Universitas Terbuka (UT) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Kebencanaan Tahun 2026 melaksanakan kegiatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada Senin (25/5/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk respons atas dampak banjir bandang dan longsor yang sebelumnya melanda wilayah tersebut, sekaligus upaya mendukung pemulihan masyarakat melalui pendekatan pendidikan, sosial, dan ketahanan pangan.
Di tengah sisa-sisa puing dan duka yang masih terasa di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kehidupan perlahan mulai ditata kembali. Banjir bandang dan longsor yang terjadi beberapa waktu lalu tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan trauma, terutama bagi anak-anak dan warga yang harus tinggal di hunian sementara. Namun di tengah situasi itu, Universitas Terbuka (UT) hadir membawa cerita lain—cerita tentang kepedulian, pendidikan, dan harapan yang tetap dijaga agar tidak padam.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Kebencanaan Tahun 2026, UT turun langsung ke lapangan pada Senin (25/5/2026) di wilayah terdampak bencana. Kegiatan ini melibatkan banyak pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui Dinas Sosial, Pemerintah Kecamatan Pinangsori, Pemerintah Desa Pagaran Honas, Pengurus Wilayah Ikatan Alumni (PW-IKA) UT Medan, organisasi kemahasiswaan UT Medan, hingga para guru dan pihak SD Negeri 157623 Pagaran Honas. Semua bergerak dalam satu tujuan: membantu masyarakat bangkit dari bencana.
Cerita dimulai dari sebuah sekolah darurat. SD Negeri 157623 Pagaran Honas saat ini belum bisa kembali ke bangunan aslinya. Proses belajar mengajar masih berlangsung di tenda darurat yang berdiri di area posko pengungsian Desa Kebun Pisang. Di tempat sederhana itulah tim PkM UT yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa datang membawa suasana baru.
Anak-anak yang sebelumnya masih dibayangi rasa takut, perlahan mulai tersenyum ketika kegiatan dimulai. Bersama narasumber dari Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Tengah, Rahmiati Rizkiyah Siregar, S.Tr.Keb., M.Biomed., M.K.M., tim UT mengajak mereka mengenal kembali tentang apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Tapi kegiatan tidak berhenti di situ. Ada tawa yang kembali terdengar ketika mereka bernyanyi bersama, bercerita, dan bermain dalam suasana yang hangat dan akrab. Di sela kegiatan, UT juga menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah seperti seragam olahraga, tas, sepatu, alat tulis, hingga fasilitas penunjang seperti kipas angin, lemari, dan printer untuk mendukung aktivitas sekolah di tengah keterbatasan.
Dari sekolah darurat, perjalanan berlanjut ke Hunian Sementara (Huntara) Rusunawa Pandan di Kecamatan Pinangsori. Di tempat inilah ratusan warga terdampak bencana kini tinggal sementara, menata ulang kehidupan sambil menunggu kondisi benar-benar pulih. Sebanyak 154 jiwa menghuni 56 unit kamar di lokasi ini.
Kedatangan UT disambut hangat oleh Camat Pinangsori, Agus Harianto, S.STP. Ia menyampaikan apresiasi karena UT menjadi salah satu perguruan tinggi yang hadir langsung di tengah masyarakat pengungsi. Dalam keterangannya, ia mengatakan, “Universitas Terbuka menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi yang hadir ke Kecamatan Pinangsori yang menjadi lokasi pengungsi dari masyarakat Desa Pagaran Honas Kecamatan Badiri dan Kecamatan Tukka yang merupakan dua lokasi paling parah terdampak bencana longsor dan banjir bandang beberapa waktu lalu. Sebagaimana slogan UT Menjangkau yang Tak Terjangkau – di sinilah UT hadir dan membantu masyarakat yang menjadi korban bencana alam di Tapanuli Tengah. Oleh karena itu, kami sangat bersyukur dan berharap kiranya UT dapat kembali hadir khususnya di wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah dalam kondisi dan keadaan yang lebih baik lagi,” ujar Agus.
Di Huntara itu, kegiatan tidak hanya berhenti pada bantuan sembako sebanyak 60 paket. Bersama warga, tim UT juga menggerakkan program ketahanan pangan mandiri dengan menanam sekitar 200 polybag berisi bibit cabai, tomat, jagung, dan berbagai tanaman sayuran. Di sela aktivitas sederhana itu, muncul harapan baru: bahwa meski hidup dalam keterbatasan, mereka masih bisa menanam dan memanen harapan dari tanah yang sama.
Ketua tim PkM Kebencanaan UT di Tapanuli Tengah, Eka Evriza, menyampaikan bahwa apa yang dilakukan UT mungkin belum bisa menjawab seluruh kebutuhan masyarakat terdampak. Namun, kehadiran ini menjadi bentuk kepedulian yang diharapkan mampu menguatkan semangat warga untuk bangkit kembali.
Jika ditarik lebih luas, apa yang dilakukan UT di Tapanuli Tengah ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 2 Tanpa Kelaparan, dan SDG 11 Kota dan Permukiman Berkelanjutan. Di balik semua kegiatan itu, UT memperlihatkan satu hal sederhana namun penting: bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga bisa hadir di tengah tenda darurat, di antara warga yang sedang berjuang bangkit, dan di tempat-tempat yang paling membutuhkan sentuhan kemanusiaan.


