Kuliah Sambil Jaga Lapas? Bisa! Sistem Pendidikan Terbuka UT Ubah Paradigma “Akses Terbatas” Jadi “Kesempatan Tanpa Batas

Upaya memperluas akses pendidikan tinggi yang inklusif kembali dilakukan di lingkungan Pemasyarakatan Jawa Barat. Pada 13–14 November 2025, Tim SDM Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Jawa Barat mendampingi Universitas Terbuka (UT)—perguruan tinggi negeri yang dikenal sebagai pelopor sistem kuliah terbuka dan jarak jauh—untuk melakukan sosialisasi akademik di Lapas Subang, Lapas Purwakarta, dan Rutan Garut. Kehadiran UT membuka kesempatan baru bagi petugas maupun warga binaan untuk menempuh pendidikan tinggi secara fleksibel tanpa menghambat aktivitas mereka.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang telah ditandatangani antara Kakanwil Ditjenpas Jabar, Kusnali, dan pimpinan UT. Melalui kerja sama ini, UT berperan menyediakan akses pendidikan tinggi berbasis pembelajaran jarak jauh yang memungkinkan mahasiswa belajar dari mana pun, termasuk dari dalam lingkungan pemasyarakatan.

Feri Al Gifari Gaos dari Tim SDM Kanwil Ditjenpas Jabar menyampaikan bahwa sosialisasi bersama UT berjalan efektif dan diikuti dengan antusias. “Kami sudah lakukan sosialisasi pengembangan kompetensi melalui pendidikan semua jurusan selama dua hari yang diawali sejak tanggal 13 hingga 14 November 2025,” ujarnya, Jumat petang, 14 November 2025.

Dalam kegiatan tersebut, UT memberikan sosialisasi dan pendampingan akademik kepada dua kelompok sekaligus: calon mahasiswa baru yang berminat mendaftar serta mahasiswa aktif yang telah lebih dulu mengikuti perkuliahan di UT. Gaos menegaskan bahwa UT bukan hanya memberikan informasi pendaftaran, tetapi juga bimbingan mengenai pentingnya melanjutkan pendidikan tinggi dan cara memaksimalkan sistem pembelajaran jarak jauh yang mereka sediakan.

Respons positif datang dari para pegawai Pemasyarakatan yang menilai bahwa sistem belajar fleksibel dari UT sangat membantu mereka meningkatkan kompetensi tanpa mengganggu tugas harian.

“Pendidikan itu sangat bermanfaat bagi petugas dalam meniti karir ke jenjang yang lebih tinggi. Selain untuk memenuhi pola karirnya, para petugas Pemasyarakatan pun akan lebih memiliki intelektual tinggi yang mampu diterapkan pada setiap melaksanakan tugas,” jelas Gaos.

Ia menambahkan bahwa Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terus berkomitmen menghadirkan ASN yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas kinerja melalui instrumen seperti Rencana Pengembangan Kompetensi (Rembangkom).

Dalam konteks ini, peran UT menjadi sangat strategis. Sebagai pionir pendidikan terbuka di Indonesia, UT mampu menjangkau masyarakat luas termasuk unit pemasyarakatan yang jauh dari pusat pendidikan. Sistem pembelajaran fleksibel UT mendukung pencapaian SDGs, khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 10 tentang pengurangan kesenjangan.

Kolaborasi antara Ditjenpas Jabar dan UT menegaskan bahwa pendidikan tinggi kini benar-benar dapat diakses siapa saja. Di balik tembok pemasyarakatan, semangat belajar tetap tumbuh—membuktikan bahwa kualitas sumber daya manusia dapat berkembang dari mana pun selama ada kesempatan yang dibuka secara adil.