Apa yang selama ini dianggap sebagai sisa ternyata masih bisa memberi kehidupan. Di Kampung Sampay, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, sisa tanaman dan hasil panen yang kerap berakhir sebagai limbah mulai diubah menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman. Dari sana, pekarangan rumah pun perlahan menjadi ruang produktif yang bisa menghasilkan sayuran untuk keluarga.
Perubahan sederhana itu menjadi fokus Tim Universitas Terbuka (UT) Bogor melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama Kelompok Tani Bina Harapan 2 Kampung Sampay. Bukan sekadar mengajarkan cara membuat kompos, program ini menawarkan solusi yang bisa diterapkan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang memang sudah tersedia di lingkungan mereka.
Melalui kegiatan “Pemberdayaan Masyarakat Kampung Sampay dalam Memanfaatkan Sisa Panen Menjadi Kompos dan Pemanfaatannya untuk Bertanam Sayuran di Pekarangan” yang berlangsung pada 14 Juli 2026, sebanyak 30 anggota kelompok tani diajak mengolah sisa panen dan sampah organik menjadi kompos, kemudian memanfaatkannya untuk budidaya sayuran di pekarangan rumah.
Ketua Tim PkM Universitas Terbuka, Nurhasanah, mengatakan pendekatan tersebut diarahkan untuk mengubah cara masyarakat memandang limbah organik. Menurut dia, sisa panen tidak harus berakhir sebagai sampah karena masih dapat diolah dan dikembalikan untuk mendukung kegiatan bercocok tanam.
“Kami ingin mendorong masyarakat agar tidak melihat sisa panen sebagai sampah yang harus dibuang. Sampah organik atau sisa panen yang tersedia di sekitar dapat diolah menjadi kompos dan kemudian dimanfaatkan kembali untuk bertanam sayuran,” ujar Nurhasanah kepada Radar Bogor, Rabu, 16 September 2026.
Solusi yang dibawa UT juga dirancang agar tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Tim PkM menyerahkan satu unit mesin pencacah bahan organik kepada Kelompok Tani Bina Harapan 2 sebagai aset bersama. Mesin tersebut diharapkan membantu masyarakat mencacah sisa tanaman menjadi bahan yang lebih siap diproses menjadi kompos sekaligus mendukung keberlanjutan pengelolaan limbah organik setelah kegiatan berakhir .
Peserta juga diberi kesempatan mengoperasikan mesin secara langsung. Dengan begitu, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat segera diterapkan ketika musim panen menghasilkan lebih banyak sisa tanaman.
“Mesin ini kami serahkan sebagai aset bersama agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh anggota kelompok tani. Harapannya, setelah kegiatan selesai, masyarakat tetap dapat menggunakannya untuk mengolah sisa tanaman menjadi bahan baku kompos,” kata Nurhasanah.
Dampaknya mulai terlihat setelah program berjalan. Sejumlah peserta memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh untuk menanam sayuran di pekarangan rumah menggunakan polybag, tanpa harus bergantung pada lahan yang luas. Pola tersebut menciptakan siklus sederhana: sisa tanaman diolah menjadi kompos, kompos digunakan untuk menyuburkan tanaman, dan hasilnya kembali dimanfaatkan sebagai sumber pangan keluarga.
Bagi masyarakat, pendekatan ini menawarkan lebih dari sekadar cara mengurangi sampah. Pendekatan ini tidak hanya membuka peluang untuk mengurangi limbah organik, tetapi juga memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah dan mendukung pemenuhan sebagian kebutuhan sayuran keluarga.
Nurhasanah berharap pola yang telah dimulai itu tidak berhenti setelah program selesai.
“Kami berharap masyarakat terus melanjutkan kegiatan ini. Sisa tanaman, terutama ketika musim panen, jangan langsung dianggap sebagai sampah. Mari diolah menjadi kompos dan digunakan kembali untuk menyuburkan tanaman,” tuturnya.
Dari Kampung Sampay, UT menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, perubahan justru berawal dari apa yang tersedia di sekitar: sisa panen diolah menjadi kompos, kompos menyuburkan tanaman, dan pekarangan kembali menghasilkan pangan bagi keluarga. Sesuatu yang semula dianggap sebagai sisa pun menemukan manfaatnya kembali.



