Inovasi PJJ Berkualitas Melintas Batas: Komitmen UT di Simposium OUJ
Sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang memiliki visi untuk menjadi World Class University, Universitas Terbuka (UT) kerap mengembangkan kiprahnya hingga ke kancah internasional. Sebagai pionir Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di Indonesia, UT selalu memanfaatkan kesempatan untuk bertukar perspektif dengan universitas di luar negeri yang memiliki sistem pembelajaran serupa. Upaya ini semakin nyata dengan partisipasi UT dalam simposium internasional yang digelar oleh Open University Japan (OUJ) pada 4 Desember 2024.


Simposium bertemakan “Open Higher Education Beyond Borders and Identities” ini menghadirkan pemangku kepentingan PJJ dari berbagai negara sebagai ajang berbagi wawasan dan inovasi. Acara dimulai dengan sambutan pembuka dari Presiden OUJ, Prof. Masaya Iwanaga, yang yang menyoroti pentingnya kerja sama global dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang inklusif. Sambutan ini dilanjutkan oleh Director of Next Generation Education Research Center, Prof. Hitoshi Nakagawa, yang menekankan peran teknologi sebagai fondasi utama dalam mengembangkan pendidikan jarak jauh.
UT, yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama dan Bisnis UT, Rahmat Budiman, M. Hum., Ph.D., turut membagikan pengalaman praktik baik dalam sesi bertema “Lesson Learned from Universitas Terbuka: Providing Quality Education Across the Border”. Beliau menjabarkan sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan oleh UT beserta tantangan yang dihadapi untuk menjalankan sistem tersebut. Beliau juga menjabarkan komitmen UT untuk menyediakan akses pendidikan tinggi yang tidak hanya pada level nasional, tetapi juga di level global yang dibuktikan dengan adanya UT Layanan Luar Negeri serta rencana strategis untuk menerima mahasiswa internasional.
Perspektif global tentang pendidikan inklusif semakin kaya dengan paparan Prof. Kutlay Yagmur dari Tilburg University, Belanda bertema “Promoting Diversity Policies in Higher Education: Aims of Inclusive Higher Education in the Netherlands” yang menggarisbawahi pentingnya kebijakan yang inklusif dan mendorong keberagaman agar pendidikan tinggi di Belanda dapat lebih banyak diakses masyarakat.
Diskusi interaktif yang melibatkan para pembicara dan peserta symposium menjadi penutup yang memberikan wawasan baru bagi semua pihak. Melalui diskusi round table ini, Rahmat Budiman, M. Hum., Ph.D., Prof. Kutlay Yagumur, Prof. Kumiko Aoki, Prof. Rie Ohashi, dan Prof. Tsuneo Yamada membahas langkah-langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif. Simposium ditutup oleh Trustee of OUJ, Prof. Tomoka Satomi, yang difasilitasi oleh Prof. Tooru Hayashi, Wakil Presiden OUJ. Beliau menyampaikan apresiasi atas kontribusi para pembicara dan peserta. Ia berharap simposium ini dapat terus mendorong kolaborasi antar universitas untuk menjalankan sistem pendidikan tinggi yang inklusif bagi seluruh masyarakat, melintasi batas geografis dan identitas.



