Bayangkan seorang guru sekolah dasar berdiri di depan kelas. Alih-alih menunggu jam pelajaran bahasa Inggris dimulai, ia menyelipkan satu-dua kalimat sederhana dalam bahasa Inggris saat memberi instruksi kepada murid. Perlahan, kata-kata yang semula terdengar asing menjadi bagian dari keseharian. Anak-anak mendengar, menirukan, lalu terbiasa.
Dari kebiasaan-kebiasaan kecil semacam itulah budaya berbahasa dibangun.
Semangat tersebut dibawa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBIS), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka (UT) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SDN 1 Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten.
Mengusung tema “Penguatan Lingkungan Berbahasa Inggris di Sekolah Dasar: Membentuk Kebiasaan Berbahasa Sejak Dini”, kegiatan yang berlangsung 17 Juni hingga 5 Agustus 2026 itu menjadi langkah UT mempersiapkan guru menghadapi dinamika pendidikan dasar yang terus berubah, termasuk rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mewajibkan mata pelajaran bahasa Inggris di tingkat SD pada 2027.
Ketua PkM PBIS, Dwi Rezki Hardianto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah proaktif UT dalam menyongsong perubahan kebijakan pendidikan dasar. Lebih dari itu, PkM ini menjadi ruang hilirisasi hasil riset akademik mengenai strategi membangun kultur serta metode pembelajaran bahasa Inggris yang menarik dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Di titik inilah persoalan yang lebih besar muncul. Ketika bahasa Inggris nantinya semakin dekat dengan keseharian siswa SD, guru menjadi sosok yang berada paling depan. Mereka bukan hanya dituntut memahami materi, tetapi juga perlu memiliki cara kreatif untuk membuat bahasa Inggris terasa dekat, menyenangkan, dan tidak menakutkan bagi anak.
Karena itu, pelatihan dirancang dengan pendekatan yang lebih aktif melalui gamification dan project-based learning (PjBL). Menurut Dwi Rezki, metode tersebut relevan dengan karakteristik peserta yang berasal dari generasi Z dan milenial.
Hasil evaluasi menunjukkan dampak yang cukup signifikan. Nilai rata-rata peserta mengalami peningkatan yang cukup tajam setelah mengikuti pelatihan dibandingkan sebelum kegiatan berlangsung.
Namun, bagi Dwi Rezki, angka tersebut bukanlah garis akhir.
Ia menekankan, keberhasilan sesungguhnya bukan sekadar nilai evaluasi ataupun sertifikat yang dibawa pulang peserta, melainkan bagaimana pengetahuan yang diperoleh benar-benar diterapkan secara berkelanjutan di sekolah masing-masing.
Dukungan terhadap langkah tersebut datang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak. Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Bahasa dan Sastra (BKBS), Iwan Setiawan, S.Pd., M.M., menilai sinergi antara UT dan pemerintah daerah sebagai investasi penting bagi sumber daya manusia pendidikan.
Terlebih, sekitar 1.000 guru di Kabupaten Lebak diperkirakan akan memasuki masa purnabakti hingga 2030. Kondisi ini membuat kehadiran guru-guru muda yang kompeten menjadi semakin penting untuk menjaga keberlanjutan dan mutu pendidikan di daerah.
Bagi SDN 1 Tambakbaya, kehadiran UT juga menjadi kesempatan untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Kepala SDN 1 Tambakbaya, Aat Solihat, S.Pd., M.M., mengaku bersyukur sekolahnya dipilih sebagai lokasi PkM dan berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut hingga menjangkau lebih banyak guru di Kecamatan Cibadak.
Sementara bagi peserta, manfaatnya terasa dalam cara mereka memandang pembelajaran bahasa Inggris. Linda Desti Fatimah, guru SDN 3 Tambakbaya, mengaku memperoleh perspektif baru bahwa bahasa Inggris tidak harus selalu menunggu jam pelajaran tertentu.
Bahasa Inggris, menurutnya, dapat disisipkan dalam instruksi harian di kelas. Dengan begitu, siswa tidak hanya mengenal bahasa Inggris sebagai teori, tetapi mulai berinteraksi dengannya dalam situasi yang lebih natural.
Penguatan kompetensi guru ini merupakan hasil kolaborasi dosen PBIS dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UT bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak. Kolaborasi lintas program studi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan penguatan kompetensi guru berjalan dari sisi keilmuan sekaligus praktik pembelajaran.
Pada akhirnya, perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan yang terdengar megah. Kadang, ia justru bermula dari sebuah kelas sederhana, dari seorang guru yang berani mencoba cara baru, dan dari satu kalimat bahasa Inggris yang perlahan menjadi kebiasaan.
Dari Tambakbaya, UT ingin memastikan bahwa ketika bahasa Inggris semakin dekat dengan keseharian anak-anak di sekolah dasar pada 2027, para guru telah memiliki bekal untuk mengajarkannya dengan cara yang lebih kreatif dan menyenangkan. Mereka tidak hanya bersiap menghadapi perubahan, tetapi mulai membangun lingkungan belajar yang membuat bahasa Inggris terasa bukan sebagai beban, melainkan sebagai jendela menuju dunia yang lebih luas.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen terhadap SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, melalui peningkatan kompetensi pendidik dan penciptaan lingkungan pembelajaran yang mendukung peserta didik untuk berkembang menghadapi tantangan masa depan.

