UT Perkuat Pemberdayaan Disabilitas, Fokus pada Keterampilan, Kepercayaan Diri, dan Kesempatan Kerja

Bagi penyandang disabilitas, kemandirian tidak lahir hanya dari motivasi. Ia tumbuh ketika ada lingkungan yang memberi ruang, akses, keterampilan, dan kepercayaan bahwa setiap orang berhak punya masa depan yang sama kuatnya. Dari semangat itulah Universitas Terbuka (UT) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Strategi Pemberdayaan Kemandirian Disabilitas Berbasis Rencana Aksi Kolaboratif” pada 15 Juni 2026.

Kegiatan ini menjadi titik temu berbagai pihak untuk membahas satu hal penting: bagaimana pemberdayaan penyandang disabilitas tidak berhenti sebagai program, tetapi bergerak menjadi aksi bersama yang berkelanjutan. Melalui forum tersebut, UT memaparkan hasil pelaksanaan program, mendengarkan masukan dari para pemangku kepentingan, serta menyusun langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan secara kolaboratif.

FGD ini didukung pendanaan Program Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY) Universitas Terbuka Tahun 2025–2026 yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen UT dalam memperkuat kualitas pengabdian kepada masyarakat, terutama pada isu pendidikan inklusif, pengurangan kesenjangan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Forum ini menghadirkan akademisi, praktisi, organisasi penyandang disabilitas, pemerintah daerah, mitra masyarakat, serta unsur terkait lainnya. Kehadiran berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa isu disabilitas tidak dapat dijawab oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan kerja bersama agar penyandang disabilitas, termasuk siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB), memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan nyata mereka.

Dalam diskusi, peserta mengevaluasi hasil program PkM yang telah berjalan. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan, dan peluang kolaborasi dibahas untuk merumuskan strategi pemberdayaan yang lebih efektif. Isu yang mengemuka tidak hanya soal akses pendidikan, tetapi juga pelatihan keterampilan, peningkatan rasa percaya diri, kesempatan kerja, pemanfaatan teknologi digital, hingga pentingnya ekosistem sosial yang lebih inklusif.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada LPDP atas dukungannya melalui pendanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Terbuka. Melalui program ini, tim kami berfokus pada pemberdayaan siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB), khususnya peserta didik penyandang disabilitas. Besar harapan kami, program ini dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kemandirian, rasa percaya diri, serta membekali mereka dengan keterampilan agar mampu menjadi pribadi yang lebih mandiri di masa depan,” ujar Dra. Yulia Budiwati, M.Si.

Dalam sesi diseminasi, tim pelaksana juga memaparkan capaian program, mulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat, penguatan kapasitas individu penyandang disabilitas, pengembangan jejaring kemitraan, hingga penyusunan rencana aksi kolaboratif. Pendekatan ini menempatkan penyandang disabilitas bukan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai individu yang memiliki potensi untuk tumbuh, berdaya, dan mengambil peran dalam masyarakat.

Dewi Maharani Rachmaningsih, M.A. menyampaikan bahwa keberpihakan terhadap penyandang disabilitas harus diwujudkan melalui kesempatan yang konkret.

“Setiap penyandang disabilitas memiliki potensi yang luar biasa. Tugas kita bersama adalah menghadirkan lingkungan yang inklusif dan memberikan kesempatan agar potensi tersebut dapat berkembang. Kami berharap program ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian dan masa depan yang lebih baik bagi para siswa SLB.”

Kegiatan ini juga menegaskan posisi UT sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi turut hadir dalam penyelesaian persoalan sosial melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas, pengurangan kesenjangan, pekerjaan layak, serta kemitraan untuk mencapai tujuan.

Di akhir kegiatan, para peserta menyatakan komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor. Rencana aksi yang telah disusun bersama diharapkan menjadi pijakan program lanjutan yang lebih inklusif, inovatif, dan berdampak luas.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemberdayaan bukan hanya terselenggaranya sebuah kegiatan, melainkan ketika penyandang disabilitas benar-benar memiliki kesempatan untuk melangkah lebih percaya diri, lebih mandiri, dan lebih setara di tengah masyarakat.