TANGERANG SELATAN — Bagaimana jika kuliah tidak hanya membawa seseorang menuju gelar sarjana, tetapi juga membuka jalan untuk menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri bahkan orang lain? Pertanyaan itulah yang terasa relevan ketika dunia kerja dan ekonomi menghadapi perubahan yang semakin cepat.
Ketidakpastian ekonomi global, perkembangan teknologi digital, hingga tuntutan terhadap keberlanjutan membuat perguruan tinggi perlu menyiapkan lulusan yang lebih adaptif. Pendidikan tidak cukup hanya berhenti pada transfer ilmu, tetapi juga harus mampu membuka akses terhadap keterampilan, jejaring, dan peluang baru.
Semangat tersebut menjadi salah satu perhatian Universitas Terbuka (UT) melalui 9th International Seminar on Business, Economics, Social Science, and Technology (ISBEST) 2026. Mengusung tema “Navigating Economic Uncertainty: Sustainability, Digital Transformation, and Inclusive Growth in a Fragmented Global Economy”, ISBEST 2026 mempertemukan akademisi, pemerintah, pelaku industri, wirausahawan, peneliti, dan mahasiswa untuk membicarakan tantangan sekaligus peluang di tengah perubahan ekonomi global.
Tak hanya menghadirkan perspektif akademik, forum yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UT ini juga membawa pembahasan tersebut lebih dekat dengan kebutuhan nyata dunia usaha. Sebanyak 130 pemapar mengikuti sesi presentasi secara luring dan daring untuk membagikan gagasan, hasil penelitian, serta solusi terkait ketidakpastian ekonomi, transformasi digital, keberlanjutan, dan pertumbuhan inklusif.


Dari berbagai isu tersebut, kewirausahaan menjadi salah satu benang merah yang mendapat perhatian. M. Riza Adha Damanik, S.T., M.Si., Ph.D., IPU, Deputi Kewirausahaan Republik Indonesia yang mewakili Menteri UMKM, menilai UT memiliki posisi strategis dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Riza, perguruan tinggi memiliki peran penting untuk melahirkan generasi yang tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas. Pandangan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan ketika kampus memberikan ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensinya.
“Universitas Terbuka memiliki peran sangat strategis untuk melahirkan generasi-generasi unggul yang tidak saja mencari lapangan pekerjaan, tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas,” ujar Riza.
Peran tersebut menjadi semakin relevan melihat karakteristik mahasiswa UT yang tersebar di berbagai daerah dan berasal dari beragam latar belakang. Dalam keterangannya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UT, Dr. Meirani Harsasi, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa student body UT saat ini mencapai sekitar 850.000 mahasiswa, dengan sekitar 85–87 persen di antaranya merupakan pekerja. Di antara mereka juga terdapat banyak mahasiswa yang telah menjalankan usaha.


Karena itu, akses pendidikan yang fleksibel di UT tidak berhenti pada kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Kampus juga berupaya menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan usaha melalui pendampingan dan pendanaan UMKM setiap tahun, termasuk melalui penguatan laboratorium dan inkubator bisnis.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya UT agar pendidikan memiliki dampak yang lebih luas. Mahasiswa tidak hanya memperoleh kompetensi akademik, tetapi juga didorong untuk memiliki keberanian dan kemampuan dalam menciptakan peluang ekonomi.
“Harapannya, perguruan tinggi itu akan menghapus stigma bahwa lulusan perguruan tinggi khususnya S1 itu sebagai penyumbang pengangguran,” kata Meirani.
Semangat itu kemudian diterjemahkan lebih konkret melalui Program Studi Kewirausahaan UT. Program studi yang baru berjalan tiga semester tersebut telah dibuka di 10 UT Daerah dan kini memiliki 1.026 mahasiswa. Kurikulumnya dikembangkan dengan melibatkan pemangku kepentingan dari pemerintah dan industri agar kompetensi lulusan tetap selaras dengan kebutuhan dunia usaha, termasuk melalui praktik dan magang.
Dengan demikian, ISBEST 2026 tidak sekadar menjadi ruang bertukar gagasan. Forum ini memperlihatkan bagaimana pendidikan tinggi dapat menjadi jembatan antara pengetahuan, keterampilan, dunia usaha, dan kebutuhan masyarakat.
Gagasan tersebut sekaligus sejalan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui perluasan akses pembelajaran dan pengembangan kompetensi. Penguatan kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja juga mendukung SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, sementara keterlibatan pemerintah, akademisi, industri, dan mitra internasional mencerminkan semangat SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang gelar, tetapi juga kemampuan untuk bergerak, beradaptasi, dan menciptakan peluang. Melalui ISBEST 2026 dan penguatan ekosistem kewirausahaan, UT mendorong mahasiswa agar tidak hanya siap menjadi pencari kerja, tetapi juga tumbuh sebagai pencipta peluang dan lapangan kerja.



