Tantangan menjaga kesehatan ekosistem laut tidak lagi mengenal batas negara. Berangkat dari kesadaran itu, para akademisi dari Indonesia dan Malaysia berkumpul dalam International Seminar on Marine Biodiversity and Coastal Sustainability: Navigating Ecosystem Health, Innovation and Aquaculture Futures 2026 yang berlangsung di IIUM Centre for Natural & Health Sciences, Kuantan, Malaysia, Rabu (15/7/2026). Pertemuan ilmiah ini menjadi momentum penting lahirnya kolaborasi lintas negara untuk menghadirkan solusi berbasis riset bagi masa depan kelautan, perikanan, dan kesehatan masyarakat.
Seminar internasional tersebut mempertemukan tiga perguruan tinggi, yakni International Islamic University Malaysia (IIUM), Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), dan Universitas Terbuka (UT). Melalui sinergi keilmuan yang saling melengkapi, ketiganya memperkuat komitmen dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari keberlanjutan ekosistem pesisir, inovasi akuakultur, hingga ancaman penyakit zoonosis yang terus berkembang.
Salah satu perhatian utama dalam seminar ini datang dari dosen Universitas Terbuka, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., yang mempresentasikan riset berjudul Implementation of the One Health Approach in Controlling Anisakiasis as an Emerging Zoonosis in Indonesia. Melalui pendekatan One Health, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengendalikan penyakit zoonotik yang dipengaruhi perubahan ekosistem laut serta meningkatnya konsumsi hasil laut di Indonesia.
Seminar ini memang dirancang tidak sekadar menjadi forum berbagi hasil penelitian, melainkan ruang bertemunya berbagai disiplin ilmu untuk membangun kolaborasi yang lebih luas. Hal tersebut sejalan dengan visi IIUM dalam memperkuat jejaring riset internasional.
Dalam sambutan pembukaannya, Dekan Kulliyyah of Science IIUM, Prof. Dr. Kamaruzzaman Yunus, menegaskan bahwa forum tersebut merupakan wujud nyata komitmen institusinya dalam membangun ekosistem riset global.
“Kami tidak hanya berbicara tentang kolaborasi, tetapi kami mewujudkannya melalui program-program konkret yang melibatkan peneliti dari berbagai negara dan latar belakang keilmuan,” tegasnya.
Diskusi kemudian berlanjut melalui empat sesi ilmiah yang dimoderatori Nadia Sabrina. Paparan diawali oleh Dr. Ir. Rose Dewi, S.Kel., M.Si., IPU., ASEAN Eng dari UNSOED yang mengangkat diversifikasi pemanfaatan mikroalga di Indonesia sebagai komoditas strategis untuk sektor pangan, energi, dan farmasi.
Tak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, seminar ini juga menghasilkan kesepakatan awal untuk memperkuat riset kolaboratif di bidang Manajemen Perikanan (S2), Sumber Daya Perairan dan Ilmu Kelautan (S1 dan S2), serta Ilmu Perikanan (S3). Program mobilitas mahasiswa dan pertukaran dosen juga menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama ketiga perguruan tinggi tersebut.
Dukungan terhadap kolaborasi ini turut disampaikan Assoc. Prof. Dr. Mohd Fuad Miskon. Menurutnya, penelitian mengenai pencemaran mikroplastik dan logam berat di perairan menjadi salah satu bidang strategis yang layak dikembangkan secara bersama.
“Kami memiliki fasilitas laboratorium yang memadai di INOCEM dan siap mendukung riset kolaboratif dengan UNSOED dan UT,” ujarnya.
Senada dengan itu, Assoc. Prof. Dr. Normah Harun mengingatkan bahwa keberhasilan riset tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat pesisir.
“Ilmu pengetahuan harus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Selama lima hari, 12–16 Juli 2026, rangkaian kegiatan juga diisi dengan courtesy visit ke KOS Management, kunjungan ke berbagai laboratorium seperti Ocean 1, Ocean 2, INOCEM, Tissue Culture, dan Freeze Dryer, serta eksplorasi kawasan Balok Mangrove, Sg Lembing, Pantai Teluk Chempedak, dan Pulau Ular. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman akademik sekaligus memperkaya pemahaman peserta terhadap pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara IIUM, UNSOED, dan Universitas Terbuka diharapkan menjadi model kerja sama riset lintas negara di Asia Tenggara. Dengan memadukan kekuatan akademik masing-masing institusi, sinergi ini diarahkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan inovasi yang mampu menjawab persoalan ketahanan pangan, kesehatan ekosistem laut, serta pengendalian penyakit zoonotik.
Menutup rangkaian seminar, Prof. Dr. Kamaruzzaman Yunus menegaskan bahwa tantangan global hanya dapat dihadapi melalui kemitraan yang kuat antarperguruan tinggi.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan global. Kolaborasi adalah kunci, dan hari ini kita telah membuktikannya,” pungkasnya.
Kolaborasi ini sekaligus mempertegas peran Universitas Terbuka dalam memperluas jejaring riset internasional dan menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan. Semangat berbagi ilmu, memperkuat inovasi, dan menghasilkan solusi yang berdampak menjadi fondasi penting untuk menjaga kesehatan ekosistem laut sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di kawasan Asia Tenggara.



