TANGERANG SELATAN — Predikat akreditasi unggul bukanlah akhir dari perjalanan sebuah perguruan tinggi. Di balik predikat tersebut, ada pekerjaan yang harus terus berjalan: memastikan tata kelola semakin baik, budaya mutu tumbuh dalam keseharian, dan kompetensi lulusan tetap relevan dengan perubahan dunia kerja.
Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop Forum Manajemen Indonesia (FMI) Wilayah Banten yang digelar di Wisma 2 Universitas Terbuka (UT), Rabu (23/9/2026). Mengangkat tema “Strategi Menuju Akreditasi Unggul melalui Penguatan Tata Kelola, Budaya Mutu, dan Kinerja Berdampak”, kegiatan ini menjadi forum berbagi pengalaman dan praktik baik bagi perguruan tinggi dalam memperkuat mutu pendidikan tinggi.
Workshop diikuti 17 perguruan tinggi dari Banten dan sekitarnya. Sekitar 60 peserta dari bidang ekonomi, manajemen, dan bisnis hadir untuk berdiskusi mengenai tantangan serta strategi pengembangan program studi. Ketua FMI Korwil Banten sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UT, Dr. Meirani Harsasi, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa forum tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat bersama antar perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas program studi.
“Jadi teman-teman ini nanti kalaupun mencapai unggul tidak hanya sekadar di atas kertas. Jadi semangatnya bersama walaupun masih muda kita pengen kita akan menuju ke sana dengan cara lebih baik lagi,” kata Meirani.
Ketua Dewan Eksekutif LAMEMBA, Prof. Dr. Ina Primiana, S.E., M.T., kemudian menggarisbawahi satu kata penting dalam tema kegiatan, yakni “berdampak”. Menurutnya, keberhasilan program studi tidak berhenti pada proses menghasilkan lulusan, tetapi juga perlu dilihat dari kemampuan lulusan untuk terserap dan berkontribusi di dunia kerja.
Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi perlu terus memperbarui kurikulum agar tetap relevan dengan perubahan industri. Perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI), misalnya, turut mengubah jenis pekerjaan yang dibutuhkan sehingga program studi perlu memahami kompetensi apa yang harus dipersiapkan bagi mahasiswa.
“Berarti dibutuhkan kemampuan dari Bapak Ibu di program studi ataukah di fakultas yang memang selalu bersentuhan dengan dunia industri,” ujar Ina.
Ia juga mengingatkan pentingnya kekhasan setiap program studi dalam merumuskan capaian pembelajaran lulusan (CPL). Kompetensi yang terlalu umum berpotensi membuat lulusan memiliki profil yang seragam, sehingga karakteristik dan keunggulan masing-masing program studi perlu diperkuat.
Dalam workshop tersebut, Ina turut menjelaskan pendekatan LAMEMBA melalui penguatan Internal Accreditation Unit (IAU). Pendekatan ini diarahkan untuk membangun budaya mutu sejak proses penyelenggaraan pendidikan berlangsung, bukan baru dipersiapkan ketika masa akreditasi tiba.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Sharing Session bertema “Menuju Program Studi Unggul” yang menghadirkan Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Tri Lestari, S.E., M.Sc., Ph.D., Ak., CA, serta Sekretaris Senat Akademik UT, Dr. Ami Pujiwati, S.E., M.Si. Sesi tersebut membahas pengalaman dan strategi pengembangan program studi, penguatan kualitas akademik, serta pembangunan budaya mutu secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, predikat “unggul” tetap penting, tetapi pekerjaan menjaga mutu tidak selesai ketika predikat itu diperoleh. Ketika tata kelola diperkuat, kurikulum terus membaca perubahan, dan budaya mutu hidup dalam keseharian, akreditasi menjadi bagian dari proses yang lebih besar: memastikan pendidikan tinggi tetap relevan dan lulusannya mampu memberi kontribusi nyata.
Dari titik itulah pesan “berdampak” dalam workshop FMI Banten menemukan maknanya yakni mutu bukan sesuatu yang dipersiapkan menjelang akreditasi, melainkan sesuatu yang dibangun setiap hari.
Semangat tersebut sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu, khususnya dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kolaborasi antar lembaga pendidikan.



