang kecantikan. Bagi Alfin, pendidikan adalah jalan paling masuk akal untuk naik level.

Diskusi makin seru saat Aji, Alya, dan Salman ikut angkat suara. Mereka adalah mahasiswa yang juga aktif bekerja di bidang komunikasi dan pariwisata. UT, bagi mereka, adalah solusi realistis. Tidak perlu memilih antara kerja atau kuliah—dua-duanya bisa jalan bareng. Meski begitu, mereka berharap sistem akademik digital UT terus berkembang agar makin nyaman di tengah ritme hidup yang serba cepat.

Sore itu jadi gambaran nyata peran Universitas Terbuka Surabaya sebagai ruang belajar yang inklusif dan relevan dengan kehidupan nyata. UT bukan sekadar tempat kuliah, tapi wadah bagi siapa pun yang ingin tumbuh—baik secara intelektual, profesional, maupun ekonomi—tanpa dibatasi usia dan latar belakang. Di sini, pengusaha muda, calon praktisi hukum, hingga pekerja di sektor pariwisata mendapat kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Dari pertemuan sederhana di kafe itu, para mahasiswa pulang dengan satu keyakinan: UT memberi ruang, waktu, dan harapan untuk menyelesaikan pendidikan sekaligus menata masa depan.