Gegap Gempita di Batam! INNODEL 2025 Jadi Ajang Adu Gagasan Pendidikan Global

Di tengah semangat memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia, Universitas Terbuka (UT) Batam kembali menorehkan prestasi membanggakan. Kampus yang dikenal dengan sistem belajar fleksibel ini menjadi tuan rumah International Conference on Innovation in Open and Distance Learning (INODEL) 2025, yang digelar di Hotel Aston Pelita, Batam, Selasa (4/11/2025).

Konferensi internasional yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan suasana akademik yang dinamis. Ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi — termasuk mahasiswa dari Batam hingga Johor, Malaysia — memadati ruangan untuk mendiskusikan masa depan pendidikan terbuka dan jarak jauh.

Kegiatan ini menjadi ajang berbagi gagasan global tentang pembelajaran terbuka dan inovasi digital dalam dunia pendidikan. Menariknya, tujuh profesor dari berbagai negara turut hadir sebagai narasumber utama, di antaranya Profesor Tsuneo Yamada dari Jepang dan Profesor Peter Reiman dari Universitas Sydney, Australia, bersama sejumlah profesor dari Indonesia.

Selain sesi akademik, panitia juga menghadirkan pameran produk dan hasil karya UMKM lokal di lokasi acara, menampilkan kolaborasi antara pendidikan, kewirausahaan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat — sejalan dengan misi keberlanjutan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Direktur UT Batam, Angga Sucitra Handrayana, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan yang diberikan oleh UT Pusat dalam penyelenggaraan konferensi ini.
“Alhamdulillah, terima kasih atas kepercayaan dari UT Pusat yang menyelenggarakan INODEL 2025 di UT Batam. Ini semakin memperkuat keyakinan mahasiswa dan masyarakat untuk terus memilih UT dalam melanjutkan pendidikan,” ujarnya usai pembukaan kegiatan.

Angga menegaskan, pelaksanaan INODEL 2025 bukan hanya sekadar kegiatan akademik, melainkan momentum untuk memperkuat posisi UT sebagai pelopor pendidikan tinggi jarak jauh di wilayah kepulauan. Ia mengungkapkan data menarik: dari sekitar 30.000 mahasiswa di Kepulauan Riau (Kepri), lebih dari 16.000 di antaranya menempuh studi melalui Universitas Terbuka.

“Ini membuktikan bahwa UT bukan sekadar alternatif, tapi menjadi pilihan utama masyarakat Kepri untuk melanjutkan pendidikan tinggi,” tegas Angga.

Menurutnya, kehadiran UT tidak hanya memberikan ijazah, tetapi juga menghadirkan kesempatan belajar tanpa batas geografis maupun waktu, terutama bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terpencil. “UT Batam sudah membuktikan, kami bisa menjangkau seluruh pelosok, bahkan ke daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau oleh perguruan tinggi konvensional,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik UT, Prof. Rahmat Budiman, menambahkan bahwa keunggulan UT terletak pada fleksibilitas sistem pendidikannya. “Di UT tidak ada batasan waktu penyelesaian. Mahasiswa bisa menyesuaikan dengan kondisi pekerjaan, keluarga, dan kehidupan mereka,” katanya.

Rahmat juga menyoroti pentingnya keberadaan UT di daerah kepulauan seperti Kepri yang memiliki lebih dari 2.000 pulau. “Kalau tidak ada Universitas Terbuka, saya kira Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kepri tidak akan setinggi sekarang. Orang yang tinggal di Pulau Galang, Anambas, dan pulau-pulau kecil lainnya tidak akan bisa mengakses pendidikan tinggi,” ujarnya.

Pandangan itu diperkuat oleh Asisten I Pemprov Kepri, Samsul Bahrum, yang mewakili Gubernur Ansar Ahmad dalam acara tersebut. Ia menegaskan bahwa keberadaan UT berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kepri.
“Kami yakin kontribusi UT terhadap peningkatan kualitas Indeks Pembangunan Manusia di Kepri ini merupakan bagian tak terpisahkan dari keberhasilan meningkatkan kemampuan dan pendidikan penduduk kita,” ujarnya.

Samsul menyebut, IPM Kepri saat ini mencapai 79,89 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di angka 75,02 persen. Angka ini menempatkan Kepri di posisi ketiga nasional setelah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.

Ia menambahkan, moto UT, “Making Education Open to All”, sangat relevan dengan kondisi geografis Kepri yang memiliki 2.028 pulau dan berbatasan langsung dengan empat negara: Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. “Program ini sangat tepat bagi Kepulauan Riau,” katanya.

Samsul bahkan berbagi pengalaman pribadinya membimbing mahasiswa UT yang kini sukses berkarier di pemerintahan. Ia juga menegaskan komitmen Pemprov Kepri dalam mendukung pendidikan tinggi dengan meluncurkan lebih dari 1.700 beasiswa pada tahun 2025, termasuk bagi mahasiswa UT.

“Kami ingin memastikan kesempatan belajar terbuka bagi siapa pun. Tahun ini, kami meluncurkan lebih dari 1.700 beasiswa pendidikan tinggi, dan kami berharap mahasiswa Universitas Terbuka juga dapat merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan INODEL 2025 di Batam, Universitas Terbuka kembali menegaskan perannya sebagai pionir pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh di Indonesia. Dengan semangat membuka akses tanpa batas, UT turut berkontribusi pada pencapaian SDGs 4: Pendidikan Berkualitas — menghadirkan pendidikan yang inklusif, setara, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat, di mana pun mereka berada.