Beijing, Tiongkok — 23 Oktober 2025 Konferensi Tahunan ke-38 Asian Association of Open Universities (AAOU) 2025 resmi berakhir dengan sukses di Beijing, Tiongkok. Selama empat hari, 20–23 Oktober, ajang bergengsi ini mempertemukan para pemimpin, akademisi, dan praktisi pendidikan terbuka dan jarak jauh (PTJJ) dari berbagai negara Asia dan dunia. Tahun ini, konferensi yang dihelat oleh Open University of China (OUC) mengusung tema “Transforming ODL for a Sustainable Lifelong Learning Society”, yang menegaskan arah baru pendidikan terbuka untuk membangun masyarakat pembelajar yang berkelanjutan.
Konferensi dibuka dengan Executive Committee Meeting ke-39 AAOU yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ali Muktiyanto, Presiden AAOU sekaligus Rektor Universitas Terbuka (UT), serta dimoderatori oleh Prof. Rahmat Budiman, Ph.D., Sekretaris Jenderal AAOU. Pertemuan tersebut membahas 15+1 agenda strategis yang mencakup tata kelola organisasi, kemitraan internasional, penjaminan mutu, serta arah pengembangan asosiasi ke depan. Berbagai tokoh pendidikan terkemuka hadir, di antaranya Prof. Masaya Iwanaga (OUJ, Jepang), Prof. Ko Songhwan (KNOU, Korea), Dr. Joane Serrano (UPOU, Filipina), dan Prof. Dr. Ahmad Izanee Awang (OUM, Malaysia). Pada hari yang sama, peserta juga mengikuti lokakarya penulisan ilmiah bertajuk “Write to Publish: Strategies for High-Impact Academic Papers” yang disampaikan oleh Prof. Kam-Cheong Li (HKMU).

Upacara pembukaan pada 21 Oktober menjadi sorotan utama, dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dunia pendidikan seperti Mr. Ren Youqun (Wakil Menteri Pendidikan Tiongkok), Prof. Ali Muktiyanto, Prof. Shahbaz Khan (UNESCO), dan Ms. Torunn Gjelsvik (ICDE). Dalam pidatonya, Prof. Ali Muktiyanto menekankan bahwa “kecerdasan digital adalah kunci pemerataan dan keberlanjutan pendidikan terbuka di Asia.” Sejumlah pakar internasional turut berbagi gagasan tentang peran kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran lintas generasi dalam sesi keynote, di antaranya Prof. Bart Rienties (OUUK), Prof. François Vellas (AIUTA), dan Prof. Bernhard Schmidt-Hertha (LMU Munich).
Memasuki hari ketiga, 22 Oktober, kegiatan berlanjut dengan sesi paralel dan kunjungan ke kampus pusat OUC yang memamerkan inovasi teknologi pembelajaran, termasuk program pendidikan bagi warga lanjut usia. Pada sore harinya, General Body Meeting menetapkan kepemimpinan baru AAOU untuk periode 2026–2028. Secara aklamasi, Dr. Wang Qiming, Presiden OUC, terpilih sebagai Presiden AAOU yang baru, menggantikan Prof. Ali Muktiyanto yang telah menuntaskan dua periode kepemimpinan (2020–2025) dengan sukses.
Hari terakhir, 23 Oktober, diwarnai forum diskusi panel lintas negara serta Upacara Penutupan yang sarat makna. Agenda penting di antaranya peluncuran buku “The History of AAOU” oleh Prof. Ali Muktiyanto, penyerahan sertifikat akreditasi kepada UPOU, serta pengumuman tuan rumah Konferensi AAOU ke-39 yang akan digelar di Filipina. Madam Fan Xianrui, Wakil Presiden OUC, menutup acara dengan pesan inspiratif tentang pentingnya kolaborasi antaruniversitas untuk menghadapi tantangan era digital.

Konferensi AAOU ke-38 menegaskan kembali komitmen universitas terbuka di Asia untuk memperkuat kolaborasi, mempercepat transformasi digital, serta menegakkan prinsip mutu dan inklusivitas. Di bawah kepemimpinan visioner Universitas Terbuka, AAOU berhasil memperkokoh perannya di tingkat global — membuka babak baru menuju masa depan pendidikan terbuka yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.


