Setiap hari, informasi datang tanpa jeda. Berita, unggahan media sosial, opini, hingga berbagai narasi publik berlomba memenuhi ruang digital. Di tengah derasnya arus tersebut, tantangannya bukan lagi sekadar mendapatkan informasi, melainkan memahami apa yang sedang terjadi di baliknya.
Persoalan inilah yang menarik perhatian Imam Pesuwaryantoro, lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka (UT). Alih-alih hanya melihat derasnya informasi sebagai tantangan, Imam justru mengubahnya menjadi peluang untuk berinovasi.
Ia mengembangkan Media Aggregator berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis informasi serta persepsi publik secara lebih sistematis. Gagasan tersebut kemudian membawanya meraih penghargaan pada ajang Japan International Youth Innovation Summit (JIYIS) 2025 di Tokyo, Jepang.
Bagi Imam, pencapaian itu bukan sekadar tentang sebuah penghargaan. Lebih dari itu, inovasi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan dua bidang yang semakin banyak beririsan: komunikasi dan teknologi.
“Saya mengembangkan Media Aggregator berbasis AI ini bukan hanya sebagai karya akademik, tetapi juga sebagai peluang usaha kreatif,” ujar Imam Pesuwaryantoro.
Gagasan tersebut berangkat dari realitas yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Volume informasi yang terus bertambah membuat kemampuan untuk mengidentifikasi, mengelompokkan, dan memahami informasi menjadi semakin penting. Apalagi,arus informasi yang berkembang juga berkaitan dengan terbentuknya opini dan persepsi publik.
Teknologi AI kemudian dimanfaatkan Imam untuk membantu menghadapi tantangan tersebut. Dengan pendekatan Media Perception & Engineering, inovasi yang dikembangkan tidak berhenti pada pengumpulan informasi, tetapi diarahkan untuk membantu membaca dinamika informasi dan persepsi yang berkembang di ruang publik.
Di balik inovasi itu, ada cara pandang yang lebih luas. Imam melihat perkembangan teknologi digital sebagai kesempatan bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta solusi.
Menurut dia, teknologi dapat dikembangkan menjadi produk maupun layanan yang memiliki nilai ekonomi. Hal tersebut sekaligus membuka peluang baru bagi anak muda untuk tetap produktif dan berdaya saing di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
“Di era ekonomi yang penuh ketidakpastian, side hustle berbasis teknologi menjadi jawaban untuk tetap produktif dan berdaya saing,” katanya.
Perjalanan Imam memperlihatkan bahwa ilmu komunikasi memiliki ruang yang semakin luas di era digital. Kemampuan memahami pesan, informasi, dan perilaku publik dapat dipadukan dengan kecanggihan teknologi untuk menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan industri maupun masyarakat.
Di sisi lain, kisah tersebut menjadi contoh bahwa pendidikan dapat menjadi salah satu fondasi dalam mengembangkan iinovasi. Pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi tidak harus berhenti sebagai teori, tetapi dapat dibawa keluar untuk menjawab persoalan nyata dan bahkan dikembangkan menjadi peluang kewirausahaan.
Semangat ini sejalan dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas yang mendorong pengembangan keterampilan relevan untuk masa depan, sekaligus SDG 8 yang menekankan pentingnya kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang produktif.
Dari ruang belajar hingga panggung internasional, Imam menunjukkan satu hal sederhana: ide besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia lahir ketika seseorang cukup peka melihat masalah di sekitarnya, lalu cukup berani untuk mengubah keresahan itu menjadi sebuah karya.
Kini, gagasan yang berawal dari derasnya informasi tersebut telah sampai di Tokyo. Membawa nama Indonesia, Imam membuktikan bahwa ketika ilmu komunikasi bertemu teknologi dan keberanian berinovasi, batas antara ruang akademik dan panggung global menjadi semakin tipis.



