Menjemput Mimpi di Balik Samudra: Komitmen UT Ternate Dukung Visi Gubernur Sherly Hadirkan Pendidikan Tanpa Batas bagi Anak Kepulauan

Gugusan pulau di Maluku Utara bukan sekadar garis-garis di peta, melainkan rumah bagi ribuan mimpi anak-anak kepulauan yang selama ini sering terhalang oleh luasnya samudra. Di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda, Maluku Utara kini mulai merajut asa baru melalui kebijakan yang menyentuh akar rumput. Dengan kasih dan visi seorang pemimpin yang memahami sulitnya akses di wilayah terpencil, Gubernur Sherly berupaya menghadirkan sekolah hingga ke depan pintu rumah masyarakat di pelosok kepulauan, memastikan tidak ada lagi anak-anak yang merasa “asing” di tanah sendiri demi mendapatkan pendidikan.

Langkah humanis ini disambut hangat oleh Universitas Terbuka (UT) Ternate sebagai jawaban atas kerinduan masyarakat akan pendidikan yang adil. Upaya mendekatkan akses SMA ke wilayah kepulauan dinilai bukan sekadar program administratif, melainkan sebuah solusi emosional agar anak-anak daerah terpencil tidak perlu lagi merantau jauh dan meninggalkan pelukan keluarga hanya untuk mengenyam pendidikan menengah. Karakteristik Bumi Moloku Kie Raha yang didominasi perairan memang menuntut kehadiran negara yang nyata untuk menjamin hak setiap anak mendapatkan pendidikan.

Direktur UT Ternate, Dr. Muhlis Hafel, memandang kebijakan ini sebagai terobosan yang sangat visioner dan berpihak pada masa depan generasi muda. Beliau menyadari betul beban berat yang dipikul orang tua di pelosok selama ini. “Kebijakan ini sangat visioner dan berpihak pada masa depan anak-anak Maluku Utara. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk menyekolahkan anaknya ke luar pulau. Dengan menghadirkan akses SMA di wilayah kepulauan, pemerintah telah membuka kesempatan yang lebih adil bagi seluruh generasi muda,” tutur Dr. Muhlis dengan penuh empati.

Kehadiran sekolah di wilayah domisili tidak hanya menekan angka putus sekolah dan meringankan beban ekonomi orang tua, tetapi juga menjaga ikatan batin dan sosial anak dengan lingkungan budayanya. Inisiatif ini selaras dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 4 mengenai Pendidikan Berkualitas, yang menekankan inklusivitas tanpa melihat batas geografis. Sebagai pelopor Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang selama puluhan tahun telah meruntuhkan tembok penghalang pendidikan tinggi, UT Ternate merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung penuh visi ini.

Dr. Muhlis menekankan bahwa jika konsep SMA Terbuka ini mulai berlayar, pengalaman UT dalam mengelola pendidikan jarak jauh bisa menjadi kompas yang sangat berguna. Beliau merinci poin-poin krusial yang harus disiapkan, mulai dari infrastruktur teknologi dan jaringan internet yang merata, hingga kualitas guru yang perlu dilatih menjadi fasilitator andal. Selain itu, diperlukan modul ajar yang dirancang khusus untuk kemandirian belajar, sistem monitoring yang terjaga, serta kolaborasi tulus antara pemerintah dan masyarakat sebagai kunci keberlanjutan.

Menutup pesannya, Dr. Muhlis menegaskan bahwa UT Ternate siap berdiri berdampingan dengan pemerintah daerah untuk mewujudkan mimpi ini menjadi nyata. “Universitas Terbuka siap menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam berbagi pengalaman, praktik baik, serta penguatan sistem pembelajaran jarak jauh yang telah kami terapkan,” tegasnya. Dengan perencanaan yang matang, Maluku Utara berpotensi menjadi model nasional dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif dan merata di wilayah kepulauan, membuktikan bahwa di mana pun anak-anak berada, pendidikan berkualitas tetap bisa mereka raih tanpa batas.