Dari Seremonial ke Transformasi: Pelantikan Pejabat UT dan Babak Baru Organisasi

Tangerang Selatan – Di tengah dinamika perubahan pendidikan tinggi, Universitas Terbuka mengambil satu langkah penting. Pelantikan pejabat yang berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Jumat (30/1/2026), bukan sekadar menandai pergantian jabatan struktural, melainkan menjadi momen penegasan transformasi kelembagaan UT pasca berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). Dari ruang UTCC, UT mengirimkan pesan jelas: organisasi ini tengah menata ulang dirinya agar lebih lincah, kokoh, dan siap menjawab tantangan pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh di masa depan.

Pelantikan tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Terbuka Nomor 333 Tahun 2026 tanggal 28 Januari 2026 tentang pemberhentian dengan hormat pejabat di lingkungan Universitas Terbuka, yakni (nama-nama terlampir), serta Surat Keputusan Rektor Universitas Terbuka Nomor 333 Tahun 2026 tanggal 28 Januari 2026 tentang pemberian tugas tambahan atau jabatan kepada (nama-nama terlampir) untuk kepentingan dinas. Kebijakan ini menjadi bagian dari penyesuaian struktur organisasi dan tata kelola (SOTK) UT yang dirancang untuk menjawab dinamika internal maupun tuntutan eksternal yang kian kompleks.

Rektor Universitas Terbuka Prof. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. dalam sambutannya menegaskan bahwa momentum ini menandai fase baru perjalanan UT yang telah melampaui empat dekade. Ia mengingatkan bahwa UT telah melalui transformasi panjang, mulai dari satuan kerja hingga Badan Layanan Umum, sebelum akhirnya berstatus sebagai PTNBH. “Hari ini menandai era baru setelah kita menjalani perjalanan Universitas Terbuka lebih dari 40 tahun, dengan menjalankan OTK dari Satker-BLU sampai dengan UT menjadi PTN Berbadan Hukum. Ini adalah perubahan kedua besar-besaran SOTK setelah pertama kali SOTK PTNBH,” ujar Ali.

Menurut Ali, perubahan SOTK ini disusun untuk menyesuaikan arah pembangunan nasional, termasuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang hingga 2045. UT membutuhkan organisasi yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga lincah dalam merespons perubahan dan semakin berorientasi pada pelayanan. Harapannya, SOTK baru ini benar-benar mampu menjawab tantangan visi dan misi UT sebagai penyelenggara pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh (PTJJ) berkualitas dunia.

Dalam kesempatan itu, Ali juga menyampaikan apresiasi kepada organ strategis universitas, khususnya Majelis Wali Amanat (MWA) dan Senat Akademik Universitas (SAU), yang dinilainya telah bekerja secara harmonis dalam mengokohkan SOTK baru. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting agar transformasi kelembagaan ini berjalan konsisten dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Ali menjelaskan bahwa perubahan SOTK diarahkan untuk mengokohkan kewibawaan akademik UT dan mengembalikan fokus institusi pada fitrahnya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada penguatan serta diseminasi ilmu pengetahuan. Fakultas, program pascasarjana, dan vokasi ditempatkan sebagai penggerak utama pengembangan program studi di bawah komando Rektor, sehingga arah akademik UT semakin terintegrasi.

Penguatan juga dilakukan pada peran UT Daerah yang diposisikan sebagai etalase sekaligus miniatur UT di wilayah masing-masing. UT Daerah dipandang memiliki peran sentral dalam memperluas daya jangkau layanan pendidikan, membangun reputasi, serta mempererat hubungan dengan masyarakat. Penataan formasi UT, lanjut Ali, dilakukan secara matang dan tidak instan, dengan mempertimbangkan masukan profesional, termasuk dari Lembaga Psikologi Universitas Indonesia, guna memastikan penempatan talenta terbaik. Dengan langkah ini, diharapkan UT semakin kondusif secara internal, produktif, berdampak, dan mampu bersaing di tingkat regional.

Dalam struktur baru tersebut, UT juga menghadirkan Sekretaris Universitas yang berperan sebagai penampung aspirasi, komunikator antarsatuan kerja, serta penguat fungsi evaluasi dan pengendalian, melengkapi peran KPM dan KPI. Penataan ini diperkuat dengan fokus pada layanan akademik, layanan UT Daerah, dan layanan pembelajaran khas PJJ, termasuk upaya mengembalikan fitrah dosen serta mendorong sistem ujian yang semakin fleksibel.

Menutup sambutannya, Ali berpesan kepada para pejabat yang baru dilantik agar memaknai amanah ini sebagai tanggung jawab kepemimpinan yang utuh. Seorang pemimpin, tegasnya, harus memiliki kualitas, kapabilitas, dan kompetensi, disertai integritas dan loyalitas kepada institusi. “Pemimpin juga harus memiliki akseptabilitas, membangun sinergi antara pimpinan dan staf di setiap unit, untuk bersama-sama membangun Universitas Terbuka menjadi lebih baik dan jaya,” ujarnya.

Pelantikan ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Terbuka terhadap pembangunan sumber daya manusia unggul dan penguatan institusi yang inklusif serta berkelanjutan, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas dan institusi yang kuat. Dari UTCC, UT melangkah dengan struktur baru dan semangat baru, menatap masa depan pendidikan tinggi yang semakin terbuka, menjangkau lebih luas, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Lampiran Dokumen