Tangerang Selatan, 2 Januari 2026 —Purwakarta selalu punya caranya sendiri untuk membentuk manusia. Di antara semilir angin perbukitan dan aroma sate maranggi yang akrab, lahirlah seorang gadis yang kelak memilih jalan sunyi namun bermakna: menjaga kebenaran lewat kata-kata. Pada 14 Januari 2002, Siti Aminah memulai hidupnya dari kota yang tenang, membawa satu impian sederhana—memahami dunia melalui tulisan.
Lingkungan yang hangat dan kental dengan nilai kekeluargaan menumbuhkan kepekaan Aminah sejak dini. Ia terbiasa mengamati, mendengar, dan menyimpan cerita-cerita kecil di sekitarnya. Dari situlah tumbuh keberanian untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi turut memberi makna pada realitas. Pilihan itu membawanya pada dunia jurnalistik—sebuah jalan yang menuntut keteguhan hati, ketajaman nalar, dan keberanian berdiri di tengah pusaran informasi.
Sejak Agustus 2023, Aminah mengabdikan dirinya sebagai jurnalis muda di bawah naungan Media Sukri Indonesia (MSI Group). Bagi Aminah, profesi wartawan bukan soal mengejar kecepatan berita, melainkan tentang tanggung jawab menyampaikan fakta dengan utuh. “Awalnya saya hanya suka menulis dan penasaran dengan banyak hal. Dari situ saya merasa jurnalistik memberi ruang untuk belajar sekaligus menyuarakan fakta kepada publik,” ujarnya, Kamis (1/1/2026). Kalimatnya sederhana, tetapi memuat keyakinan yang kokoh.
Di balik aktivitas liputan yang padat—menyusuri keresahan warga, mencatat suara-suara yang kerap terpinggirkan—Aminah menjalani satu peran penting lainnya: mahasiswa Universitas Terbuka. Di sinilah cerita perjuangannya menemukan dimensi baru. UT bukan sekadar institusi pendidikan baginya, melainkan ruang yang memungkinkan mimpi akademik dan panggilan profesi berjalan beriringan.
Sebagai mahasiswa UT, Aminah belajar mengelola waktu, disiplin, dan tanggung jawab secara mandiri. Fleksibilitas sistem pembelajaran UT membuatnya tetap dapat mengikuti perkuliahan di sela-sela tugas jurnalistik, bahkan ketika lokasi liputan berpindah-pindah. Pendidikan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dikorbankan demi pekerjaan, tetapi justru menjadi penopang untuk memperkaya sudut pandang dan ketajaman berpikirnya sebagai jurnalis. Dalam praktiknya, Aminah adalah contoh nyata bagaimana akses pendidikan tinggi yang inklusif—sebagaimana cita-cita SDG 4—dapat memberdayakan generasi muda yang aktif di dunia profesional.
Di tengah derasnya arus informasi digital yang rawan disusupi hoaks, Aminah memahami bahwa integritas adalah satu-satunya kompas yang harus ia pegang erat. Ia memilih untuk tetap berjalan di jalur verifikasi yang melelahkan, meski godaan untuk menjadi “yang tercepat” selalu ada. “Wartawan profesional harus menjadi penyaring informasi. Bukan hanya cepat, tapi akurat dan bertanggung jawab,” tegasnya. Prinsip ini menjadikan perannya bukan sekadar pencari berita, melainkan penjaga kualitas informasi—sebuah kontribusi penting bagi terwujudnya masyarakat yang adil dan beradab, sejalan dengan semangat SDG 16.
Kini, langkah Aminah terus bergerak maju. Ia tengah mempersiapkan diri mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) jenjang Madya. Namun baginya, sertifikasi bukan sekadar target administratif. UKW adalah ruang refleksi—sejauh mana ia telah konsisten berdiri di sisi kebenaran, dan sejauh apa ilmunya dapat memberi manfaat bagi publik.
Kisah Siti Aminah menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Terbuka bukan hanya pembelajar di ruang virtual, tetapi juga pelaku nyata di tengah masyarakat. Dari Purwakarta hingga ruang-ruang redaksi, dari bangku kuliah hingga medan liputan, Aminah membuktikan bahwa dengan akses pendidikan yang tepat, fleksibel, dan inklusif, serta integritas yang dijaga sepenuh hati, siapa pun dapat menjadi cahaya di tengah derasnya arus informasi dunia.



