Dari Data ke Strategi, UT Purwokerto Petakan Kompetensi dan Kebutuhan UMKM Banyumas

Di balik setiap produk UMKM Banyumas, ada usaha, keterampilan, dan harapan yang terus dijaga agar tetap tumbuh. Namun, potensi itu akan sulit berkembang jika pelaku usaha belum memiliki informasi yang cukup untuk mengenali kekuatan, kebutuhan, dan arah pengembangan usahanya. Berangkat dari persoalan tersebut, Universitas Terbuka (UT) Purwokerto melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) mendorong penguatan UMKM se-Kabupaten Banyumas dengan menghadirkan pendekatan berbasis data, literasi digital, branding budaya, dan strategi ekonomi. 

Bersama anggota Asosiasi Pengusaha Mikro, Kecil dan Menengah Banyumas (ASPIKMAS), UT Purwokerto tidak sekadar memberikan pendampingan kepada kelompok usaha. Kampus juga membantu membangun database UMKM yang lebih tertata dan terintegrasi agar informasi mengenai karakteristik, jenis usaha, produk, potensi, kebutuhan, hingga perkembangan kelompok usaha dapat dibaca secara lebih jelas. 

Langkah tersebut dimulai melalui survei ulang, identifikasi, dan pemutakhiran data kelompok usaha. Informasi yang terkumpul kemudian digunakan untuk memetakan kelompok usaha berdasarkan jenis produk, potensi ekonomi, kapasitas usaha, kebutuhan pengembangan, serta unsur budaya yang melekat pada produk dan wilayahnya. Pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar agar pendampingan tidak diberikan secara seragam, tetapi dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing kelompok usaha. 

Bagi pelaku UMKM, pendekatan ini membawa manfaat yang lebih konkret. Pemetaan yang lebih rapi memungkinkan kelompok usaha dengan karakteristik dan kebutuhan serupa mendapatkan pendampingan yang lebih sesuai. Di sisi lain, produk yang memiliki keunggulan lokal dan kekayaan budaya Banyumas dapat memperoleh ruang untuk dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif dengan identitas yang lebih kuat. 

Ketua ASPIKMAS menyampaikan, salah satu tujuan strategis pengembangan database adalah menghasilkan pemetaan kelompok usaha yang dapat digunakan untuk proses klasterisasi. Data tersebut juga dapat dikembangkan menjadi prototipe pemetaan kelompok usaha berbasis wilayah sekaligus berbasis karakteristik usaha. 

Ketersediaan data yang lebih terstruktur kemudian membuka peluang bagi pembinaan UMKM untuk bergerak dari pendekatan umum menuju langkah yang lebih spesifik dan berbasis kebutuhan. Data dapat menjadi dasar untuk menentukan prioritas pendampingan, pengembangan kapasitas, penguatan branding, peningkatan literasi digital, hingga strategi ekonomi yang sesuai dengan kondisi masing-masing kelompok usaha. 

Upaya memperkuat kemampuan digital juga menjadi bagian dari program tersebut. Kaprodi Perpustakaan dan Informasi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Umi Haniati, M.A., turut hadir memberikan materi mengenai pentingnya media bisnis dan cloud bisnis untuk mendukung UMKM. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memanfaatkan ruang digital secara lebih strategis dalam mengelola informasi dan mengembangkan bisnis. 

Program ini selanjutnya diarahkan menjadi prototipe inkubasi literasi kelompok usaha di 27 kecamatan se-Kabupaten Banyumas. Ketua Tim, Dewi Maharani Rachmaningsih, M.A., menyampaikan harapan agar prototipe tersebut dapat dikembangkan secara bertahap di seluruh kecamatan. 

Konsep inkubasi literasi yang dibangun tidak berhenti pada kemampuan memahami informasi. Kelompok usaha didorong untuk mampu mengelola data, memahami pasar, membangun identitas produk, menggunakan media digital, serta mengambil keputusan ekonomi berdasarkan informasi yang tersedia. Dengan begitu, proses belajar tidak berhenti ketika kegiatan PKM selesai, tetapi dapat terus tumbuh di dalam komunitas usaha. 

Bagi UT Purwokerto, kegiatan PkM menjadi salah satu ruang untuk membawa pengetahuan dari perguruan tinggi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks UMKM Banyumas, pengetahuan tersebut digunakan untuk membantu pemetaan potensi, penguatan literasi digital, dan pengembangan kapasitas kelompok usaha. 

Bagi pelaku UMKM, data bukan sekadar angka di dalam tabel. Di baliknya ada nama, produk, cerita, dan harapan sebuah usaha untuk terus hidup dan berkembang. Ketika informasi itu mulai tertata, potensi dan kebutuhan dapat terlihat lebih jelas. Dari sanalah langkah pengembangan dapat disusun dengan lebih tepat karena UMKM yang berbeda tidak selalu membutuhkan jawaban yang sama.