Sebanyak 612 mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Tarakan resmi dikukuhkan dalam prosesi wisuda di Gedung Tarakan Art Convention Center (TACC), Kampung Empat, Kota Tarakan, Minggu (23/8/2026). Para lulusan datang dari berbagai wilayah Kalimantan Utara, bahkan hingga kawasan perbatasan Malaysia.
Mereka terdiri atas 205 lulusan dari Kota Tarakan, 158 dari Kabupaten Bulungan, 120 dari Kabupaten Nunukan, 108 dari Kabupaten Malinau, 18 dari Kabupaten Tana Tidung, serta tiga orang dari wilayah Malaysia. Para lulusan tersebut menjadi bagian dari 7.906 mahasiswa aktif UT di Kaltara.
Kehadiran mahasiswa dari kawasan pelosok hingga perbatasan menjadi perhatian UT dalam memperkuat perannya di daerah 3T. Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., mengatakan UT memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan adaptif untuk mendukung pembangunan daerah perbatasan.
“UT adalah mitra strategis untuk melakukan akselerasi penyediaan SDM berkualitas, tangguh, dan adaptif bagi pembangunan daerah perbatasan,” kata Ali.
Untuk menjawab persoalan konektivitas, UT berkolaborasi menyediakan titik akses jaringan berbasis satelit. Dukungan ini memungkinkan mahasiswa mengikuti pembelajaran tanpa harus meninggalkan daerah asal maupun pekerjaan.
Upaya tersebut mendapat apresiasi dari Sekretaris Daerah Kota Tarakan Abdul Azis Hasan. Menurutnya, fleksibilitas perkuliahan UT juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Kehadiran UT membuka akses luas bagi pegawai untuk meng-upgrade ilmu pengetahuan, yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan publik,” ujar Abdul Azis.
Selain memperkuat akses pembelajaran, UT Tarakan mengembangkan layanan akademik berbasis teknologi. Salah satunya melalui ujian daring berbasis aplikasi mobile atau mobile-based online exam.
Direktur UT Tarakan Jeji Muhamad Najib, S.Kom., mengatakan layanan tersebut memberikan keleluasaan bagi mahasiswa untuk menentukan waktu dan tempat ujian secara mandiri.
“Layanan ini memberi fleksibilitas penuh bagi mahasiswa di pelosok daerah untuk menentukan waktu dan tempat ujian secara mandiri,” terang Jeji.
Model pembelajaran dan layanan akademik tersebut sejalan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam memperluas kesempatan belajar yang inklusif. Pada saat yang sama, upaya tersebut mendukung SDGs 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui pemerataan kesempatan pendidikan bagi masyarakat di wilayah yang menghadapi tantangan geografis.
Bagi para lulusan, jarak dan lokasi tempat tinggal tidak harus menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Dari Tarakan, Bulungan, Nunukan, Malinau, Tana Tidung, hingga kawasan perbatasan Malaysia, 612 nama yang dikukuhkan hari itu menjadi bagian dari perjalanan pendidikan yang berlangsung melampaui batas wilayah.



