Tiga Mahasiswa UT Purwokerto Olah Salak Banjarnegara Jadi Selai Premium, Berbuah Juara

PURWOKERTO — Dari buah yang kerap menghadapi persoalan harga saat panen raya, salak pondoh Banjarnegara justru menemukan jalan baru untuk naik kelas. Tiga mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Purwokerto yang tergabung dalam Pokjar Dr. Sukirman Banjarnegara mengolahnya menjadi selai premium bernama PURE SALACCA JAM.

Inovasi tersebut membawa Tim SALACCA meraih juara ketiga dalam Entrepreneur Competition 2026 yang digelar SEEO Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Tim ini terdiri dari Rahmalia Dewi, Okki Falikah Ramadhani, dan Rahma Nurchairani.

Bagi mereka, PURE SALACCA JAM bukan sekadar produk olahan buah. Di balik satu botol selai, ada persoalan yang dihadapi petani salak yang ingin mereka bantu jawab, terutama ketika panen raya membuat pasokan melimpah sementara harga justru turun.

“Awalnya kami melihat persoalan petani salak. Saat panen raya, harga bisa turun sampai Rp3.000 per kilogram dan sebagian buah tidak terserap sehingga berisiko busuk. Dari situ kami berpikir bagaimana salak bisa diolah menjadi produk yang punya nilai jual lebih tinggi,” kata Rahmalia Dewi, yang akrab disapa Rara.

Gagasan itu mulai dikembangkan sejak Juni 2026. Salak pondoh Banjarnegara yang digunakan tidak langsung masuk ke proses produksi. Buah terlebih dahulu diseleksi melalui tahap sortasi untuk memastikan bahan yang digunakan sesuai dengan standar produk.

Setelah itu, salak dimasak selama sekitar 60 menit. Proses dilanjutkan dengan pengemasan secara steril hingga pelabelan. Dalam satu kali produksi, Tim SALACCA mampu menghasilkan sekitar 18 botol selai dengan waktu pengerjaan kurang lebih empat jam.

Untuk menghasilkan cita rasa yang khas, PURE SALACCA JAM dibuat menggunakan salak pondoh, gula, air, jeruk nipis, dan kayu manis. Tim juga berupaya meminimalkan penggunaan pengawet dan pewarna buatan.

Sebelum dibawa ke arena kompetisi, produk tersebut lebih dulu diuji kepada 20 responden yang berasal dari organisasi, instansi, dan masyarakat. Masukan dari para responden kemudian digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menyempurnakan rasa dan kualitas produk.

Perjalanan PURE SALACCA JAM kemudian berlanjut ke Entrepreneur Competition 2026. Kompetisi tersebut diikuti mahasiswa aktif dari perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Tengah serta Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari sekitar 50 tim yang mendaftar, hanya lima tim yang berhasil melaju ke babak final. Presentasi final dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada 23 Agustus 2026, sedangkan pengumuman pemenang dilakukan pada 25 Agustus 2026.

Tim SALACCA akhirnya menempati posisi ketiga. Juara pertama diraih Nine Hundred dari UNSOED, sementara Soedirman Innovators dari UNSOED berada di posisi kedua.

Prestasi tersebut terasa semakin berarti karena inovasi yang dibawa tidak berhenti pada ambisi memenangkan kompetisi. Rahmalia dan Okki juga aktif dalam SERDADU (Sinergi Ekonomi Rakyat dan Kedaulatan Usaha), sebuah komunitas yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Langkah Tim SALACCA menunjukkan bahwa inovasi sederhana dapat membuka nilai baru bagi komoditas lokal. Ketika salak tidak hanya dijual sebagai buah segar, peluang untuk memperpanjang pemanfaatan hasil panen sekaligus meningkatkan nilai ekonominya pun terbuka lebih lebar.Upaya mengembangkan salak menjadi produk bernilai tambah ini jugaberpotensi membuka peluang usaha dan mendukung penguatan ekonomi lokal, sejalan dengan semangat SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Di sisi lain, pemanfaatan salak sebagai bahan olahan turut mendukung SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, karena hasil panen dapat dimanfaatkan lebih optimal dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, trofi juara ketiga mungkin hanya satu bagian dari perjalanan. Lebih jauh dari itu, PURE SALACCA JAM membawa pesan bahwa ketika sebuah masalah dilihat sebagai peluang, buah lokal yang semula rentan kehilangan nilai dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki cerita, daya saing, dan peluang ekonomi baru.