Saat Banjir Melanda Lereng Slamet, Inisiatif Anak Kampus Ini Menyita Perhatian

Di tengah luka yang masih terasa akibat banjir bandang yang menerjang kawasan lereng Gunung Slamet, secercah harapan datang dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan tulus. Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) Jenderal Soedirman Rembang, Kabupaten Purbalingga, menunjukkan kepeduliannya dengan menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak bencana. Bantuan tersebut diserahkan di posko bencana Desa Serang, Kecamatan Karangreja, pada Minggu, 1 Februari 2026, saat sebagian warga masih berjuang memulihkan kehidupan mereka dari sisa-sisa terjangan banjir.

Aksi kemanusiaan ini tidak lahir secara tiba-tiba. Semuanya berawal dari inisiatif para mahasiswa SALUT yang tergerak melihat dampak banjir bandang yang merenggut harta benda warga. Dengan semangat solidaritas, mereka turun langsung ke jalan untuk menggalang dana, mengetuk empati masyarakat sekitar, dan mengajak publik ikut terlibat dalam membantu sesama. Upaya sederhana tersebut perlahan membuahkan hasil. Dari penggalangan yang dilakukan, terkumpul dana tunai sebesar Rp1.205.000, sebuah angka yang mungkin terlihat kecil, namun sarat makna bagi mereka yang terdampak bencana.

Tak hanya dana tunai, para mahasiswa juga menghimpun dan menyalurkan berbagai bahan kebutuhan pokok. Bantuan ini diharapkan mampu mencukupi kebutuhan harian para pengungsi yang saat ini masih bergantung pada bantuan dari berbagai pihak. Di tengah keterbatasan, kehadiran logistik tersebut menjadi penopang awal agar roda kehidupan warga perlahan bisa kembali bergerak.

Paket bantuan tersebut diterima langsung oleh Camat Karangreja, Supriyanti, yang kemudian bertugas mendistribusikannya kepada warga yang membutuhkan. Penyerahan bantuan berlangsung sederhana namun penuh makna, mencerminkan kolaborasi antara institusi pendidikan, mahasiswa, dan pemerintah setempat dalam merespons situasi darurat secara cepat dan terkoordinasi.

Kepala SALUT Jenderal Soedirman Rembang, Marsud, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian nyata sivitas akademika Universitas Terbuka terhadap masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Menurutnya, bencana tidak berhenti pada kerusakan fisik semata, tetapi juga meninggalkan dampak sosial yang dalam, mulai dari hilangnya sumber penghidupan hingga rasa aman yang terenggut dalam waktu singkat. Karena itu, kehadiran SALUT diharapkan dapat sedikit meringankan beban psikologis maupun kebutuhan dasar warga.

“Bantuan berupa uang dan bahan kebutuhan pokok untuk korban terdampak banjir bandang. Harapannya dapat sedikit meringankan beban mereka yang terdampak,” kata Marsud. Ia menegaskan bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir dan berkontribusi, baik melalui pendidikan, juga melalui aksi kemanusiaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Semangat kepedulian tersebut juga terasa kuat dari para mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan. Bagi mereka, kegiatan ini hadir sebagai pengalaman berharga yang menumbuhkan empati dan kepekaan sosial. Salah satunya diungkapkan oleh Yoga Tri Cahyono, mahasiswa baru SALUT, yang mengaku bangga bisa terlibat langsung dalam misi kemanusiaan tersebut.

Menurut Yoga, turun ke lapangan dan berinteraksi langsung dengan warga terdampak memberikan pemahaman nyata tentang arti solidaritas. “Senang sekali menjadi bagian dari misi kemanusiaan dengan kepedulian dan aksi nyata turun langsung menggalang bantuan dan mendistribusikannya,” tutur Yoga di sela-sela kegiatan. Pengalaman tersebut, lanjutnya, menjadi pelajaran penting yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas.

Aksi ini mencerminkan kepedulian kemanusiaan yang tumbuh dari kerja bersama berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, institusi pendidikan, masyarakat, hingga pemerintah. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 1 Tanpa Kemiskinan, SDGs 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDGs 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui kolaborasi ini, kepedulian kolektif hadir sebagai upaya nyata dalam merespons kebutuhan masyarakat, meski dimulai dari langkah-langkah sederhana.

Di tengah bencana yang menyisakan duka, kehadiran SALUT Jenderal Soedirman Rembang bersama para mahasiswanya menjadi pengingat bahwa empati dan solidaritas masih tumbuh subur. Dari jalanan tempat penggalangan dana hingga posko bencana di kaki Gunung Slamet, kepedulian itu mengalir, membawa harapan bahwa mereka yang terdampak tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit.