TANGERANG SELATAN, 15 September 2026 — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi tersebut, satu hal justru semakin penting: memastikan manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis.
Persoalan itu menjadi perhatian dalam Seminar Nasional Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (SEMNASIP) 2026 yang digelar Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka (UT), Selasa (15/9/2026). Mengusung tema “Masyarakat Digital dan Akal Imitasi dalam Kajian Ilmu Hukum, Sosial, Humaniora, dan Politik”, seminar tersebut membahas dampak perkembangan AI terhadap kehidupan sosial, hukum, humaniora, politik, hingga ekosistem informasi.
Perhatian terhadap isu AI juga terlihat dari tingginya partisipasi dalam forum tersebut. Selama periode submisi dua bulan, sebanyak 124 naskah ilmiah masuk dari mahasiswa, dosen, praktisi, masyarakat umum, serta peserta dari berbagai UT Daerah dan perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi dan penilaian, sebanyak 81 makalah dinyatakan diterima.
Ketua Pelaksana SEMNASIP 2026, Rosiana Nurwa Inda, SH, MA, mengatakan pemilihan tema seminar tidak terlepas dari disrupsi AI yang mengubah tatanan kehidupan sosial, hukum, dan ekosistem informasi secara fundamental. Karena itu, perkembangan teknologi perlu diikuti dengan kemampuan manusia untuk memahami sekaligus mengkritisi dampaknya.
Menurut Rosiana, forum tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mempersiapkan generasi intelektual yang adaptif, kritis, dan berintegritas dalam menghadapi tantangan di era kecerdasan buatan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan UT, dekan dan jajaran FHISIP, ketua program studi, direktur UT daerah, mitra, narasumber, peserta, serta seluruh panitia yang mendukung penyelenggaraan seminar.
Pesan tersebut sejalan dengan sambutan Wakil Dekan Bidang Akademik FHISIP UT, Dr. Irsanti Widuri Asih, S.Sos., M.Si., yang mewakili Dekan FHISIP UT. Ia menyebut seminar nasional ini memiliki empat tujuan utama, yakni meningkatkan wawasan mengenai isu terkini, mendorong interaksi keilmuan, mendiseminasikan hasil penelitian, serta membangun jejaring kolaborasi ilmiah yang lebih luas.
Irsanti juga mengapresiasi mahasiswa yang telah menyiapkan artikel ilmiah di bawah bimbingan dosen. Ia mendorong peserta untuk aktif dalam diskusi, mengajukan pertanyaan kritis, dan membangun gagasan bersama agar forum ilmiah tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi.

Saat membuka seminar, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UT, Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., menyoroti satu tantangan penting dalam penggunaan AI. Menurut dia, teknologi tersebut perlu digunakan dengan justifikasi dan pemahaman yang mendalam.
“Penulis harus membaca lebih banyak agar terhindar dari kesalahan kutipan atau informasi yang tidak valid,” ujar Rahmat.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital dan literasi media sosial bagi civitas akademika di tengah transformasi digital yang berlangsung cepat. Sejalan dengan itu, UT pada 2026 telah merampungkan peraturan rektor mengenai penggunaan artificial intelligence bagi mahasiswa dan tenaga kependidikan untuk menjaga integritas akademik.
Dari sisi pemanfaatan, Dr. Abdurrahman Rahim Thaha, M.A.B., menjelaskan bahwa AI dapat berperan sebagai “mentor digital” untuk mempercepat pengembangan kompetensi, termasuk membantu penulisan artikel ilmiah secara lebih efisien. Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan UMKM untuk mengatasi keterbatasan sumber daya melalui otomasi tugas administratif dan pemasaran.
Namun, kemudahan tersebut tetap membutuhkan kendali manusia. “AI bukan pengganti manusia, melainkan mitra (copilot) yang harus diposisikan secara bijak untuk meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan critical thinking,” kata Abdurrahman.
Sementara itu, Louise Shania Sabela, S.H., mengajak peserta melihat AI dari perspektif sosial. Ia membahas perubahan relasi sosial, akses informasi, dan distribusi kekuasaan dalam masyarakat digital, sekaligus mengkritisi technological solutionism atau kecenderungan menjadikan teknologi sebagai solusi instan bagi persoalan sosial yang kompleks.

Pada titik inilah SEMNASIP 2026 menemukan relevansinya. Ketika teknologi semakin mampu membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan, kemampuan untuk membaca, memahami, mempertanyakan, dan mengambil keputusan secara kritis justru menjadi semakin berharga.
Melalui forum ini, FHISIP UT tidak hanya membuka ruang untuk membicarakan masa depan AI, tetapi juga mengajak peserta merefleksikan bagaimana teknologi seharusnya digunakan. Upaya tersebut turut memperkuat semangat SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam membangun pembelajar yang adaptif dan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan daya kritisnya.



