Universitas Terbuka (UT) meresmikan Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, sebagai Desa Binaan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Nasional pada Rabu (17/9/2025). Peresmian ini digelar di kawasan wisata Pantai Galung, sekaligus menjadi puncak perjalanan panjang program pemberdayaan masyarakat yang digagas UT sejak tahun 2021.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pejabat daerah, Forkopimda, akademisi, hingga tokoh masyarakat desa. Hadir di antaranya Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep H. Mohamad Iksan, S.Pd., M.T., Kapolres Sumenep, Komandan Kodim Sumenep, hingga Kepala Desa Juruan Daya Zumiasih, S.Pd. Dari pihak Universitas Terbuka turut hadir Direktur UT Surabaya, Dr. Suparti, M.Pd., serta perwakilan LPPM UT. Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan sinergi nyata dalam mendukung Desa Juruan Daya tumbuh sebagai desa wisata mandiri. Materi disampaikan oleh Plt. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja, dan Bisnis UT Prof. Rahmat Budiman, M.Hum., Ph.D., serta CEO PLLLLus asal Belanda, Erno de Korte, selaku narasumber program pengabdian kepada masyarakat (PkM) internasional.
Direktur UT Surabaya, Dr. Suparti, M.Pd., menegaskan bahwa Universitas Terbuka hadir bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga menumbuhkan kemandirian masyarakat. “Sejak 2021, kami hadir untuk mendampingi masyarakat agar mampu melihat potensi besar Pantai Galung dan menjadikannya destinasi wisata unggulan. Semua capaian ini merupakan hasil kerja bersama antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat,” ujarnya.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menyambut baik peresmian ini. Menurutnya, keberhasilan Juruan Daya menjadi desa binaan UT membuktikan bahwa kolaborasi yang konsisten bisa memberikan hasil yang berdampak langsung bagi masyarakat. “Kami sangat mendukung langkah Universitas Terbuka. Desa ini kini bisa menjadi contoh bagaimana kolaborasi mampu melahirkan desa wisata yang mandiri dan memberikan dampak nyata bagi ekonomi warga,” katanya.
Koordinator Tim PKM UT Surabaya, Sucipto, menjelaskan bahwa peresmian ini merupakan bukti konsistensi UT dalam membangun desa wisata berbasis potensi lokal. “UT ingin Desa Juruan Daya menjadi model desa wisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Melalui program ini, masyarakat bukan hanya menjadi objek, tetapi subjek utama yang berdaya, mampu mengelola, sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung,” tegasnya.
Sejak dimulainya program, berbagai capaian berhasil diraih. Pada 2023, UT menyusun site plan atau rencana tata pengembangan wisata Pantai Galung sebagai panduan strategis tata ruang dan aksesibilitas. Tahun 2024, UT bersama masyarakat membangun lima gazebo ikonik, mengadakan pelatihan digital marketing, hingga mendorong pengemasan produk lokal seperti keripik pisang dan terasi menjadi lebih modern. Pelatihan kepemanduan wisata juga disiapkan agar pemuda desa siap menjadi pemandu wisata yang profesional.


Tahun 2025 menjadi fase penting dengan tema besar Menuju Kemandirian Finansial. Fokusnya adalah inovasi wisata dan penguatan literasi ekonomi warga. Wahana permainan anak di pantai kini tersedia untuk menarik wisatawan keluarga, sementara masyarakat mendapatkan pembekalan literasi keuangan. Program Jejak Edukasi menjadikan Pantai Galung ruang belajar terbuka bagi anak sekolah, sedangkan Jembatan Bahasa Inggris melatih generasi muda agar percaya diri berinteraksi dengan wisatawan asing. Tidak hanya itu, terobosan ramah lingkungan juga diwujudkan dengan pemasangan solar cell sebagai sumber energi terbarukan di kawasan wisata.
Kepala Desa Juruan Daya, Zumiasih, S.Pd., mengaku bangga dengan capaian ini. “Masyarakat kini lebih percaya diri, berdaya, dan mampu mengelola potensi yang ada. Semua ini berkat pendampingan yang konsisten dari Universitas Terbuka,” katanya.
Program Desa Binaan Juruan Daya menjadi salah satu bentuk dukungan Universitas Terbuka terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kehadiran UT mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui program literasi keuangan dan Jembatan Bahasa Inggris, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) lewat pengembangan produk lokal dan peluang usaha wisata, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dengan pembangunan desa wisata berbasis potensi lokal, serta SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pemanfaatan solar cell sebagai energi terbarukan. Sinergi ini menunjukkan komitmen UT untuk tidak hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga menghadirkan keberlanjutan dan dampak nyata bagi masyarakat desa
Peresmian Desa Juruan Daya sebagai Desa Binaan Nasional Universitas Terbuka menandai awal babak baru, bukan akhir dari perjalanan. Desa ini diharapkan mampu menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain di Kabupaten Sumenep, khususnya dalam mengelola potensi wisata berbasis masyarakat. Melalui program ini, Universitas Terbuka kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang berdampak nyata, menghadirkan ilmu, inovasi, dan kebermanfaatan bagi seluruh lapisan masyarakat.


