“Setiap pelajaran tidak hanya dipandang sebagai sehelai kertas dan pulpen, melainkan sebagai jendela untuk memahami dunia yang lebih luas.”
Tangerang Selatan 18/10/2024 – Mengisahkan Aditia Rama Pratama atau akrab disapa dengan panggilan Tama, mahasiswa program studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Terbuka (UT), memberanikan diri untuk merangkak keluar dari zona nyaman dan menjelajahi dunia melalui salah satu program Kampus Merdeka yaitu Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM).
Tama menjelaskan bahwa, “Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) adalah salah satu program kampus merdeka yang diusung oleh Kemendikbudristek dan telah berhasil mengubah pola pikir saya sebagai seorang mahasiswa. “Program pertukaran mahasiswa merdeka tidak hanya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri secara akademis, tetapi juga sukses mengukir petualangan kebudayaan yang sulit untuk dilupakan,” ujarnya.


Jauh dari kampung halaman di Sumatera, Tama berkesempatan terbang ke Pulau Sulawesi tepatnya di Provinsi Gorontalo. Mengikuti Program Pertukaran Merdeka adalah impian yang Tama ingin gapai sejak awal kuliah. Tama tertarik untuk menggali keunikan budaya lokal, serta mengeksplorasi pendekatan pendidikan yang berbeda dari kampus asal Tama.
Terkait dengan proses pendaftaran hingga menjalani seleksi program, Tama menjelaskan, “Perjalanan saya selama mendaftar PMM tak jarang mendapati lika-liku, salah satunya ketika harus mengurus berkas-berkas pendaftaran, mulai dari Surat Pertanggungjawaban Mahasiswa (SPTJM), Surat Rekomendasi (SR), Surat Keterangan Sehat, Asuransi Kesehatan, Buku Tabungan, dan berbagai persiapan lainnya.”


Selain itu, dengan mengikuti program PMM ini, Tama harus beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru, di mana di kampus asalnya yaitu Universitas Terbuka adalah kampus yang menerapkan pembelajaran secara online. Cukup berbeda dengan Universitas Negeri Gorontalo dimana mahasiswa diharuskan bertemu secara tatap muka dengan dosen untuk mendapatkan materi pembelajaran.
“Berbicara bahasa Indonesia memang sudah saya kuasai, tapi bahasa daerah menjadi tantangan baru yang harus dihadapi. Namun saya berhasil melewati semua rintangan dengan dibantu teman-teman mahasiswa serta berhasil menyelesaikan studi selama satu semester di kampus merah maroon, Universitas Negeri Gorontalo dengan nilai yang cukup memuaskan. Bahkan, teman-teman di Kampus hingga saat ini menganggap PMM 3 sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Gorontalo.” Demikian yang dituturkan oleh Tama dalam ceritanya selama mengikuti program PMM.
Tidak hanya itu, Tama tidak hanya menjadi peserta dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, tetapi juga memegang peran penting dan diamanahkan sebagai Kepala Suku atau Pemimpin dari Mahasiswa PMM di Universitas Negeri Gorontalo yang terpilih secara demokratis. Sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas 150 mahasiswa, pengalaman ini tidak hanya menjadi sebuah amanah, melainkan sebuah perjalanan pembelajaran yang luar biasa. Memimpin sejumlah besar mahasiswa yang memiliki latar belakang berbeda membuka pintu bagi sosok seorang Tama untuk menghadapi tantangan yang beragam serta meningkatkan keterampilan dalam memimpin.
Tama juga menceritakan lebih lanjut mengenai pengalamannya selama mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, “Pengalaman paling berkesan saya dapatkan ketika mengikuti tradisi upacara walima di Desa Bongo Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW yang diadakan dengan amat meriah. Dalam tradisi tersebut, pada malam harinya masyarakat berkumpul untuk melakukan dikili sebuah syair yang dilagukan dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Gorontalo. Dilanjutkan masyarakat akan mengarak kue kolombengi ke masjid pada pagi harinya. Kue tersebut nantinya akan dibagi kepada masyarakat yang hadir. Bahkan, pengunjung dapat dengan mudah menemukan replika kue yang menjadi hiasan dan ciri khas desa. Sebuah kesempatan yang luar biasa dapat ikut menyaksikan secara langsung tradisi ini.”
Sebagai penutup, Tama mengungkapkan bahwa perjalanan melalui Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Negeri Gorontalo bukan hanya membuka matanya terhadap keberagaman budaya dan metode pembelajaran yang berbeda, tetapi juga mengubah dia menjadi pribadi yang lebih tangguh dan responsif.
Gorontalo, dengan segala keunikan budaya dan alamnya, telah menjadi pelajaran hidup yang tak terlupakan. Saya percaya bahwa pengalaman ini tidak hanya memberikan kontribusi pada perkembangan pribadi saya, tetapi juga menciptakan jejak positif bagi pertukaran budaya dan pendidikan di Indonesia.
“Terima kasih Gorontalo, atas petualangan luar biasa ini. Terima kasih Kemendikbudristek, Universitas Terbuka, dan semua pihak yang terlibat, atas kesempatan menjadi pemimpin dan peserta dalam program yang begitu berharga ini. Semoga mahasiswa yang lainnya dapat menemukan kekayaan dan inspirasi sebanyak yang saya temukan di Teluk Tomini, Sulawesi. Selamat berpetualang,” tangkasnya.



