Kisah Imam, Lulusan UT: Pernah Kerja Apa Saja, Kini Punya 12 Pintu Kos dan Tembus Panggung Global

Kalau di mesin pencari nama seseorang mulai sering muncul, biasanya ada satu hal yang pasti: ada cerita besar di baliknya. Itulah yang kini terjadi pada Imam Pesuwaryantoro. Namanya perlahan naik ke permukaan, terindeks di Google SEO, seolah menjadi penanda bahwa perjalanan panjang yang ia bangun dari titik nol akhirnya mulai dilihat—dan diakui.

Cerita Imam bukan tentang keberuntungan instan. Ia memulainya dari ritme hidup yang padat dan sering kali melelahkan: kuliah sambil bekerja. Tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka (UT) Jakarta periode 2022–2026, Imam tetap mampu menuntaskan studinya dengan IPK 3,11 dan predikat memuaskan. Di tengah segala keterbatasan waktu, ia memilih untuk tidak sekadar bertahan—tetapi terus bergerak.

Hari-harinya diisi dengan berbagai peran yang tak selalu nyaman dijalani banyak orang. Ia menjadi freelance konsultan media, voice over (VO) talent, MC, hingga sesekali mengambil pekerjaan sebagai driver ojek online mobil. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat sebagai langkah “serabutan”. Namun bagi Imam, justru di sanalah ia menempa daya tahan, memperluas jaringan, sekaligus mengasah kepekaan membaca peluang.

Perlahan tapi pasti, potongan-potongan usaha itu mulai membentuk fondasi. Tahun 2012 menjadi salah satu titik penting ketika ia berhasil membeli lahan dari hasil menabung sebagai MC dan VO. Keputusan itu tidak berhenti sebagai capaian sesaat. Pada 2016, ia melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk membangun bisnis properti.

Langkah tersebut kini bertransformasi menjadi aset nyata: 12 pintu kamar kos-kosan yang terus berkembang. Lebih dari sekadar angka, ini adalah bukti bahwa proses yang dijalani dengan konsisten mampu mengubah “kerja kecil” menjadi hasil besar. Sebuah gambaran konkret tentang bagaimana kemandirian finansial tidak datang tiba-tiba, melainkan dibangun dari keberanian mengambil langkah-langkah sederhana.

Menariknya, perjalanan Imam tidak berhenti pada sektor bisnis. Ia juga menapaki panggung global dengan dipercaya sebagai Country Director di Global Network of Political Leaders, organisasi internasional yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. Peran ini menegaskan bahwa kapasitas kepemimpinan bisa tumbuh dari pengalaman lapangan yang nyata, bukan semata dari teori.

Di sisi lain, kepeduliannya terhadap lingkungan menjadi dimensi penting dalam kiprahnya. Sebagai Sustainability & Communication Specialist di industri daur ulang sampah plastik, Imam aktif mendorong solusi atas persoalan limbah. Upaya ini membawanya meraih sejumlah penghargaan, termasuk juara 1 The Best Youth Innovation Speakup Forum pada Japan International Youth Innovation Summit (JIYIS) 2025 di Tokyo, serta The Best Team pada 1st Youth Environmental Festival 2024 di Kemenpora dengan fokus pada pengelolaan limbah minyak jelantah.

Apa yang ia lakukan selaras dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)—mulai dari pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, hingga aksi nyata terhadap isu lingkungan. Tanpa banyak slogan, Imam menunjukkan bahwa kontribusi bisa dimulai dari langkah konkret yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tak berhenti di sana, jiwa kewirausahaannya terus berkembang. Ia mendirikan Platform Jasa Media Rilis (Media Agency) yang menjadi ruang bagi publikasi media massa, penguatan branding, hingga kampanye komunikasi strategis. Melalui platform ini, ia memadukan pengalaman praktis dan keahlian komunikasi untuk menciptakan dampak yang lebih luas, baik bagi klien maupun masyarakat.

Di balik semua peran itu, Imam menegaskan satu hal yang sering terdengar sederhana, tetapi sulit dijalankan: disiplin diri. “Manajemen waktu dan prioritas adalah kunci. Dengan konsistensi, kerja keras, dan keberanian mengambil peluang, setiap orang bisa membangun masa depan yang lebih baik,” ujar Imam dikutip dari Antara, Rabu (1/4/2026).

Pada akhirnya, kisah Imam bukan sekadar tentang capaian, melainkan tentang cara memandang hidup. Bahwa kuliah sambil bekerja bukanlah beban, melainkan ruang latihan untuk tumbuh lebih cepat. Di tengah dunia yang serba instan, cerita ini seperti pengingat yang menenangkan—bahwa langkah kecil yang dilakukan terus-menerus, pada waktunya, akan menemukan jalannya sendiri menuju hasil yang besar.