Tak Sekadar Juara, Mahasiswi UT ini Ubah Literasi Jadi Aksi Nyata

Di sela kuliah daring, membalas pesan pelanggan, dan membina latihan teater siswa SMA, Aal Lutfiyyaah Aulia tetap menyisakan ruang untuk satu hal yang ia yakini sebagai jalan hidup: literasi. Mahasiswi semester dua Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka itu menunjukkan bahwa pembelajaran jarak jauh dapat berjalan seiring dengan aktivitas berkarya dan berkontribusi.

Namanya mulai dikenal setelah meraih Juara I Duta Baca Kabupaten Kuningan. Kemenangan tersebut menjadi awal keterlibatan yang lebih luas. Ia bergabung dalam Paguyuban Duta Baca Kabupaten Kuningan dan aktif menggerakkan kegiatan literasi di lingkungannya.

“Setelah juara satu, saya berkomitmen berkontribusi di paguyuban duta baca Kuningan,” tuturnya saat diwawancarai kuninganmass.com, Rabu (25/2/2026).

Bagi Aal, literasi bukan sekadar kemampuan membaca atau berbicara di depan publik. Ia memaknainya sebagai proses membentuk cara berpikir, menyampaikan gagasan, dan mengambil keputusan. Ketertarikan itu tumbuh sejak lama, bahkan sebelum ia mengikuti ajang pemilihan.

Lahir dan besar di Desa Cihirup, Kecamatan Ciawigebang, Aal akrab dengan dunia seni dan komunikasi. Teater, membaca, menulis, fotografi, hingga public speaking menjadi bagian dari kesehariannya. Ketika memilih kuliah di UT, ia melihat fleksibilitas sebagai peluang untuk menjalankan banyak peran secara bersamaan.

“Selain kuliah di UT, saya juga aktif di literasi, teater, dan public speaking karena memang hobi di seni teater dan menyanyi,” ujarnya.

Perjalanan menuju gelar Duta Baca tidak selalu mudah. Masa karantina dipenuhi tugas dan tuntutan kreativitas. Salah satu tantangan terbesar datang saat ia harus membuat video literasi dalam waktu singkat. Ia memilih membuat film pendek sebagai pendekatan berbeda.

“Awal karantina banyak tantangan dan tugas. Saya mencoba membuat konsep film pendek sendiri,” katanya.

Keputusan tersebut menuntut manajemen waktu yang ketat. Pagi hari ia bekerja sebagai Admin dan Customer Service di Rumah Khitan. Di waktu lain ia membina ekstrakurikuler teater di SMAN 1 Ciawigebang, sesekali menjadi MC dan fotografer acara.

Dari kesibukan itu, ia mempraktikkan literasi dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak siswa membaca naskah dengan pemahaman, mendiskusikan makna cerita, serta berani menyampaikan pendapat melalui teater.

Menurutnya, membaca dan berdiskusi membentuk kepekaan sosial, sementara menulis dan berbicara melatih keberanian. Ajang Duta Baca menjadi ruang menguji nilai-nilai tersebut.

Persiapan dilakukan bertahap, mulai dari melatih public speaking, mempelajari etika, hingga memahami manajemen acara, di tengah peran sebagai mahasiswa dan pekerja.

“Persiapan cukup panjang. Melalui bimbingan pembina, saya jadi lebih percaya diri dan mampu menguasai materi,” paparnya.

Kisah Aal menunjukkan mahasiswa pendidikan jarak jauh memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Fleksibilitas pembelajaran memberi ruang untuk aktif di komunitas sekaligus membangun kapasitas diri.

“Selama ini saya harus mengatur waktu antara kuliah, pekerjaan, dan aktivitas lainnya,” pungkasnya.

Di balik gelar Duta Baca, terdapat proses panjang dan keberanian mencoba hal baru. Bagi Aal, literasi bukan hanya tentang membaca dunia, tetapi juga berperan di dalamnya.