Palembang, dimana Jembatan Ampera membentang, kota yang dibelah Sungai Musi ini, selalu dikenal dengan sejarah yang kaya dan semangat anak muda yang membara. Di tengah denyut modernisasi yang makin kencang, mimpi untuk meraih pendidikan tinggi yang berkualitas dan fleksibel kini menemukan wadah idealnya. Dan tanpa disadari banyak pihak, Universitas Terbuka (UT) Palembang kini telah menjelma menjadi rumah aspirasi bagi gelombang baru ini, khususnya Generasi Z.
Inilah sebuah kisah transformasi yang manis. Jika dulu UT Palembang lebih lekat dengan citra para pekerja dan profesional yang gigih mengejar gelar sambil meniti karier, kini koridor dan ruang virtual kampus ini dipenuhi oleh energi segar kaum muda.
Direktur Universitas Terbuka (UT) Palembang, Drs. H. Muhammad Tair Abunaim, M.M., dengan bangga mengungkapkan fakta yang mungkin belum banyak diketahui: dari ribuan mahasiswa yang menempuh pendidikan di sana, 60 persen di antaranya adalah mereka yang berusia antara 17 hingga 25 tahun. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sebuah penanda bahwa UT Palembang, dengan sistem Pendidikan Terbuka Jarak Jauh (PTJJ)-nya yang adaptif, telah menjadi pilihan hati utama bagi anak-anak muda Sumsel pasca-lulus SLTA.
“Dulu, banyak yang menganggap UT Palembang adalah kampusnya para orang tua, para senior yang sudah bekerja. Tetapi, citra itu kini sudah berubah total. UT Palembang sekarang adalah kampusnya anak muda,” tutur Naim, sapaan akrab sang Direktur.
Ia mengenang masa lalu dengan senyum. Dahulu, mahasiswa UT memang didominasi mereka yang berusia 30 tahun ke atas. Sistem kuliah yang tidak mengganggu jam kerja adalah penyelamat bagi para pekerja. “Dulu mahasiswa UT Palembang, ya ibaratnya ‘bau minyak angin’, karena habis kerja langsung kuliah. Sekarang, sudah ‘bau minyak wangi’,” ujarnya, menyiratkan pergeseran demografi yang menjadikannya sebuah oase pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan usia.
Transformasi ini adalah buah dari komitmen UT yang tak kenal batas. UT Palembang menganut dua pilar utama. Pertama, Sistem Terbuka, yang dengan tangan terbuka menerima siapa saja yang memiliki ijazah minimal SLTA sederajat, menghapus sekat-sekat akses. Kedua, Sistem Jarak Jauh, di mana pembelajaran disampaikan melalui materi cetak dan non-cetak (digital), menjembatani jarak geografis dan waktu. Inilah yang membuat UT secara alami sangat dekat dengan gaya hidup Gen Z yang lahir dan tumbuh dalam genggaman teknologi.
Namun, fleksibilitas daring tidak berarti mahasiswa dibiarkan berjuang sendiri. UT memahami bahwa setiap perjalanan belajar memiliki tantangannya, dan komitmen untuk menghadirkan Pendidikan Berkualitas (SDGs 4) tetap diutamakan. Oleh karena itu, disediakan sistem tutorial sebagai jaring pengaman akademik.
“Proses belajar kami memang tidak selalu tatap muka, namun ketika mahasiswa menemui kesulitan, kami siap mendampingi,” jelas Naim. Bantuan itu datang dalam tiga bentuk: Tutorial Tatap Muka (kelas terbatas), Tutorial Webinar yang luar biasa efektif menyatukan mahasiswa, bahkan dari pelosok Irian Jaya atau Sekayu, dalam satu ruang kelas virtual, hingga Tutorial Online yang dikelola UT Pusat.
Pilihan tutorial yang beragam ini memberikan keleluasaan bagi mahasiswa untuk memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi dan lokasi mereka. Melalui skema yang luwes ini, UT Palembang tidak hanya menawarkan gelar, tetapi juga sebuah kesempatan emas pendidikan yang merata. UT ini memastikan bahwa jarak, keterbatasan waktu, maupun latar belakang usia, tidak boleh lagi menjadi penghalang bagi siapa pun untuk menggapai cita-cita dan melanjutkan pendidikan tinggi. Sebuah komitmen tulus dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan benar-benar tanpa batas.



