Guru Tak Lagi Sendirian, KIARA-PAUD UT Jadikan AI “Kopilot” untuk Kenali Potensi Anak

TANGERANG – Di dalam satu ruang kelas taman kanak-kanak, tidak ada dua anak yang benar-benar belajar dengan cara yang sama. Ada yang cepat memahami angka, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, sementara yang lain justru menunjukkan potensi lewat cara yang berbeda. Di tengah keragaman itu, guru harus tetap mengajar, mengamati perkembangan, sekaligus mencatat setiap proses belajar.

Persoalan tersebut mendorong peneliti Universitas Terbuka (UT) menghadirkan KIARA-PAUD, ekosistem pembelajaran adaptif berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang sebagai kopilot guru. Inovasi ini membantu memetakan kebutuhan belajar anak usia 4–6 tahun secara real-time, tanpa mengambil alih keputusan guru di dalam kelas.

Uji coba KIARA-PAUD dilakukan bersama TK Puteri Sakinah, Cikokol, Kota Tangerang, Selasa (29/9/2026). Tim riset yang diketuai Yus Alvar Saabighoot, M.Pd., terlebih dahulu mengamati proses pembelajaran secara langsung sebelum melakukan simulasi asesmen diagnostik. Riset tersebut diarahkan Guru Besar UT Prof. Dr. Maximus Gorky Sembiring, M.Sc.

Pendekatan itu bukan tanpa alasan. Tim ingin memastikan teknologi berangkat dari kebutuhan nyata di ruang kelas. Karena itu, ritme pembelajaran, cara guru membagi perhatian, hingga bagaimana mereka mendampingi anak dengan karakter berbeda menjadi bagian penting dalam proses pengamatan.

Dalam pengembangannya, KIARA mengolah berbagai jejak aktivitas anak, mulai dari interaksi, durasi mengerjakan tugas, frekuensi percobaan ulang, hingga catatan observasi guru. Data tersebut kemudian dipetakan melalui Knowledge Graph yang merekonstruksi kurikulum PAUD menjadi jejaring kompetensi.

Selanjutnya, teknologi Deep Learning melalui Graph Neural Network (GNN) dan Long Short-Term Memory (LSTM) digunakan untuk membaca posisi serta perkembangan pola belajar anak secara berkelanjutan. Hasil analisis itu kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi aktivitas dan modul ajar yang dapat digunakan guru.

Dengan begitu, guru tidak perlu terus-menerus mengisi rubrik manual untuk mencatat perkembangan anak. Aktivitas seperti akurasi mencocokkan angka dan objek, durasi berpikir, hingga ketepatan urutan kerja dapat terekam dan diolah menjadi informasi pada dasbor guru.

Namun, kecanggihan teknologi bukanlah pusat dari KIARA. Justru manusialah yang tetap menjadi penentu. Guru dapat menerima, memodifikasi, menunda, bahkan menolak rekomendasi yang diberikan sistem.

“Selama ini guru PAUD dipaksa memilih, mengisi rubrik, atau benar-benar hadir untuk anak. KIARA kami rancang agar guru tidak perlu lagi memilih. Mesin membaca pola, guru membaca hati anak. Hari ini kami belajar banyak dari para guru TK Puteri Sakinah, dan masukan mereka akan membentuk KIARA ke depan,” ujar Yus.

Gagasan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa kebutuhan setiap anak berbeda, sementara kurikulum yang seragam berpotensi mengabaikan Zone of Proximal Development (ZPD), yakni tingkat tantangan yang sesuai untuk mendorong perkembangan optimal anak. Gorky menegaskan bahwa keberagaman peserta didik harus menjadi dasar dalam merancang pembelajaran.

“Anak-anak itu beragam, dan keberagaman itu adalah kenyataan yang harus dihormati, bukan diseragamkan. Kurikulum harus mampu mengakomodasi keberagaman tersebut. Guru sejatinya cakap mengajar dalam konteks pendidikan sesuai dengan keberagaman anak, bukan sesuai dengan keinginan guru,” ujarnya.

Bagi TK Puteri Sakinah, keterlibatan dalam riset ini juga menjadi ruang untuk memastikan teknologi tetap berpihak pada kebutuhan anak. Kepala Sekolah TK Puteri Sakinah Yuliati, S.Pd., Aud., menilai KIARA dapat memperkuat peran guru dalam memahami tumbuh kembang peserta didik.

“Kami percaya setiap anak punya jalannya sendiri untuk tumbuh. Kami senang dapat terlibat sejak awal dan melihat bahwa teknologi ini dirancang untuk menguatkan peran guru, bukan menggantikannya,” ucap Yuliati.

Masukan para guru selanjutnya menjadi bagian dari penyempurnaan KIARA melalui pendekatan Design Based Research (DBR). Selain membantu guru, ekosistem ini juga menyediakan parenting guidance bagi orang tua serta dasbor analitik bagi peneliti untuk menemukan research gap dan mengembangkan inovasi berikutnya.

Saat ini, KIARA ditargetkan mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 6. Uji coba di TK Puteri Sakinah menjadi salah satu pijakan penting bagi tim riset untuk membawa KIARA ke tahap pengembangan selanjutnya. Berbagai masukan dari guru akan menjadi bagian dari proses penyempurnaan sebelum teknologi ini diintegrasikan dengan platform PAUD nasional dan didiseminasikan secara lebih luas. Dari ruang kelas inilah, UT terus mendorong lahirnya inovasi yang dapat memperkuat ekosistem pendidikan anak usia dini sekaligus mendukung tersedianya pendidikan berkualitas.