Di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Madiun, ada ruang kecil yang menyimpan harapan besar. Di sanalah sejumlah warga binaan tekun membuka modul, berdiskusi, dan mengerjakan tugas kuliah. Siang itu, Dinas Pendidikan bersama Universitas Terbuka Surabaya datang melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) untuk memastikan perjalanan akademik para mahasiswa di dalam lapas tetap berada di jalur yang tepat.
Program S1 yang kini telah memasuki semester lima ini merupakan hasil kolaborasi Lapas I Madiun dengan Universitas Terbuka. Namun lebih dari sekadar kerja sama administratif, UT hadir sebagai jembatan utama yang membuka akses pendidikan tinggi tanpa batas ruang dan status. Melalui sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh, UT memfasilitasi siapa pun, termasuk warga binaan, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih gelar sarjana. Dukungan beasiswa dari Pemerintah Kota Madiun semakin memperkuat langkah ini.
Bagi UT, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas konvensional. Sistem fleksibel yang dirancang memungkinkan proses belajar tetap berjalan di lingkungan dengan keterbatasan sekalipun. Modul cetak, tutorial, hingga evaluasi akademik disesuaikan tanpa mengurangi standar mutu. Dalam Monev tersebut, tim dari UT meninjau langsung progres perkuliahan, kualitas pembelajaran, serta kesiapan mahasiswa menghadapi semester lanjutan.
Kepala Lapas I Madiun, Andi Wijaya Rivai, menyampaikan apresiasinya atas konsistensi UT mendampingi para warga binaan hingga memasuki semester lima.
“Kami berkomitmen memberikan pembinaan yang komprehensif, salah satunya melalui akses pendidikan tinggi agar warga binaan memiliki kompetensi dan kepercayaan diri saat kembali ke Masyarakat. Memasuki semester 5, kami melihat perkembangan yang sangat positif. Semangat belajar warga binaan patut diapresiasi. Kami berharap program ini melampaui capaian akademik dan turut membentuk karakter, kedisiplinan, serta pola pikir yang lebih baik,” ujarnya.
Semangat itu terasa nyata. Dari yang awalnya ragu memulai kuliah, kini para warga binaan mulai terbiasa dengan ritme akademik. Mereka belajar mengatur waktu, menyelesaikan tugas, dan berdiskusi layaknya mahasiswa di luar lapas. Di sinilah peran UT menjadi sentral, yaitu menghadirkan kurikulum terstandar nasional, sistem evaluasi yang kredibel, serta pendampingan akademik berkelanjutan.
Program ini juga sejalan dengan Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 yang menekankan penguatan pembinaan berbasis pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Namun dalam praktiknya, UT menjadi motor penggerak yang memastikan misi tersebut benar-benar terwujud dalam bentuk pendidikan tinggi yang inklusif.
Langkah ini sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 tentang Pengurangan Kesenjangan. UT membuktikan bahwa akses pendidikan tinggi dapat menjangkau kelompok rentan, memberikan kesempatan kedua, dan membuka jalan reintegrasi sosial yang lebih bermartabat.
Dari ruang kolaborasi di Lapas I Madiun, pesan tentang pendidikan tanpa batas itu menguat. Universitas Terbuka tidak hanya menghadirkan perkuliahan, tetapi juga harapan. Di tengah keterbatasan, UT memastikan mimpi menjadi sarjana tetap bisa diraih, karena pendidikan, pada akhirnya, adalah hak setiap warga negara.



