Lantik Sejumlah Pejabat, UT Percepat Transformasi Digital dan Bidik Daya Saing Global

TANGERANG SELATAN — Jabatan boleh berganti, tetapi semangat pengabdian harus terus berlanjut. Bagi Universitas Terbuka (UT), pergantian kepemimpinan bukan sekadar pergantian nama dalam struktur organisasi. Di balik setiap amanah baru, tersimpan harapan untuk memperkuat kualitas pendidikan, mempercepat transformasi digital, dan membawa UT semakin diperhitungkan di kancah global.

Semangat tersebut mengemuka dalam Pelantikan Pejabat di Lingkungan Universitas Terbuka yang dipimpin Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., pada Kamis (1/10/2026). Pelantikan ini menjadi bagian dari penataan organisasi untuk menghadirkan pendekatan kerja yang lebih progresif, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan pendidikan tinggi.

Prosesi pelantikan dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 20098 dan 20099/M/KPT.KP/2026 tanggal 19 Agustus 2026 tentang pengangkatan pejabat fungsional Pranata Keuangan APBN Penyelia pada UT.

Selain itu, pelantikan mengacu pada Keputusan Rektor Universitas Terbuka Nomor 2271 Tahun 2026 tanggal 30 September 2026 tentang pemberhentian dengan hormat sejumlah pejabat, serta Keputusan Rektor Universitas Terbuka Nomor 2271 Tahun 2026 tanggal 30 September 2026 dan Nomor 2280 Tahun 2026 tanggal 1 Oktober 2026 tentang pemberian tugas tambahan atau jabatan di lingkungan UT. Daftar lengkap pejabat beserta jabatannya tercantum dalam lampiran.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi kepada para pejabat yang telah menuntaskan masa pengabdiannya. Menurutnya, penyesuaian organisasi diperlukan untuk menghadirkan suasana dan pendekatan baru yang mampu mempercepat pencapaian cita-cita universitas.

Salah satu perhatian strategis diarahkan pada penguatan Sekolah Pascasarjana (SPs). Rektor menargetkan SPs dapat berkembang menjadi salah satu flagship UT dalam satu hingga dua tahun mendatang, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Upaya tersebut mencakup pengembangan program studi unggulan, penguatan akreditasi, serta peningkatan reputasi akademik. Bersama Sekolah Vokasi, SPs diharapkan menjadi kekuatan penting dalam memperluas kontribusi UT pada pendidikan tinggi global.

Sejalan dengan penguatan akademik, transformasi digital juga menjadi agenda yang terus dipercepat. Pengembangan aplikasi Lentera, aplikasi Inovasi, Learning Management System (LMS), serta digitalisasi layanan ujian menunjukkan arah pembaruan ekosistem pembelajaran UT.

Namun, Rektor menegaskan bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi kualitas substansi pembelajaran. Karena itu, penguatan konten bahan ajar, materi pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar menjadi prioritas agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang semakin berkualitas.

Pembenahan juga menyasar penguatan layanan alumni, pengembangan UT Jakarta 2 berbasis digital, serta pendekatan berbasis data dalam sosialisasi, pemasaran, dan perluasan daya jangkau. Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk mempersiapkan kapasitas UT dalam melayani hingga satu juta mahasiswa.

Di tengah berbagai target tersebut, Rektor mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem maupun strategi, tetapi juga integritas setiap individu yang menjalankan amanah. Bagi Rektor, integritas bukan sekadar nilai yang diucapkan dalam sumpah jabatan, melainkan harus tercermin dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Dalam pengambilan sumpah jabatan, para pejabat menyatakan komitmen untuk menjunjung etika jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab, menjaga integritas, serta tidak menyalahgunakan kewenangan. Komitmen tersebut menjadi landasan penting dalam menjalankan setiap amanah yang diberikan.

“Kita bekerja dengan seluruh integritas kita, satunya kata dengan perbuatan, satunya hobi dengan tindakan,” ujar Rektor.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa integritas perlu diwujudkan melalui konsistensi antara apa yang disampaikan dan apa yang dikerjakan. Para pimpinan juga diharapkan mampu menuntaskan hal-hal yang masih perlu dibereskan, membangun komunikasi secara internal, serta menyelesaikan persoalan bersama agar harmoni organisasi tetap terjaga.

“Kita ini satu tubuh, satu badan yang berjuang bersama, dan memiliki arah tujuan yang jelas,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa setiap perubahan harus bermuara pada kepentingan bersama. Integritas, kolaborasi, tanggung jawab, dan kesinambungan pengabdian menjadi fondasi untuk menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang semakin inklusif dan berkualitas.

Semangat ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

Pada akhirnya, pelantikan bukan sekadar tentang siapa yang menerima jabatan, melainkan tentang bagaimana kepercayaan diwujudkan menjadi kerja nyata. Sebab, masa depan UT tidak dibangun oleh satu orang atau satu generasi kepemimpinan, tetapi oleh mereka yang terus bergerak bersama, menjaga amanah, menyatukan kata dengan perbuatan, dan memastikan pendidikan berkualitas dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.