SENMASTER 2025 UT Kukuhkan Kolaborasi, Inovasi, dan Pemberdayaan untuk Negeri!

Tangerang Selatan, 20 November 2025 — Suasana hangat dan penuh energi terasa memenuhi ruang utama Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) saat ratusan peserta dari berbagai daerah berkumpul dalam gelaran SENMASTER 2025 dan Gelar Hasil bertema “Inovasi Tanpa Batas Menuju Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat Kolaboratif”. Forum tahunan ini kembali menjadi bukti bagaimana Universitas Terbuka (UT) menghadirkan pendidikan dan pengabdian masyarakat yang inklusif bagi seluruh lapisan, sejalan dengan upaya memperkuat agenda pembangunan berkelanjutan.

Tahun ini, SENMASTER menghadirkan 136 pemakalah dan 90 peserta Gelar Hasil dari UT, perguruan tinggi mitra, mahasiswa program PkM Kewirausahaan, hingga komunitas UMKM dari berbagai daerah. Mereka membawa ragam inovasi, mulai dari teknologi tepat guna, penguatan usaha lokal, hingga program literasi digital berbasis kearifan lokal. Area Gelar Hasil tampak hidup dengan diskusi dan pertukaran ide, memperlihatkan bagaimana kolaborasi melahirkan solusi nyata di lapangan.

Ketua LPPM UT, Prof. Dra. Dewi Artati Padmo Putri, M.A., Ph.D., membuka acara dengan refleksi menyentuh. Ia menyinggung video pembuka bertajuk Ami Loku Hai dari Nusa Tenggara Timur. “Mereka tetap ada di sana, tetapi Universitas Terbuka datang ke NTT dan hadir di 39 daerah di Indonesia. Kami tidak hanya hadir secara akademik, tetapi juga memberikan uluran untuk masyarakat agar dapat berdiri kembali, melangkah maju,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tahun 2025 UT memiliki 63 desa binaan dan lebih dari 200 UMKM yang telah dibantu melalui pendampingan finansial dan kepakaran dosen. Menurutnya, SENMASTER adalah wujud UT membangun masyarakat yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sejahtera—selaras dengan prinsip pemberdayaan SDGs.

Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya kegiatan ini bagi pemantapan misi besar UT. “UT mendatangi masyarakat bukan hanya membawa program akademik, tetapi juga inovasi pemberdayaan,” katanya. Ia berharap penyelenggaraan tahun depan menghadirkan lebih banyak kolaborasi pentaheliks—dosen, perguruan tinggi mitra, komunitas, masyarakat, hingga asosiasi UMKM. Dalam pandangannya, masyarakat Indonesia sebenarnya telah memiliki modal sosial luar biasa; tugas perguruan tinggi adalah membangkitkan potensi itu agar lebih berdaya dan berdampak.

Energi serupa juga disampaikan Dr. Eugenia Mardanugraha, Anggota Komisioner KPPU RI, yang menilai SENMASTER sebagai ruang penting di tengah dinamika ekonomi. Ia menegaskan bahwa inovasi hanya dapat berkembang dalam ekosistem pasar yang adil, kompetitif, dan tidak mematikan peluang UMKM. KPPU, tambahnya, memastikan kemitraan usaha kecil dan besar berjalan setara sehingga masyarakat dapat menikmati manfaatnya.

Dari perspektif pemerintahan, Staf Khusus Menteri UMKM, Hasby Muhammad Zamri, menekankan besarnya peran UT dalam rantai pemberdayaan nasional. “UMKM kita kuat bukan hanya karena dukungan negara, tetapi juga karena kolaborasi kampus seperti Universitas Terbuka,” ujarnya. Ia membuka peluang kerja sama, terutama dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui pendampingan UT terhadap UMKM binaan. “Universitas Terbuka bisa menjadi jembatan bagi bank maupun kementerian,” tambahnya.

Dalam sesi konferensi pers, Rektor UT menegaskan tekadnya menjadikan SENMASTER sebagai transenter pengembangan pengabdian masyarakat skala nasional. Sementara Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili memaparkan kiprah UT di Timor Leste yang membantu peningkatan nilai tambah kopi lokal dan mendorong kreativitas para pemuda di sana. Ketika ditanya soal jumlah UMKM binaan, Prof. Dewi menjelaskan bahwa UT menangani sekitar 300 UMKM per tahun, atau hampir 1.800 dalam enam kali pelaksanaan program.

SENMASTER 2025 menutup rangkaian acaranya dengan optimisme bahwa inovasi tidak lagi terbatas ruang, dan Universitas Terbuka terus menjadi rumah besar bagi siapa pun yang ingin berkembang tanpa hambatan geografis. Kegiatan ini kembali menegaskan bahwa UT bukan hanya perguruan tinggi yang memberikan kesempatan belajar bagi semua, tetapi juga motor penggerak kolaborasi yang mengangkat potensi masyarakat di seluruh pelosok negeri.