Tangerang Selatan, 14 Oktober 2025 – Dunia boleh berubah cepat, tapi komitmen Universitas Terbuka (UT) untuk menghadirkan pendidikan berkualitas bagi semua tak pernah surut. Melalui penyelenggaraan Seminar Internasional The 7th Open Society Conference (OSC) 2025, UT kembali menunjukkan perannya sebagai kampus yang tak hanya membuka akses belajar tanpa batas, tapi juga menjadi ruang perjumpaan gagasan lintas bangsa.
Konferensi yang digelar secara hybrid di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), 14 Oktober 2025 ini, mengusung tema “Collaborative Digital Transformation for Social Inclusion: Innovations, Equity, and Global Lessons.” Bukan sekadar tema, melainkan sebuah pesan kuat bahwa transformasi digital seharusnya bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang keadilan sosial, kolaborasi, dan kebermanfaatan bersama. Kegiatan ini menghadirkan tokoh nasional Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A. sebagai pembicara kunci (keynote speaker).

Tahun ini, OSC menerima 132 abstrak dan 113 naskah penuh dari peneliti dan akademisi dunia. Sebanyak 104 berasal dari Indonesia, sementara sisanya datang dari Spanyol, Uni Emirat Arab, Taiwan, Malaysia, Irlandia, dan India. Dari total 113 pemakalah, 13 berasal dari Universitas Mulawarman, 30 dari UT, dan 70 dari berbagai universitas serta lembaga industri seperti PT PLN Energi Primer Indonesia.
Ruang lingkup penelitian difokuskan pada 9 bidang, yaitu:
Inclusive Urban Digital Governance
Digital Communication for Inclusive Societies
Legal Frameworks for Inclusive Digital Transformation
Bridging Communication Through Linguistic Diversity and Inclusion
Business Transformation in the Digital Era
Promoting social inclusion through Digital Taxation Initiatives
Transforming Libraries and Archives for Social Inclusion
Sustainable Uncertainity Politics in the Digital Age
Social Community Dynamics in the Digital Age
Dalam sambutannya, Rektor UT, Prof. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. menegaskan bahwa OSC bukan sekadar forum akademik, melainkan wujud nyata dari filosofi UT: membuka akses pendidikan tanpa sekat.
“Transformasi digital sejati adalah yang mampu memberdayakan semua orang, tanpa terkecuali. Pendidikan dan teknologi harus menjadi jembatan, bukan pembatas,” tegasnya.
Sementara Dekan FHISIP UT, Dr. Meita Istianda, S.IP., M.Si. menekankan bahwa kolaborasi global menjadi kunci untuk mewujudkan transformasi digital yang berkeadilan.
“Konferensi ini bukan hanya pertemuan akademisi, tapi ruang lahirnya ide dan kolaborasi nyata demi masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Dr. Nik Norliati Fitri Md Nor, Ph.D. dari Universiti Sains Malaysia, yang hadir mewakili co-host konferensi. Ia mengungkapkan apresiasi atas penyelenggaraan OSC dan sambutan hangat dari Universitas Terbuka.


“Merupakan kehormatan bagi saya untuk hadir di The 7th OSC ini. Konferensi ini menunjukkan bahwa kita semua memiliki keyakinan yang sama — bahwa pendidikan harus terbuka, inklusif, dan bisa diakses oleh siapa pun tanpa batasan,” tutur Dr. Nik Norliati. Ia pun menambahkan, konferensi ini menjadi wadah inspiratif untuk saling belajar, memperkuat kolaborasi, dan melahirkan inovasi baru yang mendukung pertumbuhan bersama.

Dari sisi nasional, Dr. Finnah Fourqoniah, S.Sos., M.Si., Dekan FISIP Universitas Mulawarman, juga menekankan pentingnya semangat belajar lintas universitas.
“Melalui konferensi ini, kita tidak hanya mempresentasikan penelitian, tapi juga berperan sebagai jembatan antara universitas. OSC menjadi ruang diskusi yang memperkuat kerja sama antara Universitas Terbuka, Universitas Mulawarman, dan banyak universitas lainnya,” ungkapnya dalam sesi daring.
OSC ke-7 ini menghadirkan sejumlah tokoh dunia seperti Prof. Dawn Mannay dari Cardiff University, Prof. Dr. Liu Day-Yang dari National Taiwan University of Science & Technology, Prof. Dr. Darmanto, M.Ed. dari UT, Hanna Keraf selaku Founder of Du Anyam, serta Dr. Nik Norliati Fitri Md Nor, Ph.D. dari Universiti Sains Malaysia.
Konferensi ini terselenggara melalui kerja sama UT dengan Universitas Mulawarman dan Universiti Sains Malaysia sebagai co-host, serta dukungan dari World Scientific Publishing dan IDSCIPUB sebagai mitra publikasi internasional. Dukungan juga datang dari berbagai pihak seperti ParagonCorp, PT Gramedia, Moratelindo, Bank BTN, BRI, Mandiri, BSI, dan Pos Indonesia.
Melalui forum ilmiah berskala global ini, UT kembali menegaskan perannya sebagai universitas terbuka yang bukan hanya memberikan akses pendidikan, tapi juga membangun ekosistem pengetahuan yang inklusif dan berkeadilan. Semangat ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan).
Lebih dari sekadar konferensi, Open Society Conference 2025 menjadi simbol bahwa pendidikan terbuka dapat menjadi kekuatan global yang mendorong perubahan sosial. Dengan kolaborasi lintas negara dan semangat inovasi digital yang berpihak pada manusia, UT sekali lagi membuktikan: pendidikan tanpa batas bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang terus diperjuangkan.


