Di sejumlah wilayah kepulauan, jarak bukan sekadar hitungan kilometer. Ia menyangkut biaya, waktu, dan keberanian meninggalkan kampung halaman demi satu tujuan: pendidikan. Di Kabupaten Sumba Barat, cerita tentang jarak itu mulai berubah ketika Sentra Layanan Universitas Terbuka (Salut) Sumba Barat hadir sebagai pusat layanan pendidikan tinggi jarak jauh.
Salut diresmikan pada 14 Februari 2025 di Aula SMA Kristen Waikabubak. Momentum tersebut dihadiri lebih dari 300 undangan, mulai dari Bupati Sumba Barat, Direktur Universitas Terbuka Kupang, jajaran pemerintah daerah, aparat kepolisian, kepala sekolah tingkat SLTA, tokoh masyarakat, hingga mahasiswa. Kehadiran berbagai unsur itu menandai bahwa akses kuliah kini semakin dekat dengan masyarakat.
Di balik seremoni peresmian, terdapat proses penguatan layanan. Salut Sumba Barat merupakan transformasi dari kelompok belajar (Pokjar) menjadi pusat layanan pendidikan tinggi yang lebih lengkap di bawah naungan Universitas Terbuka. Perubahan ini mencakup penguatan sistem, fasilitas, serta layanan akademik.
Kepala Salut Sumba Barat, Mujnah Yunus, menjelaskan peningkatan status tersebut berdampak pada kualitas layanan. “Salut merupakan peningkatan kemitraan Universitas Terbuka di daerah menjadi pusat layanan yang lebih komprehensif, baik dari sisi fasilitas maupun sistem layanan akademik,” ujarnya.
Sebagai perpanjangan tangan operasional Universitas Terbuka, Salut menghadirkan layanan administrasi akademik, pendampingan pembelajaran, hingga bimbingan teknis yang dapat diakses langsung maupun daring. Dengan sistem yang lebih terstruktur, mahasiswa memperoleh pendampingan yang lebih dekat dalam menjalani proses studi.
Fasilitas yang disediakan dirancang menjawab tantangan di lapangan. Ruang tutorial, laboratorium komputer, serta dukungan jaringan internet menjadi bagian penting dalam mendukung pembelajaran jarak jauh, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur digital.
“Kami ingin memastikan mahasiswa di Sumba Barat memperoleh layanan setara dengan daerah lain. Fasilitas ini membantu mahasiswa yang sebelumnya bergantung pada perangkat pribadi dan jaringan internet terbatas,” kata Mujnah.
Kehadiran Salut juga berkaitan dengan pemerataan akses pendidikan tinggi. Selama ini, banyak lulusan SLTA di Sumba Barat harus merantau ke luar pulau untuk melanjutkan studi dengan konsekuensi biaya dan jarak dari keluarga. Kini, pendidikan tinggi dapat diakses tanpa harus meninggalkan daerah asal.
Upaya tersebut selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia dan pembangunan daerah.
Dalam rangkaian peresmian, turut dilakukan penyaluran bantuan kepada anak yatim, piatu, dan para ibu janda yang diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sumba Barat bersama Kepala DPKO dan Direktur Universitas Terbuka Kupang.
Mujnah menilai kegiatan itu sebagai wujud kepedulian lembaga terhadap lingkungan sekitar. “Kami ingin kehadiran Salut memberi manfaat tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga sosial,” ujarnya.
Pada akhirnya, kisah Salut Sumba Barat bukan sekadar tentang berdirinya sebuah kantor layanan. Ia menggambarkan pendidikan yang semakin mendekat ke masyarakat, menembus batas geografis, dan memberi ruang bagi mimpi yang sebelumnya terasa jauh. Di tanah yang dikelilingi laut dan perbukitan itu, akses pendidikan tinggi kini menjadi kenyataan yang terus bertumbuh.



