FGD Pendanaan PTNBH: Universitas Terbuka Terus Berinovasi Menjadi Intelligent Campus

Universitas Terbuka (UT) semakin mengokohkan tata kelola proses bisnisnya sebagai good corporate government (GCG), khususnya semenjak beralih status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH). yaitu dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No.39 pada 20 Oktober 2022. Setelah bertransformasi menjadi PTNBH, UT memiliki otonomi yang lebih luas, baik dalam pengelolaan bidang akademis maupun non akademis termasuk dalam hal keuangan.

Otonomi pada PTNBH di Indonesia memiliki makna yang sangat penting dalam konteks pengelolaan dan operasional perguruan tinggi, di antaranya adalah kemandirian pengelolaan keuangan dan aset, kemandirian dalam pembuatan keputusan internal, mendapatkan dana abadi PTNBH, serta peningkatan reputasi akademik. Melalui otonomi PTNBH, UT memiliki fleksibilitas dengan tanggung jawab yang lebih besar. Salah satunya, UT diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta mempercepat proses inovasi untuk memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat, dan hal ini selaras dengan mandat pemerintah yang diamanahkan kepada UT yaitu sebagai Perguruan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTTJJ) yang menyediakan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat, dengan motto-nya yaitu Open Higher Education Open To All”. 

Menindaklanjuti hal tersebut, UT mengadakan Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan secara hybrid (luring dan daring) pada Rabu, 03 April 2024 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dihadiri oleh Prof. Ainun Na’im, Ph.D. selaku Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UT, Syahrul, S.E., M.Si. selaku Kasi Anggaran Bidang Pendidikan dan Kepemudaan pada Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. selaku Rektor UT, Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si. selaku Ketua Senat Akademik UT, Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls. selaku Anggota Majelis Wali Amanat UT, dan Dr. Vivi Indra Amelia Nst, S.I.P., M.A. selaku Staf Ahli Bidang Pengembangan UT Menuju World Class University. Selain itu secara daring acara ini dihadiri oleh seluruh pimpinan yang ada di lingkungan UT Pusat secara luring dan dihadiri oleh beberapa Direktur UT Daerah, Komite Audit, dan Anggota KPI.  

Acara dibuka oleh Bijaksabara selaku MC dan dilanjutkan dengan sambutan Rektor UT, Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. dan dilanjutkan dengan Pengantar Diskusi yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya dan Umum, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari masing-masing Narasumber. Terdapat 6 (enam) narasumber yang hadir pada acara untuk memaparkan materi sesuai dengan expertise-nya masing-masing. Para narasumber yang hadir di antaranya adalah:

  1. Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. selaku Rektor UT menyampaikan paparan dengan topik Penguatan Pendanaan PTNBH untuk Perguruan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh. Paparan memuat tentang urgensi pengembangan kapasitas dan kualitas pendidikan jarak jauh dan strategi pendanaan inovatif untuk menjaga keberlanjutan Universitas Terbuka sebagai PTNBH PTTJJ
  2. Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si. selaku Ketua Senat Akademik UT menyampaikan paparan dengan topik Pendanaan PTNBH untuk Mendukung Kebijakan Akademik dan Hilirisasi Produk Akademik. Paparan memuat tentang optimalisasi pendanaan PTNBH untuk mendukung kebijakan dan implementasi akademik, serta hilirisasi produk akademik yang dapat meningkatkan pertumbuhan pendanaan PTNBH PTTJJ. Selain itu beliau juga menjelaskan mengenai peranan Senat Akademik dalam kebijakan akademik di UT termasuk salah satunya menyusun dan menyetujui rancangan perubahan Statuta UT bersama Rektor dan Majelis Wali Amanat (MWA).
  3. Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls. selaku Anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UT menyampaikan paparan dengan topik Strategi Bisnis Pada Perguruan Tinggi Jarak Jauh untuk Penguatan Pendanaan PTNBH. Paparan memuat tentang pengembangan dan diversifikasi produk dan layanan pendidikan jarak jauh sebagai upaya penguatan pendanaan PTNBH PTTJJ. Beliau juga menekankan bahwa saat ini UT sudah menjadi PTNBH dan tentunya semua civitas akademika perlu berubah, mulai dari mindset, perilaku, serta budaya dan cara kerja yang baru. “Yang dulunya kita harus menunggu perintah, sekarang kita harus asertif, kita cari sendiri,”  ujarnya. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa UT perlu mendiversifikasikan layanan yang ada di UT, dan tentunya itu perlu didukung oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah membangun kepercayaan.
  4. Dr. Vivi Indra Amelia Nst, S.I.P., M.A. selaku Staf Ahli Bidang Pengembangan UT Menuju World Class University menyampaikan paparan dengan topik Optimalisasi Dana Abadi Perguruan Tinggi (DAPT) sebagai salah satu sumber Pendanaan PTNBH. Paparan memuat tentang strategi penggunaan dan pengembangan DAPT yang dapat menjadi buffer dan fund raising dalam pendanaan PTNBH PTTJJ.
  5. Prof. Ainun Na’im, Ph.D. selaku Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Terbuka menyampaikan paparan dengan topik Strategi dan Tata Kelola Pendanaan PTNBH Untuk Perguruan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTTJJ). Paparan memuat tentang model tata kelola pendanaan PTNBH untuk PTTJJ dan strategi pengembangan sumber pendanaan baru yang dapat dilakukan oleh PTNBH PTTJJ.
  6. Syahrul, S.E., M.Si. selaku KASI Anggaran Bidang Pendidikan dan Kepemudaan pada Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang memaparkan topik terkait Arah Kebijakan Pendanaan PTNBH untuk Perguruan Tinggi Negeri. Paparan memuat tentang dasar kebijakan alokasi pendanaan PTNBH dan strategi peningkatan alokasi pendanaan PTNBH PTTJJ melalui APBN.

