93 Guru CLC di Sabah Dapat Sentuhan Ilmu Istimewa dari KRI Tawau dan Universitas Terbuka

Suasana Aula Nusantara, Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau, terasa berbeda pada 9 Agustus 2025. 93 guru dari berbagai Community Learning Center (CLC) di Sabah berkumpul dengan semangat meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak migran Indonesia di Malaysia. Kegiatan pelatihan peningkatan kompetensi Guru CLC ini merupakan hasil kolaborasi antara KRI Tawau dan Universitas Terbuka (UT) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional 2025. Kegiatan tersebut juga melibatkan dukungan dari FGV Holdings Berhad dan Universiti Malaysia Sabah (UMS).

Konsul RI Tawau dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari upaya besar untuk memperkuat identitas kebangsaan dan meningkatkan mutu pendidikan anak-anak Indonesia di Sabah. Saat ini, terdapat hampir 12.000 murid CLC di wilayah kerja KRI Tawau, dan jumlahnya terus bertambah seiring pendirian CLC baru oleh perusahaan-perusahaan perkebunan sawit.

Tak hanya sekarang, ternyata KRI Tawau aktif menjalankan program Consulate Goes to CLC dari 2024. Adapun kegiatannya seperti, upacara bendera, pembinaan nilai-nilai Pancasila, hingga distribusi buku kebangsaan ke sekolah-sekolah CLC. Program ini menjadi wujud nyata diplomasi pendidikan yang tidak hanya menyentuh aspek akademik, tetapi juga membangun karakter dan rasa cinta tanah air.

Ketua Tim UT, Anto Hidayat, M.Si menambahkan bahwa pelatihan ini berfokus pada tiga hal: literasi kebangsaan, asesmen pembelajaran, dan pengembangan media belajar. UT juga menyerahkan hibah pendidikan berupa laptop, proyektor, alat musik, dan baju adat untuk mendukung kegiatan belajar di CLC.

Sesi pelatihan dibuka dengan paparan Rika Aprianti, M.Pd., yang membahas inovasi asesmen pembelajaran non-digital, memberikan alternatif praktis bagi guru di daerah dengan keterbatasan teknologi. Dilanjutkan oleh Refisa Ananda, M.Pd., yang mempresentasikan karya para guru berupa media pembelajaran berbasis budaya lokal, menumbuhkan semangat kontekstual dalam pengajaran.

Bagian paling meriah adalah sesi “Gelar Karya Literasi Kebangsaan” yang dipandu oleh Erna Risnawati, M.Si., di mana guru dan siswa CLC menampilkan karya poster, video, dan proyek literasi bertema Indonesia. Tak ketinggalan, lomba mewarnai bertajuk “Keberagaman Budaya Indonesia” diikuti dengan antusias oleh 17 siswa CLC.

Acara ditutup dengan pelatihan dari Universiti Malaysia Sabah yang diisi oleh Dr. Mad Noor Bin Madjapuni, membawakan topik “Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran di Kelas”. Sesi ini membuka wawasan para guru tentang potensi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung metode mengajar yang lebih modern dan adaptif.

Pelatihan peningkatan kompetensi guru ini menjadi salah satu wujud nyata dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), yang menekankan pentingnya akses pendidikan inklusif bagi semua kalangan, termasuk anak-anak migran. Selain itu, sinergi dan kolaborasi antara KRI Tawau, Universitas Terbuka, perusahaan swasta, dan perguruan tinggi di Malaysia juga sejalan dengan tujuan berkelanjutan dengan membentuk kemitraan untuk mencapai tujuan (SDG 17).

Melalui kolaborasi ini, KRI Tawau dan Universitas Terbuka tidak hanya meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga menanamkan semangat nasionalisme dan membuka jalan bagi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif dan berdaya saing.