Di banyak tempat, profesi dokter sering identik dengan prestise. Jas putih. Gelar panjang. Jadwal sibuk. Tetapi di Nusa Tenggara Timur (NTT), ada cerita lain tentang seorang dokter yang justru memilih bertahan di tempat yang bagi sebagian orang dianggap “terlalu jauh” untuk dijadikan rumah pengabdian.
Namanya dr. Katharina Primarti Sokakeraf, SpPD, FINASIM, SA.
Sudah lebih dari dua dekade, langkahnya nyaris tak pernah jauh dari lorong-lorong RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Rumah sakit rujukan terbesar di NTT itu menjadi saksi bagaimana dr. Katharina melewati ribuan pasien, ruang gawat darurat yang tak pernah benar-benar tidur, hingga berbagai dinamika pelayanan kesehatan di wilayah timur Indonesia.
Padahal, hidupnya bermula jauh dari suasana itu.
Lahir di Jakarta pada November 1968, dr. Katharina tumbuh di lingkungan pendidikan yang cukup nyaman. Ia menempuh pendidikan di SD dan SMP Katolik Marsudirini Jakarta, lalu melanjutkan sekolah di SMA Santa Ursula (SANUR). Selepas itu, jalur akademiknya berjalan mulus ketika diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dan menamatkan pendidikan dokter pada 1994.
Namun setelah lulus, hidup membawanya ke arah yang tak banyak dipilih orang.
Alih-alih menetap di kota besar dengan fasilitas lengkap, dr. Katharina justru mengambil jalan pengabdian ke Kabupaten Lembata sebagai dokter PTT pada 1995 hingga 1998. Di wilayah kepulauan itulah ia mulai bersentuhan langsung dengan realitas pelayanan kesehatan yang sesungguhnya—akses terbatas, fasilitas yang belum ideal, dan masyarakat yang membutuhkan tenaga medis bukan cuma sebagai dokter, tetapi juga sebagai tempat bergantung.
Pengalaman itu rupanya meninggalkan jejak yang dalam.
NTT kemudian bukan lagi sekadar tempat bekerja, melainkan ruang hidup yang membuatnya memutuskan untuk terus tinggal dan mengabdi. Sejak 1999 hingga sekarang, dr. Katharina tercatat sebagai Aparatur Sipil Negara di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang.
Perjalanan pengabdiannya pun tidak singkat. Ia pernah dipercaya menjadi Kepala Instalasi Gawat Darurat RSUD Johannes pada tahun 2000. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali mendapat amanah memimpin Unit Hemodialisa pada periode 2018–2021. Kini, ia masih aktif sebagai staf SMF Penyakit Dalam.
Yang menarik, di tengah kesibukan sebagai dokter spesialis, dr. Katharina ternyata belum selesai dengan proses belajar.
Di saat banyak orang seusianya mulai memilih menikmati ritme hidup yang lebih tenang, ia justru memutuskan kembali menjadi mahasiswa. Pilihannya jatuh kepada Universitas Terbuka Kupang dengan mengambil Program Studi S1 Ilmu Hukum.
Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Bagi dr. Katharina, dunia kesehatan hari ini tidak hanya bicara soal diagnosis dan pengobatan. Ada aspek hukum, hak pasien, etik pelayanan, hingga perlindungan tenaga kesehatan yang juga penting dipahami. Menariknya, sistem pembelajaran fleksibel yang diterapkan UT membuatnya tetap bisa kuliah tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai dokter dan pendidik.
Di sela aktivitas pelayanan kesehatan, ia tetap dapat mengikuti proses belajar dengan ritme yang menyesuaikan kehidupan profesionalnya.
Semangat belajar itulah yang kini ikut ia tularkan kepada mahasiswa. Selain aktif melayani pasien, dr. Katharina juga mengajar di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Kupang serta menjadi pengajar lepas di Universitas Citra Bangsa pada Program Studi Farmasi.
Di tengah dunia yang serba cepat dan mudah membuat orang lelah, dr. Katharina menunjukkan satu hal sederhana: bahwa pengabdian tidak selalu harus hadir dengan sorotan besar. Kadang, ia hidup diam-diam—di ruang periksa rumah sakit, di sela jadwal kuliah, dan pada keputusan untuk tetap bertahan melayani masyarakat yang membutuhkan.


