Inovasi Akademis Menghidupkan Ekonomi Sigemplong: Dari Buah Melodi ke Bisnis Berkelanjutan

Kamis, 27 November 2025, di sebuah desa yang kerap disebut sebagai “negeri di atas awan”, Sigemplong, Kabupaten Batang, kehidupan masyarakatnya berjalan tenang dengan keseharian yang sederhana. Di antara kabut dingin dan perbukitan yang memayungi kawasan ini, tumbuh subur buah melodi—sejenis melon Dieng yang hadir sepanjang musim. Namun, melimpahnya hasil panen itu selama bertahun-tahun hanya berakhir sebagai pakan ternak atau mainan anak-anak. Tidak banyak yang menyangka bahwa keberlimpahan tersebut suatu hari akan menjadi jalan baru bagi masyarakat, terutama para purna Pekerja Migran Indonesia (PMI), untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Harapan itu mulai tumbuh ketika Etik Ferawati—wirausahawan makanan khas sekaligus alumni Universitas Terbuka (UT)—mendengar langsung keluhan para purna PMI. Ia melihat peluang besar yang belum disentuh dan menghubungi para dosen Universitas Terbuka Semarang untuk turun langsung memberikan solusi. Dari sinilah perjalanan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UT Semarang ke Desa Sigemplong bermula.

Dipimpin oleh Dian Ratu Ayu Uswatun Khasanah, M.H., tim PkM yang terdiri dari Moh. Muzammil, M.M.; Ronald Jolly Pongantung, MAP.; Dr. Siswandaru; serta Yusak Suharno, M.Pd., bergerak memberikan pelatihan mengolah buah melodi menjadi produk bernilai ekonomi. Dari bahan sederhana itu terciptalah dua produk unggulan: salad melodi yang segar dan stik melodi yang renyah serta tahan lama. “Sebagai dosen, kami tidak hanya berkutat pada rutinitas, tetapi juga harus turun lapangan mengimplementasikan keahlian untuk hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan,” ujar Dian.

Pendampingan tidak berhenti pada pengolahan bahan pangan. Tim UT Semarang juga memperkenalkan cara membuat kemasan menarik, membantu proses legalitas makanan melalui sertifikasi halal, hingga memberikan pelatihan pemasaran. Pendekatan ini sejalan dengan semangat SDGs, khususnya tujuan Pekerjaan Layak dan Pertmbuhan Ekonomi (SDG 8) serta Pendidikan Berkualitas 9SDG 4), di mana transfer pengetahuan dijadikan fondasi untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Kolaborasi ini semakin kuat berkat dukungan NSR Carica, usaha milik Etik Ferawati yang sudah memiliki jaringan pasar hingga pusat oleh-oleh berbagai kabupaten/kota. Produk berbahan melodi kini tidak hanya dipasarkan melalui kanal NSR, tetapi juga dijual langsung oleh masyarakat di lokasi wisata sekitar Sigemplong—membuka peluang tambahan pendapatan di desa yang sebelumnya mengandalkan hasil pertanian musiman.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UT turut memberikan dukungan berupa alat produksi agar masyarakat dapat meningkatkan kualitas dan jumlah produksi. Bagi peserta PkM, pelatihan ini menjadi langkah nyata untuk mandiri secara ekonomi setelah kembali dari luar negeri.

“Kami sangat senang mendapatkan ilmu baru dari dosen-dosen Universitas Terbuka. Bisa menyulap buah melodi jadi salad dan stik, kami jadi bisa punya penghasilan sendiri,” tutur Sundiyah, salah satu peserta PkM yang pernah bekerja di Arab Saudi dan Singapura.

Program PkM UT Semarang ini menjadi bukti bagaimana pendidikan tinggi, ketika benar-benar hadir di tengah masyarakat, mampu membuka ruang bagi perubahan yang inklusif. Dengan pendekatan yang ramah, teknologi yang tepat guna, serta kemitraan berkelanjutan, Universitas Terbuka terus menguatkan perannya sebagai perguruan tinggi yang memberikan akses pendidikan dan peningkatan kapasitas tanpa batas bagi seluruh lapisan masyarakat—bahkan hingga ke desa yang berada di atas awan sekalipun.