TANGERANG SELATAN, 25 November 2025 — Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) pagi itu dipenuhi oleh ratusan wisudawan yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka datang untuk menghadiri wisuda UT dimana ruang perjumpaan, ruang refleksi, dan ruang untuk merayakan perjalanan panjang yang telah mereka tapaki—sebuah perjalanan yang sering kali dilakukan di tengah kesibukan bekerja, mengasuh keluarga, atau hidup jauh dari pusat kota.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktianto, S.E., M.Si., menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar seremoni akademik, tetapi penanda keteguhan hati para wisudawan yang telah membuktikan bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia, jarak, maupun profesi. “Banyak di antara kita adalah para pekerja, orang tua, atau tinggal jauh dari pusat kota. Namun dengan tekad, disiplin, dan semangat belajar sepanjang hayat, para wisudawan semua berada di sini,” ujarnya penuh kebanggaan.

Prof. Ali juga mengingatkan kembali pesan Mendikdasmen pada seminar akademik sehari sebelumnya: bahwa generation gap bukanlah pemisah, melainkan peluang untuk menyatukan pengalaman generasi senior dengan kreativitas generasi muda. Di titik itulah Universitas Terbuka berdiri sebagai jembatan—mengintegrasikan pendidikan formal, nonformal, dan pendidikan sepanjang hayat menjadi satu ruang pembelajaran yang inklusif.
Ia menjelaskan bahwa UT sejak awal dirancang tanpa batas ruang dan waktu, menghadirkan fleksibilitas sebagai kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Melalui microcredential, sertifikasi, kolaborasi industri, hybrid learning, hingga pemanfaatan AI dalam pembelajaran, UT memastikan setiap lulusan siap menghadapi transformasi digital dan tuntutan dunia kerja modern.
“Implikasinya adalah UT bukan lagi alternatif, tapi UT adalah tujuan kita semua,” tegas Prof. Ali. Pernyataan itu menggarisbawahi posisi UT yang semakin kokoh sebagai pionir pembelajaran jarak jauh modern yang selaras dengan misi SDGs, terutama komitmen menghadirkan pendidikan berkualitas untuk semua (SDG 4).
Dengan jumlah mahasiswa yang mencapai 768.248 orang dan lebih dari 2 juta alumni, UT kini menjadi salah satu kekuatan besar dalam membangun SDM unggul Indonesia. Tahun ini, 41.340 lulusan resmi ditetapkan, dan 1.395 wisudawan hadir secara langsung dalam prosesi di UTCC.
“Angka ini menegaskan bahwa UT terus menjadi pilar pendidikan tinggi yang inklusif, memberikan kesempatan bagi siapapun untuk belajar tanpa batas ruang dan waktu,” ucapnya.
Beberapa figur inspiratif turut diperkenalkan, seperti Zainal Arifin, wisudawan tertua berusia 63 tahun dari UT Serang, serta Rojwa Faiha Sania Fakhri, wisudawan termuda dari UT Surabaya yang baru berusia 21 tahun. Hadir pula pasangan suami istri dari Banjarmasin dan Kupang, serta lulusan terbaik S2, Asihon Siallagan dengan IPK sempurna 4.0. “Keberhasilan Anda adalah bukti bahwa belajar tidak mengenal batas usia dan profesi,” kata Prof. Ali.
Dalam sesi tanya jawab dengan media, UT juga menjelaskan kesiapan memasuki era microcredential melalui aplikasi LENTERA, sistem baru yang memungkinkan mahasiswa mengambil modul pembelajaran secara fleksibel sesuai kebutuhan. Terkait serapan kerja, Prof. Ali menegaskan bahwa 82 persen mahasiswa UT sudah bekerja sejak awal masuk, dan sisanya menyusul bekerja pada semester-semester awal. “DNA UT adalah pengabdian masyarakat,” ujarnya, menegaskan bahwa UT tidak hanya mengajar, tetapi melekatkan pembelajaran langsung ke dunia kerja.
Menutup wisuda, Prof. Ali menegaskan kembali bahwa wisudawan hari ini bukan hanya penerima manfaat pendidikan, tetapi pembawa manfaat bagi masyarakat. “Bangsa Indonesia menantikan karya Anda,” tuturnya.


Wisuda hari itu menjadi ruang harapan—ruang yang mengingatkan para wisudawan bahwa ilmu yang mereka genggam bukan sekadar gelar, melainkan janji untuk terus melangkah, memberi manfaat, dan menjaga nilai-nilai integritas, adaptif, serta kolaboratif yang ditanamkan Universitas Terbuka.


