PURWOKERTO – Perjalanan menuju wisuda selalu dipenuhi target: menyelesaikan tugas, melewati ujian, menuntaskan perkuliahan, hingga akhirnya sampai pada gelar yang selama ini diperjuangkan. Namun, di balik pencapaian itu ada perjalanan lain yang baru akan dimulai—membawa pengetahuan yang telah diperoleh untuk membaca perubahan dan menciptakan manfaat di tengah masyarakat.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam Seminar Akademik dalam rangka Wisuda Universitas Terbuka (UT) Purwokerto Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar di Gedung UT Purwokerto Lantai 4, Senin (5/10/2026). Mengusung tema “Peran Generasi Muda Akademis Dalam Menggerakan Inovasi Daerah dan Kemandirian Ekonomi Berkelanjutan”, seminar ini mengajak 875 calon wisudawan dan wisudawati melihat pendidikan bukan sekadar jalan menuju gelar, melainkan bekal untuk membaca perubahan dan menghadirkan solusi.
Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si. mengatakan, tantangan yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), hingga transformasi dunia kerja dan ekonomi global menuntut lulusan perguruan tinggi untuk terus beradaptasi.
“Karena itu, dibutuhkan generasi muda yang mampu mengikuti perubahan tersebut, sekaligus memiliki kemampuan menciptakan inovasi dan memberikan kontribusi nyata. Universitas Terbuka memiliki komitmen membuka akses pendidikan seluas-luasnya,” kata Prasetyarti.
Menurutnya, tantangan tersebut sekaligus membuka ruang bagi alumni untuk mengambil peran lebih besar. Dengan pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang telah dibangun selama menempuh pendidikan, lulusan UT memiliki modal untuk membaca potensi di sekitarnya sekaligus merespons persoalan yang dihadapi masyarakat.
Di titik inilah, persoalan tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang menghambat. Sebaliknya, masalah di tengah masyarakat maupun potensi yang dimiliki daerah dapat menjadi ruang untuk mencoba gagasan baru, bereksperimen, lalu melahirkan inovasi yang berdampak.
“Kami harap alumni punya kesadaran dan kepekaan sesuatu yang lebih besar lagi, pengalaman dan jejaring untuk menciptakan perubahan,” ujarnya.
Namun, menggerakkan inovasi dan membangun kemandirian ekonomi daerah tentu bukan pekerjaan satu pihak. Kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan generasi muda dibutuhkan untuk membangun ekosistem yang mampu mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Perspektif tersebut diperkaya melalui kehadiran dua narasumber dengan latar belakang berbeda. Prof. Dr. Icuk Rangga Bawono, Guru Besar FEB Unsoed, membawakan materi “Re-Think, Re-Use, Re-Grow: Arah Baru Inovasi Daerah dalam Perspektif Green Economic” yang mengajak peserta melihat pembangunan daerah melalui pendekatan ekonomi hijau.
Sementara itu, Customer Success Associate–Kinobi Najla Afiyah Hijrina Hadiyansah membawakan materi “Empowering Potential to Driving Innovation”, yang menekankan pentingnya pemberdayaan potensi sebagai pijakan untuk mendorong lahirnya inovasi.
Dua perspektif tersebut mempertegas satu pesan, yaitu pendidikan tidak berhenti ketika ijazah diterima. Justru setelah gelar disandang, tanggung jawab untuk memberi arti menjadi semakin besar.
Karena itu, para calon lulusan UT Purwokerto didorong membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan. Mereka diharapkan berani melihat peluang, peka terhadap persoalan, berani mencoba, dan mengubah gagasan menjadi aksi yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Semangat tersebut sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) sekaligus SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Sebab, pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang melangkah, tetapi tentang seberapa jauh ilmu yang dimilikinya mampu ikut menggerakkan perubahan.



