Ada momen-momen dalam hidup ketika seseorang duduk berhadapan dengan dirinya sendiri—hanya ditemani layar komputer, secercah ide, dan tekad untuk tidak berhenti. Dari momen-momen sunyi itulah lahir keberanian yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain, tetapi justru menjadi penentu arah masa depan.
Bagi Imam Pesuwaryantoro, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka (UT) Jakarta, perjalanan menuju panggung internasional dimulai dari momen-momen sederhana seperti itu. Tidak dengan sorak-sorai, tidak dengan fasilitas mewah, melainkan dengan konsistensi yang ia bangun perlahan dalam kesibukan sehari-hari.
Sebagai mahasiswa UT yang menapaki jalannya secara mandiri—belajar secara fleksibel, bekerja di sela waktu, dan tetap aktif terlibat dalam kegiatan sosial—Imam terbiasa menghadapi tantangan secara mandiri. Ia tahu bahwa tak ada jalur belajar yang benar-benar mulus, tetapi selalu ada ruang untuk tumbuh ketika seseorang berkomitmen pada impiannya.

Dan pada 2025, perjalanan panjang itu mencapai titik yang luar biasa. Namanya diumumkan sebagai Juara 1 The Best Youth Innovation Speakup Forum at JIYIS 2025 di Tokyo, Jepang—sebuah pengakuan internasional yang menandai lahirnya inovator muda Indonesia yang bersinar dari ruang belajar fleksibel UT.
Penghargaan itu diberikan menjelang pelaksanaan Japan Peace and Innovation Summit 2025, forum internasional yang mempertemukan pemimpin muda dari berbagai negara untuk bertukar gagasan dan memperkuat kolaborasi. Imam meraih pengakuan tersebut berkat inovasi digitalnya, JasaMediaRilis.com, sebuah platform media aggregator yang ia bangun untuk mempermudah publikasi rilis berita secara cepat, terintegrasi, dan terjangkau.
Yang membuat kisah ini semakin istimewa adalah tempat lahirnya ide tersebut: sebuah tugas mata kuliah Teknik Public Relations semester 8 di UT Jakarta.
Dari tugas kuliah yang dikerjakan di sela rutinitas, Imam melihat peluang yang tidak hanya relevan, tetapi juga berdampak sosial. Ia melihat bagaimana komunitas, UMKM, dan kampanye sosial kerap kesulitan mendapatkan akses publikasi. Dan melalui platform inilah ia menghadirkan solusi nyata.
“Saya percaya bahwa komunikasi yang efektif adalah kunci perubahan sosial. JasaMediaRilis.com hadir untuk menjembatani kebutuhan publikasi kampanye sosial, komunitas, dan UMKM agar lebih terdengar di ruang publik,” ujar Imam, yang juga aktif sebagai penggerak kampanye lingkungan Merdeka Sampah.
Inovasi Imam menunjukkan bahwa kreativitas tidak harus lahir dari lingkungan yang serba ada—ia bisa tumbuh dari ruang belajar apa adanya, selama ada kemauan untuk bereksperimen.
Keunggulan Universitas Terbuka—dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel—memberikan ruang bagi mahasiswa seperti Imam untuk mengembangkan diri tanpa harus meninggalkan tanggung jawab lainnya. Fleksibilitas inilah yang membuatnya bisa menjalankan banyak peran sekaligus: mahasiswa, kreator digital, aktivis sosial, dan inovator muda.
Ruang belajar UT tidak dibatasi lokasi dan waktu. Dan bagi Imam, itu adalah kesempatan emas untuk bermimpi lebih tinggi—tanpa harus memilih antara kuliah atau pekerjaan, antara belajar atau berkarya.
Inilah mengapa inovasi Imam tidak hanya berdampak pada komunitas lokal, tetapi juga selaras dengan agenda global. JasaMediaRilis.com mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, Infrastruktur) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui platformnya, ia memperluas akses informasi, memperkuat hubungan lintas sektor, dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Selama tiga hari di Tokyo, Imam akan mengikuti rangkaian SDGs Youth Comprehensive Training, konferensi internasional, presentasi akademik, hingga Gala Diplomatik bersama figur-figur global yang berkomitmen mendorong perubahan sosial. Di sana, ia tidak hanya membawa inovasinya, tetapi juga membawa cerita tentang daya juang mahasiswa Indonesia.
Kehadirannya sebagai delegasi Indonesia menjadi bukti bahwa mahasiswa UT—yang belajar dari berbagai latar belakang dan kondisi—memiliki kapasitas untuk bersaing di tingkat global. Bahwa ruang belajar fleksibel dapat mencetak inovator yang kritis, adaptif, dan peka terhadap kebutuhan masyarakat.
Kisah Imam bukan hanya tentang prestasi. Ini adalah kisah tentang ketekunan, tentang keberanian untuk mulai dari yang kecil, dan tentang pendidikan yang memberikan ruang bagi siapa pun untuk tumbuh sesuai ritme hidupnya.
Perjalanannya ke Jepang adalah perjalanan membawa harapan: harapan bahwa suara pemuda Indonesia tidak hanya terdengar di tanah air, tetapi juga dalam percakapan global mengenai masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.

Dan ketika namanya disebut sebagai pemenang, itu bukan hanya kemenangan Imam. Itu adalah kemenangan bagi semua mahasiswa yang percaya bahwa impian besar bisa tumbuh dari mana saja—termasuk dari ruang belajar yang terbuka, luwes, dan penuh kesempatan seperti UT.
Sebuah bukti bahwa anak muda Indonesia tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap memimpin perubahan.



