Perluas Akses Pendidikan, UT Mataram Bangun Kolaborasi dengan Pemda dan Pesantren

Di tengah ritme hidup yang kian padat, keinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi sering kali harus berbenturan dengan realitas. Bagi sebagian masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB), kuliah bukan sekadar pilihan, melainkan peluang yang belum tentu mudah dijangkau. Dari situ, Universitas Terbuka (UT) Mataram mulai mengambil langkah—bukan sekadar hadir, tetapi benar-benar mendekat.

Melalui pendekatan yang lebih kolaboratif, UT Mataram kini menyiapkan strategi untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Fokusnya tidak lagi semata pada sosialisasi, melainkan membangun jejaring kemitraan yang mampu membuka lebih banyak pintu bagi calon mahasiswa dari beragam latar belakang.

Direktur UT Mataram, Ronny Basista, Ph.D., menegaskan bahwa penguatan kerja sama menjadi agenda prioritas dalam arah kepemimpinannya. Upaya ini mulai dijajaki dengan pemerintah provinsi hingga berbagai organisasi sosial kemasyarakatan sebagai mitra strategis.

“Ke depan kami sudah mulai menjajaki kerja sama dengan pemerintah provinsi dan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan,” terangnya, Selasa 17 Maret 2026.

Langkah menggandeng pemerintah daerah menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Bukan tanpa alasan, pemerintah daerah dinilai memiliki peran krusial dalam menjembatani kebutuhan masyarakat dengan akses terhadap pendidikan tinggi yang lebih terbuka dan merata.

Dalam konteks ini, UT Mataram melihat peluang besar untuk mendorong peningkatan kualifikasi pendidikan, khususnya bagi aparatur dan masyarakat umum yang belum menempuh pendidikan sarjana. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan solusi pendidikan yang lebih fleksibel dan relevan dengan kondisi masyarakat.

“Kami melihat potensi kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah cukup besar, terutama untuk meningkatkan pendidikan pegawai yang belum sarjana,” katanya.

Tidak berhenti di lingkup pemerintahan, langkah perluasan jangkauan juga dilakukan dengan menggandeng organisasi kemasyarakatan. Dengan jaringan yang dekat dan mengakar di masyarakat, organisasi sosial dinilai mampu menjadi penghubung efektif dalam membuka peluang pendidikan bagi kelompok yang selama ini belum terjangkau.

Pendekatan ini menghadirkan wajah pendidikan yang lebih inklusif—tidak lagi eksklusif atau terbatas, tetapi hadir sebagai kesempatan yang nyata bagi siapa saja yang ingin melanjutkan studi.

Di sisi lain, UT Mataram juga mulai memperluas kerja sama dengan lembaga pendidikan berbasis keagamaan, khususnya pondok pesantren. Potensi besar dari ekosistem pesantren menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengembangan kemitraan ini.

“Kami juga mulai menjalin kerja sama dengan berbagai pondok pesantren untuk membuka peluang pendidikan bagi para santri,” jelasnya.

Dengan jumlah santri yang besar, pesantren menjadi ruang strategis dalam memperluas partisipasi pendidikan tinggi. Sistem pembelajaran fleksibel yang dimiliki UT dinilai selaras dengan kebutuhan para santri yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa meninggalkan aktivitas mereka di lingkungan pesantren.

Upaya ini sekaligus sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin keempat tentang pendidikan berkualitas dan inklusif. Ketika akses semakin terbuka, pendidikan tidak lagi menjadi privilese, melainkan hak yang dapat dijangkau lebih luas oleh masyarakat.

Pada akhirnya, langkah yang dibangun UT Mataram bukan semata tentang angka, melainkan tentang membuka jalan. Jalan bagi mereka yang sempat tertunda, bagi yang belum memiliki kesempatan, dan bagi siapa pun yang masih menyimpan harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan.

Karena dari akses yang terbuka, lahir kemungkinan-kemungkinan baru—dan dari situlah kualitas sumber daya manusia di NTB dapat tumbuh, perlahan namun pasti.