PADANG — Pendidikan menemukan maknanya ketika pengetahuan tidak berhenti sebagai capaian pribadi, tetapi berubah menjadi tindakan yang memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Menjelang prosesi wisuda, Universitas Terbuka (UT) Padang membawa pesan tersebut ke dalam Seminar Terbuka bertema “Dari Pengetahuan Menjadi Ketangguhan: Pendidikan, Lingkungan, dan Mitigasi Bencana untuk Masa Depan Berkelanjutan” di Pangeran Beach Hotel, Sabtu (3/10/2026).
Seminar yang diikuti ratusan mahasiswa tersebut menjadi ruang bagi calon wisudawan untuk memperluas perspektif mengenai peran pendidikan dalam menghadapi persoalan nyata di masyarakat, khususnya isu lingkungan dan mitigasi bencana yang memiliki relevansi kuat dengan kondisi Sumatera Barat.
Direktur UT Padang, Mery Berlian, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memperkaya pengetahuan sekaligus memahami bagaimana ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat diterapkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Hari ini kita berkumpul memperkaya pengetahuan dan besok kita akan melaksanakan Wisuda UT Padang,” kata Mery dalam sambutannya.
Menurut Mery, Sumatera Barat memiliki kekayaan sumber daya alam sekaligus potensi ancaman bencana yang membutuhkan kesiapan masyarakat. Dalam kondisi tersebut, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi perlu membangun kesadaran yang mendorong masyarakat untuk mampu mengenali dan merespons risiko.
“Pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Pengetahuan harus mampu bertransformasi menjadi kesadaran. Kesadaran harus menjadi kesiapsiagaan,” tegasnya.
Pandangan tersebut memperluas makna capaian akademik yang akan dibawa para calon wisudawan. Gelar yang diperoleh bukan hanya penanda keberhasilan menyelesaikan pendidikan, tetapi juga bekal untuk mengambil peran dalam menjawab persoalan di lingkungan masing-masing.
“Pesan ini sangat penting, gelar yang diterima bukan proses akhir belajar, namun membawa tanggung jawab baru dan hadir di tengah masyarakat dari apa yang telah diperoleh dari UT,” ujarnya.
Penerapan pengetahuan itu dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti mengenali risiko bencana di lingkungan tempat tinggal, membangun kepedulian terhadap lingkungan, hingga membantu masyarakat memperoleh informasi kebencanaan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Harapan tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu, yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi peningkatan pengetahuan dan kapasitas masyarakat. Pada saat yang sama, kesadaran terhadap lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana turut berkaitan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, yang mendorong terwujudnya masyarakat dan lingkungan yang lebih aman serta tangguh.
“Kami berharap mahasiswa menjadi agen perubahan, membangun kepedulian terhadap lingkungan, memahami risiko bencana di tempat tinggal, dan menyebarkan informasi yang benar,” lanjut Mery.
Perspektif mengenai kesiapsiagaan kemudian diperdalam oleh Andi Syukri, engineer and researcher in earthquake engineering sekaligus dosen Teknik Sipil Politeknik Negeri Padang (PNP). Dalam diskusi interaktif yang dipandu Moderator Jayanti Armida Sari, Andi mengajak peserta memahami bencana sebagai risiko yang perlu dikenali dan diantisipasi, bukan semata-mata persoalan yang ditangani setelah terjadi.
“Bencana itu ada di samping kita, kita akan berdampingan dengan bencana. Bencana itu terjadi jika bersinggungan dengan ekonomi dan infrastruktur,” ungkap Andi.
Karena itu, kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi. Masyarakat, termasuk civitas akademika, perlu memiliki kesadaran untuk membaca kondisi lingkungan, memahami potensi risiko, serta mengambil langkah pencegahan yang sesuai.
“Harus mawas diri terhadap situasi bencana. Kita harus mempersiapkan diri sebelum terjadi bencana, tidak hanya berfokus pada penanggulangan saja,” pungkasnya.
Melalui seminar tersebut, UT Padang menempatkan pendidikan sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh. Bagi calon wisudawan, pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian akademik, tetapi berlanjut menjadi kepedulian, kesiapsiagaan, dan tindakan nyata di lingkungan tempat mereka berada.



