Melangkah dengan Inovasi: Belajar Tanpa Sekat, Berkarya Tanpa Batas Bersama Wisudawan UT 2025/2026

Tangerang Selatan, 28 Oktober 2025 — Suasana penuh semangat menyelimuti Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) pagi itu. Ratusan wisudawan Universitas Terbuka (UT) Tahun Akademik 2025/2026 Ganjil Wilayah 1 hadir dengan wajah berseri, menandai puncak perjalanan panjang yang ditempuh dengan ketekunan dan inovasi. Di balik toga dan senyum bangga mereka, tersimpan kisah luar biasa tentang daya juang dan keyakinan bahwa pendidikan tidak mengenal batas.

Dengan mengusung tema “Melangkah dengan Inovasi, Wujudkan Generasi Cemerlang,” wisuda kali ini menjadi refleksi atas komitmen UT dalam menghadirkan sistem pendidikan tinggi yang fleksibel, inklusif, dan berdaya saing global. Selama lebih dari empat dekade kiprahnya, UT terus menjadi pelopor pendidikan terbuka dan jarak jauh (PTTJJ) di Indonesia, membuka akses pendidikan bagi lebih dari 760 ribu mahasiswa aktif dan melahirkan lebih dari dua juta alumni yang berkiprah di berbagai bidang.

Sekitar 1.306 wisudawan mengikuti prosesi pengukuhan yang dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. Acara diawali dengan pembacaan SK Pengukuhan Lulusan oleh Firmansyah, S.Kom., M.M., dan dilanjutkan dengan penghargaan bagi lulusan berprestasi. Dua di antaranya meraih IPK sempurna 4,00, yakni Mira Syahraini, lulusan Program Doktor Ilmu Manajemen UT Padang, dan Roza Amelia, lulusan Magister Manajemen UT Jakarta.

Namun yang paling menyita perhatian publik pada wisuda UT kali ini adalah dua sosok inspiratif di antara barisan toga hitam itu. Tantriani Dewi Martadinata, anggota DPRD Kabupaten Bandung, dan Dr. Taufiq Supriadi, Kepala Sekretariat DJPKN I BPK RI, sama-sama membuktikan bahwa kesibukan mengabdi kepada negara bukan alasan untuk berhenti belajar. Keduanya berhasil menyelesaikan studi di tengah padatnya tugas publik, menjadi teladan nyata tentang semangat belajar sepanjang hayat dan nilai yang menjadi fondasi utama Universitas Terbuka.

“Ilmu hukum di UT ini bisa diaplikasikan di seluruh tempat. Tidak hanya itu, open learning yang dimiliki UT punya dampak yang sangat besar, dan ini sudah saya buktikan sendiri,” ujar Dr. Taufiq Supriadi.

Di sela prosesi yang khidmat, lagu yang dibawakan oleh Nurul Qolby, mahasiswi PGSD UT Majene, menambah keharuan suasana. Suaranya yang lembut membawa hadirin pada refleksi tentang perjuangan di balik setiap gelar yang diraih dari mahasiswa yang belajar di pelosok dengan sinyal terbatas, hingga ibu rumah tangga yang menulis tugas akhir di sela mengasuh anak.

Momentum wisuda juga menjadi ajang memperkuat sinergi antara kampus dan alumni. Dalam prosesi simbolik, Rektor UT menyerahkan para lulusan kepada Ikatan Alumni Universitas Terbuka (IKA-UT) sebagai wujud kesinambungan kontribusi UT terhadap pembangunan masyarakat dan bangsa.

Lebih dari sekadar seremoni akademik, wisuda ini mempertegas peran UT dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 10 (Mengurangi Kesenjangan). Dengan model pembelajaran fleksibel dan berbasis teknologi, UT membuka akses pendidikan tanpa batas ruang dan waktu — menjangkau daerah terpencil, pekerja, hingga diaspora Indonesia di luar negeri.

Universitas Terbuka terus membuktikan bahwa inovasi bukan sekadar wacana, melainkan napas yang menggerakkan seluruh ekosistem akademiknya. Melalui wisuda ini, UT kembali menegaskan perannya sebagai rumah bagi pembelajar sepanjang hayat, tempat di mana setiap orang, dari mana pun latar belakangnya, dapat melangkah dengan inovasi untuk mewujudkan generasi cemerlang.