BALI — Batas geografis bukan lagi penghalang bagi dunia bisnis. Produk dari usaha kecil dapat menjangkau konsumen lintas negara, sementara perubahan ekonomi di satu kawasan dapat memengaruhi aktivitas bisnis di belahan dunia lainnya. Dinamika ini menuntut dunia usaha memiliki sumber daya manusia dengan perspektif global, kemampuan beradaptasi, dan kecakapan menghadapi perubahan. Dalam konteks tersebut, pendidikan bisnis dituntut untuk terus berinovasi agar mampu menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri. Universitas Terbuka (UT) menangkap pentingnya agenda tersebut dengan menjadi tuan rumah Association of Asia-Pacific Business Schools (AAPBS) Annual Meeting 2026 pada 1–3 November 2026 di Discovery Kartika Plaza Hotel, Bali.
Mengusung tema “Resilient Business Schools: Strategic Innovation and Leadership in Times of Global Uncertainty”, pertemuan ini menghadirkan pimpinan sekolah bisnis, akademisi, praktisi industri, serta perwakilan pemerintah dari berbagai negara. Forum tersebut menjadi ruang pertukaran perspektif mengenai tantangan yang dihadapi sekolah bisnis, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan kebutuhan industri, dinamika ekonomi, hingga pentingnya kepemimpinan yang adaptif dan bertanggung jawab. Upaya memperkuat kualitas pendidikan bisnis ini sekaligus sejalan dengan semangat SDGs 4, yaitu memastikan pendidikan berkualitas yang relevan dengan kebutuhan dan tantangan masa depan.
Bagi UT, kesempatan menjadi tuan rumah bukan sekadar kepercayaan untuk menyelenggarakan agenda internasional. Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., memandang momentum ini sebagai bentuk pengakuan terhadap visi UT untuk menjadi perguruan tinggi jarak jauh berkualitas dunia. Terlebih, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UT saat ini memiliki lebih dari 200.000 mahasiswa yang berpotensi mendapatkan manfaat dari semakin luasnya hubungan akademik dan profesional di tingkat internasional.
“Mahasiswa bisnis kita siap untuk dibawa merambah pasar global melalui eksposur internasional dan kerja sama dengan AAPBS, khususnya dalam meraih dua hal, yaitu sertifikasi kompetensi dan sertifikasi profesi yang berlevel internasional,” ungkap Ali.
Peluang tersebut sejalan dengan karakter mahasiswa UT yang memiliki latar belakang dan aktivitas beragam. Sebagian mahasiswa menjalani perkuliahan sambil bekerja, membangun karier, bahkan mengembangkan usaha sendiri. Melalui sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh, mereka dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah ke dalam aktivitas profesional tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun bisnis yang sedang dijalankan. Perpaduan antara teori dan praktik inilah yang menjadi salah satu kekuatan pembelajaran UT dalam memperluas akses pendidikan sekaligus mendukung pembelajaran sepanjang hayat.
Potensi mahasiswa dalam dunia usaha juga menjadi perhatian universitas. Ali mengungkapkan bahwa sekitar 5 persen mahasiswa UT merupakan wirausahawan, baik yang telah menjalankan usaha maupun yang masih dalam tahap merintis. Melihat potensi tersebut, UT menargetkan sekitar 2.000 mahasiswa dapat memperoleh pembinaan secara langsung melalui kolaborasi dengan Kementerian UMKM.
“Kita punya 5 persen mahasiswa UT yang menjadi wirausahawan, dari level yang paling tinggi sampai yang masih latihan. Target kita, 2.000 mahasiswa bisa dibina langsung oleh Kementerian dan menjadi percontohan mahasiswa berbisnis di Indonesia,” jelas Ali.
Langkah tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola usaha, tetapi juga mendorong lahirnya wirausahawan muda yang mampu menciptakan peluang kerja dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian yang selaras dengan tujuan SDGs 8 yakni mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
Dukungan terhadap pengembangan kewirausahaan tersebut disampaikan Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, M. Riza Damanik, Ph.D., IPU. Ia menilai jejaring AAPBS dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kualitas pelaku UMKM dan wirausaha Indonesia.
“Pemerintah berharap kerja sama ini dapat mendorong peningkatan kapasitas pengusaha dan pelaku UMKM, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. Akses terhadap pembiayaan, pasar, kemitraan, sertifikasi, hingga legalisasi usaha juga perlu semakin mudah dijangkau,” ujar Riza.
Pemerintah menargetkan 10 juta penduduk berusaha dan bekerja pada 2029 melalui program ProKestra Produktif, dengan sasaran rasio kewirausahaan nasional mencapai 3,6 persen. Untuk mendukung pencapaian tersebut, salah satu gagasan yang turut mengemuka dalam forum adalah pembentukan Asia-Pacific Incubator Network, sebuah jejaring inkubator kewirausahaan di kawasan Asia-Pasifik. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan, mengembangkan praktik terbaik, dan membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam membangun UMKM masa depan yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Dari sisi komunitas akademik internasional, Presiden AAPBS, Prof. Jikyeong Kang, mengajak seluruh peserta agar tidak menjadikan pertemuan ini sebatas ruang diskusi dan pertukaran pengalaman. Menurutnya, setiap institusi perlu membawa pulang setidaknya satu gagasan konkret yang dapat diterapkan untuk menciptakan perubahan.
“Jangan biarkan pertemuan ini berakhir hanya dengan percakapan. Mari pikirkan apa yang benar-benar bisa kita lakukan untuk membawa perubahan. Jika setiap institusi dapat membawa satu hal untuk diterapkan di kampus masing-masing, saya percaya AAPBS telah menjalankan perannya,” tegas Jikyeong.
Sementara itu, melalui pesan yang disampaikan perwakilannya, Direktur Jenderal sekaligus CEO European Foundation for Management Development (EFMD), Prof. Eric Cornuel, menyoroti pentingnya internasionalisasi pola pikir, penciptaan pengetahuan bersama, kolaborasi lintas negara, kepemimpinan berbasis nilai, dan perluasan akses pendidikan yang inklusif. Ia juga menekankan bahwa faktor ekonomi, geografis, disabilitas, maupun tanggung jawab keluarga tidak seharusnya menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang setara.
Rangkaian gagasan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan pendidikan bisnis tidak cukup dibangun melalui ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman, jejaring, dan kesempatan untuk berkolaborasi. Bagi UT, AAPBS Annual Meeting 2026 menjadi langkah untuk menghubungkan potensi mahasiswa dengan kesempatan yang lebih luas, sekaligus memperkuat kemitraan internasional sebagaimana semangat SDGs 17. Sebab, ketika pengetahuan bertemu dengan kesempatan dan kolaborasi melampaui batas negara, semakin banyak peluang terbuka bagi mahasiswa Indonesia untuk berkembang, berinovasi, dan mengambil bagian dalam persaingan dunia.


