TANGERANG SELATAN – Pelatihan membuat sabun bisa saja berakhir ketika produk selesai dicetak. Namun, Universitas Terbuka membawa pembelajaran itu lebih jauh. Warga belajar PKBM Surya Bangsa di Tangerang Selatan tidak hanya dikenalkan cara mengolah lerak menjadi sabun, tetapi juga dibekali keterampilan agar produknya lebih siap diperkenalkan ke pasar.
Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka (UT) memberikan pembekalan tersebut melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “From Nature to Nurture: Pelatihan Pembuatan dan Pengemasan Artisan Soap Lerak untuk Peningkatan Keterampilan Hidup dan Ekonomi Produktif Warga Belajar PKBM Surya Bangsa.”
Program ini dirancang bukan sekadar untuk mengenalkan pembuatan sabun berbahan alam. Warga belajar diarahkan memperoleh keterampilan yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut, mulai dari mengolah bahan, menghasilkan produk, hingga mendukung proses pemasaran.
Ketua Tim PkM Ayu Fahimah Diniyah Wathi mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan keterampilan praktis kepada warga belajar agar mampu mengolah bahan alam menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Tahap pertama pelatihan berlangsung pada 13 Juni 2026 di PKBM Surya Bangsa, Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangerang Selatan. Peserta mendapatkan materi pembuatan sabun berbahan lerak yang disampaikan Dola Suciana, kemudian mengikuti demonstrasi dan praktik pembuatan sabun yang dipandu Ayu.
“Lerak dipilih karena merupakan bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembersih,” kata Ayu dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/9).
Melalui praktik tersebut, warga belajar diperkenalkan dengan proses pengolahan ekstrak lerak hingga menjadi sabun yang berpotensi dikembangkan sebagai produk bernilai ekonomi.
Namun, kemampuan menghasilkan produk bukan menjadi satu-satunya bekal yang diberikan.
“Tak berhenti pada kemampuan memproduksi sabun, warga belajar juga mendapat pelatihan untuk menunjang pemasaran produk,” ungkap Ayu.
Pembekalan kemudian berlanjut pada tahap kedua yang digelar 12 September 2026. Kali ini, warga belajar mendapatkan keterampilan fotografi produk bersama praktisi fotografi produk Dhiah Rizkah Anggraeni.
Peserta mempelajari teknik dasar yang dapat menunjang tampilan produk, mulai dari penataan, pencahayaan, pemilihan latar belakang, komposisi, hingga sudut pengambilan gambar.
Keterampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kemampuan warga belajar. Produk yang telah dibuat tidak hanya berhenti sebagai hasil praktik, tetapi juga dipersiapkan agar dapat ditampilkan secara lebih menarik ketika diperkenalkan melalui media sosial maupun platform e-commerce.
Di titik inilah dampak pelatihan tidak hanya terlihat dari produk sabun yang berhasil dibuat. Warga belajar mendapatkan rangkaian keterampilan yang saling terhubung, dari memanfaatkan bahan alam, mengolahnya menjadi produk, hingga mengenal cara mendukung pemasarannya.
Ketua PKBM Surya Bangsa Wina Trsena Rahayu menilai pelatihan tersebut dapat menambah pengetahuan sekaligus keterampilan warga belajar yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan usaha.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga belajar untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mereka dalam mengembangkan usaha, khususnya dalam pembuatan sabun lerak,” ujar Wina.
Setelah pelatihan produksi dan pemasaran, program tidak langsung berhenti. Tahap selanjutnya adalah evaluasi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta dapat dipahami, diterapkan, serta dimanfaatkan.
Evaluasi juga diarahkan untuk melihat peluang pengembangan produk sabun lerak secara berkelanjutan setelah program PkM berakhir. Dari tahap ini, aspek yang masih perlu diperkuat dapat diidentifikasi agar keterampilan warga belajar memiliki ruang untuk terus dikembangkan secara mandiri.
Dengan demikian, kehadiran UT melalui program PkM ini memberikan bekal yang lebih luas daripada sekadar pengalaman membuat sabun. Warga belajar memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan hidup yang dapat dikaitkan dengan kreativitas, pengolahan bahan alam, serta kegiatan ekonomi produktif.
Dari lerak yang sebelumnya hanya dipandang sebagai bahan alam, warga belajar diajak melihat kemungkinan lain: mengolahnya menjadi produk, memahami cara menampilkannya, hingga mengenali langkah-langkah yang dapat mendukung pengembangannya. Bagi Universitas Terbuka, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan dan membuka ruang bagi warga untuk mengembangkan keterampilannya secara lebih mandiri.



