Universitas Terbuka (UT) Kupang kembali membuktikan perannya sebagai kampus yang peduli pada masyarakat melalui kegiatan donor darah di Aula UT Kupang, Jumat (13/3/2026). Acara yang melibatkan mahasiswa, pegawai, dan mitra kampus ini tidak hanya menjadi wujud kepedulian sosial, tetapi juga memperlihatkan UT sebagai institusi pendidikan terbuka yang ingin memberikan manfaat nyata bagi semua kalangan.
Direktur UT Kupang, Albert Gamot Malau, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengabdian masyarakat yang dijalankan kampus. “Kegiatan ini tahun kedua kami selenggarakan. Karena kegiatan ini juga merupakan salah satu kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan kami berharap banyak orang dapat mengambil bagian untuk mendonorkan darahnya,” ujar Albert saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat. Ia menekankan bahwa aksi sederhana seperti donor darah memiliki dampak besar, karena setetes darah bisa menyelamatkan banyak nyawa.
Universitas Terbuka menargetkan pengumpulan sekitar 40 kantong darah, sedikit melebihi target Palang Merah Indonesia (PMI) sebanyak 37 kantong. Antusiasme peserta terlihat jelas, dengan lebih dari 40 orang mendaftar untuk mendonorkan darahnya. “Target dari PMI 37 kantong darah, tetapi sesuai data hari ini sudah lebih dari 40 orang yang mendaftar, sehingga jumlahnya sudah melebihi target PMI,” jelas Albert. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa UT mampu menggerakkan masyarakat dan civitas akademikanya untuk berpartisipasi dalam aksi sosial yang berdampak nyata.
Kegiatan donor darah ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDGs 3 terkait kesehatan yang baik dan kesejahteraan serta SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif. UT Kupang menunjukkan bahwa perannya lebih dari sekadar kampus pendidikan; melalui program-program sosial, UT hadir sebagai agen perubahan yang memperluas manfaat pendidikan ke ranah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam praktiknya, peserta mendaftar, menjalani pemeriksaan kesehatan singkat, dan mendonorkan darahnya di bawah pengawasan tenaga medis PMI. Prosesnya berjalan tertib dan lancar, sementara mahasiswa, pegawai, dan mitra kampus terlihat antusias serta bangga bisa berkontribusi. Kegiatan ini sekaligus menanamkan nilai kepedulian dan solidaritas, yang menjadi bagian dari pendidikan karakter yang dibangun UT di luar ruang kelas.
Albert berharap kegiatan donor darah ini akan terus berkembang dan melibatkan lebih banyak masyarakat setiap tahunnya. “Kami berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk mendonorkan darahnya guna membantu sesama yang membutuhkan,” ujarnya. Dengan demikian, Universitas Terbuka menegaskan perannya sebagai kampus terbuka yang tidak hanya memberikan pendidikan berkualitas tanpa batas, tetapi juga mendorong partisipasi aktif civitas akademika dan masyarakat dalam aksi sosial, sehingga manfaatnya terasa lebih luas dan nyata.