Setelah masing-masing narasumber memaparkan materinya, selanjutnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Bambang Hariyanto. Sesi tanya-jawab berlangsung dengan sangat kondusif, dan tentunya sesi tanya jawab ini merupakan sesi inti, karena melalui sesi ini, UT mendapat banyak masukan serta saran yang membangun dengan tujuan agar UT dapat kokoh dan mandiri secara finansial sebagai PTNBH. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi UT, agar UT bisa selalu membangun dan mengembangkan institusinya menjadi lebih baik.

Meskipun sudah menjadi PTNBH, UT tentunya tidak melupakan mandat yang telah diberikan oleh pemerintah, yaitu memperluas akses pendidikan tinggi kepada seluruh masyarakat dan menjangkau yang tidak terjangkau. Dengan masukan para pakar yang sudah disampaikan dalam FGD ini, UT makin bertekad untuk mengeksekusi semua sumber daya yang dimiliki agar bisa menghasilkan benefit yang lebih optimal. Jika tujuan ini tercapai, menurut Prof. Ojat Darojat, UT bahkan mampu menekan biaya kuliah sehingga diharapkan lebih terjangkau bagi masyarakat luas yang ingin mencicipi bangku perguruan tinggi. Beliau juga menambahkan, “Kita berupaya bagaimana supaya masyarakat Indonesia, di mana pun mereka berada, berkesempatan untuk masuk perguruan tinggi. Bisa dilihat SPP yang kita implementasikan, misalnya per SKS yang paling murah sekitar 36 ribuan. Tidak ada perguruan tinggi negeri atau PTNBH yang biayanya semurah UT,” ujarnya. Bahkan beliau juga menyampaikan bahwa jika jumlah mahasiswa UT menembus angka 750.000 atau bahkan 1.000.000 mahasiswa, maka sangat memungkinkan biaya pendidikan di UT semakin murah dan bisa ditekan, dan hal ini tentunya akan semakin menarik minat masyarakat untuk bisa kuliah di UT.

Tentunya untuk mencapai ini, perlu adanya transformasi di berbagai lini. Prof Ainun menyampaikan bahwa UT bisa bertransformasi melalui organisasi dan budaya yang bersifat mekanistik sesuai prosedur menjadi organik inovatif bahkan berubah menuju intelligent campus.

Lalu, Prof. Paulina juga menambahkan bahwa penguatan sumber daya atau peripheral yang dimiliki oleh UT supaya UT menjadi PTNBH yang sehat dan kokoh dari segi finansial, dengan tetap menjalankan visinya yaitu menjadi PTN yang terjangkau bagi masyarakat. Beliau juga menambahkan, “UT selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempopulerkan semua sumber daya yang dimiliki oleh UT. Ada S3-nya, Guru Besarnya. Mereka semua harus berkiprah di masyarakat sesuai dengan expertise-nya masing-masing. Itu memang tidak langsung mendatangkan uang bagi UT, akan tetapi dengan kontribusi nyata serta networking yang dimiliki, akan mendatangkan keuntungan bagi UT. Ibaratnya, kita bantu orang, maka orang akan bantu UT juga dong,” pungkasnya.

Dengan terselenggaranya FGD Pendanaan PTNBH UT ini, UT pun memperoleh masukan/input berupa model pendanaan PTNBH yang sesuai dengan karakteristik UT sebagai Perguruan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTTJJ). Melalui pemodelan tersebut diharapkan UT ke depannya semakin kokoh dan tangguh sebagai PTNBH dengan kemandirian finansial yang kuat guna memberikan layanan pendidikan tinggi untuk semua lapisan masyarakat Indonesia di mana pun berada.