UT Ajak Santri Nurul Ihsan Jadi “Green Rangers”, Kelola Sampah hingga Kembangkan UMKM Pesantren

TANGERANG SELATAN — Sampah yang selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan mulai diperkenalkan sebagai peluang bagi santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan, Kranggan, Serpong. Melalui program “Santri Green Rangers”, Universitas Terbuka (UT) membekali santri dengan keterampilan mengelola sumber daya, mengembangkan kewirausahaan sosial, hingga memasarkan produk pesantren secara digital. 

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Santri Green Rangers: Pemberdayaan Pemuda Pesantren dalam Sociopreneurship Bio-Sirkular Berbasis SDGs” tersebut digelar pada 19 September 2026. Kegiatan ini melibatkan santri, pengurus pesantren, serta masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya UT mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.  

Bagi UT, santri tidak hanya memiliki peran sebagai penerus nilai-nilai keagamaan, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak perubahan di lingkungan sekitarnya. Karena itu, pendekatan yang diberikan tidak berhenti pada pemahaman mengenai lingkungan, tetapi diarahkan hingga pada keterampilan yang dapat mendukung kemandirian ekonomi pesantren. 

“Santri bukan hanya penerus tradisi keagamaan, tetapi juga agen perubahan yang dapat menggerakkan kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan di lingkungan pesantren masing-masing,” ujar Ketua Tim PkM UT, Dr. Vivi Indra Amelia Nasution, M.A.  

Semangat tersebut sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui pembelajaran yang memberikan keterampilan praktis dan relevan bagi masyarakat. Dalam program ini, pengetahuan tidak hanya disampaikan melalui materi, tetapi langsung diterjemahkan menjadi praktik yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren. 

Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah sociopreneurship, yang menggabungkan aktivitas kewirausahaan dengan upaya menyelesaikan persoalan sosial. Santri diajak melihat sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi. Konsep seperti bank sampah, kompos organik, dan kerajinan dari plastik diperkenalkan sebagai alternatif yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.  

Pendekatan tersebut sekaligus memperkenalkan semangat SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Ketika barang yang semula dianggap limbah dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali, siklus penggunaan sumber daya menjadi lebih panjang sekaligus membuka peluang ekonomi baru. 

Pembelajaran kemudian berlanjut pada praktik pembuatan molase untuk bioflok. Santri mempelajari fungsi molase sebagai sumber karbon bagi bakteri pembentuk flok sekaligus memahami tahapan membuat molase alternatif menggunakan gula aren. Prosesnya dilakukan mulai dari pelarutan dan perebusan hingga aktivasi menggunakan probiotik perikanan selama 24 jam.  

Tidak berhenti pada lingkungan dan produksi, UT juga membekali santri dengan kemampuan membawa produk pesantren ke ruang digital. Melalui sesi branding dan marketing UMKM pesantren, peserta mempelajari cara membangun identitas merek, menentukan target pasar, membuat foto produk sederhana, serta memanfaatkan WhatsApp Business, Instagram, TikTok, Google Business Profile, dan kecerdasan buatan (AI) untuk promosi. Program ini menargetkan peningkatan penjualan produk UMKM pesantren hingga 20 persen.  

Keterampilan tersebut memperkuat semangat SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan membuka wawasan santri bahwa aktivitas ekonomi dapat dibangun dari persoalan yang ada di lingkungan mereka sendiri, sekaligus tetap membawa manfaat sosial dan lingkungan. 

Komitmen itu kemudian diwujudkan melalui penyerahan hibah berupa bibit tanaman dan peralatan pengolahan sampah, yang ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST). Penanaman pohon bersama menjadi simbol bahwa pembelajaran yang diberikan tidak berhenti ketika kegiatan selesai.  

Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ihsan, Ustadz H. Sobari, menyambut baik program tersebut karena dinilai memberikan ilmu sekaligus keterampilan dan sarana nyata bagi santri untuk menjaga lingkungan serta membangun kemandirian ekonomi.  

Melalui Santri Green Rangers, UT memperlihatkan bahwa pendidikan dapat bergerak lebih jauh dari ruang kelas: hadir di tengah komunitas, menjawab persoalan lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi. Ke depan, UT berkomitmen memperluas program serupa ke pesantren lain di berbagai wilayah Indonesia agar semakin banyak santri yang berdaya secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.