TANGERANG SELATAN — Panggung seni tak hanya menjadi tempat untuk menunjukkan siapa yang paling piawai menari. Di balik setiap gerak, ada kreativitas, kerja keras, kolaborasi, sekaligus upaya menjaga cerita budaya Indonesia agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Semangat itulah yang terasa dalam babak final Lomba Seni Tari Festival Talenta Disporseni Nasional Universitas Terbuka (UT) 2026 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Jumat (14/8/2026). Kompetisi ini menjadi panggung bagi talenta mahasiswa dari berbagai daerah sekaligus melahirkan delapan penerima penghargaan dari kategori Tari Tunggal dan Tari Kelompok.
Pada kategori Tari Tunggal, UT Kendari berhasil keluar sebagai Juara 1. Posisi Juara 2 diraih UT Ternate, sedangkan UT Surabaya menempati Juara 3. Sementara itu, UT Pontianak memperoleh penghargaan Harapan.
Persaingan tak kalah menarik terjadi pada kategori Tari Kelompok. UT Kupang berhasil merebut Juara 1, disusul UT Majene sebagai Juara 2 dan UT Pangkalpinang sebagai Juara 3. Penghargaan Harapan diberikan kepada UT Surakarta.
Menariknya, karya yang tampil di babak final bukan sekadar tarian yang dibawakan ulang. Ketua Lomba Seni Tari Disporseni Nasional UT 2026, Gunawan Wiradharma, M.Si., M.Hum., mengatakan seluruh karya yang masuk final merupakan garapan baru hasil kolaborasi koreografer dengan mahasiswa UT.
“Mahasiswa UT memiliki potensi yang luar biasa dalam melestarikan budaya Nusantara dari berbagai daerah. Hal ini terbukti dari seluruh peserta yang berhasil melangkah dan bertanding di babak final sepenuhnya adalah mahasiswa UT,” ujar Gunawan.
Ajang tersebut merupakan bagian dari rangkaian Disporseni Nasional UT 2026 yang mengusung tema “Sportivitas dan Kreativitas untuk Prestasi Negeri”. Pesertanya datang dari beragam latar belakang, mulai dari mahasiswa 39 UT Daerah dan UT Layanan Luar Negeri, mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta, hingga pelajar SMA/SMK/MA sederajat.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UT, Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., menilai ruang berkesenian memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.
“Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk membuka sebuah perlombaan seni. Kita membuka panggung bagi keberanian, kreativitas, dan pelestarian budaya bangsa,” tegas Prof. Rahmat.
Menurutnya, pengalaman berkesenian menjadi bagian dari proses pendidikan karena dapat melatih disiplin, kerja tim, kepercayaan diri, sekaligus sikap menghargai karya orang lain.
Pandangan serupa disampaikan Dekan FHISIP UT melalui Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Layanan Pembelajaran, dan Kerja Sama FHISIP UT, Anto Hidayat, S.IP., M.Si. Menurutnya, keterlibatan peserta dari berbagai institusi dan wilayah menjadi nilai strategis kegiatan tersebut.
“Dengan melibatkan peserta secara luas, diharapkan kegiatan ini dapat memupuk rasa cinta terhadap budaya, menjadi ajang silaturahmi, tempat menyalurkan kreativitas, dan menorehkan prestasi,” ungkapnya.
Dari Kendari hingga Surakarta, deretan pemenang memperlihatkan satu hal: keberagaman budaya Indonesia dapat menemukan panggungnya melalui kreativitas generasi muda. Semangat tersebut sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan, khususnya dalam penguatan pendidikan sekaligus pelestarian warisan budaya.
Festival Talenta Disporseni UT 2026 sendiri masih berlanjut hingga 20 Agustus 2026. Setelah final Seni Tari pada 14 Agustus, rangkaian kompetisi dilanjutkan dengan Final Modern Dance pada 15 Agustus, Monolog pada 16–17 Agustus, Stand Up Comedy pada 18 Agustus, serta Seni Suara Mahasiswa (UT Idol) dan Kompetisi Suara Persahabatan (KSP) Pegawai pada 19–20 Agustus.
Pada akhirnya, kemenangan UT Kendari dan UT Kupang bukan hanya soal trofi. Di atas panggung itu, para mahasiswa menunjukkan bahwa budaya bisa terus tumbuh ketika diberi ruang, dirawat dengan kreativitas, dan diwariskan melalui karya. Dari satu gerakan tari, lahir pesan bahwa keberagaman Indonesia bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga untuk terus dirayakan.



